 |
|
|
|
OPIJAZZ > KEMATIAN
oleh : Ceto Mundiarso
Adalah sebuah hal yang tidak dapat diduga-duga datangnya dan misterius
namun sudah pasti akan dialami oleh kehidupan. Sebuah kesadaran manusia
bahwa ia sangat tahu akan mati kelak namun selalu merasa takut, cemas
dan bersifat menghindari dalam mengahadapi kematiannya sendiri. Seperti
sebagian besar dan berbagai media massa di dunia ini yang dalam bulan
September, mengisi dominasi beritanya tentang kematian seorang "Mawar
dari Inggris" yang banyak di puja-puja di bumi ini. Namun apakah bahwa
kematian seorang puteri kerajaan akan sama yang dirasakan -kehilangan-
seperti kematian sebuah semangat kreatifitas akan sebuah karya seni bagi
para pemujanya?.
Musik jazz. Yang sudah kurang lebih 100 tahun sejak kelahirannya telah
mengalami berbagai metamorphosa yang dialektis akan perkembangannya sampai
kepada fase dekonstruksi dan tingginya minat kalangan industri musik untuk
"melestarikan"-nya. Ada sebuah hal yang menarik atas perkembangan musik
jazz yang unik ini. Jika apa yang seperti dialami oleh musik klasik dari
awal kemunculannya sejak jaman barouque beberapa ratus tahun yang lalu
sampai munculnya aliran Wina II pada awal abad ini yang melahirkan sebuah
ideologi avant-garde atau kalau di Indonesia dikenal dengan istilah musik
kontemporer, namun apa yang dialami oleh musik jazz dari awal abad ini
sampai tahun 1970an merupakan banyak hal yang menarik perhatian bagi para
kritisi musik di dunia ini. Hal ini relatif lebih singkat dibanding dengan
tradisi musik klasik. Namun sampai menjelang akhirnya abad ini, banyak
terjadi perdebatan tentang apa yang dialami nasib perkembangan musik jazz
itu. Karena semenjak tahun 1970an itu sendiri musik jazz sudah mengalami
stagnasi yang cukup fatal atau bahkan mengahadapi fase menjelang kematiannya
bagi pemerhatinya dari sudut pandang penganut filosof dan pengajar dari
Amerika Serikat John Dewey, tentang perubahan konstan dalam perkembangan
sebuah seni. Di lain pihak, sebuah tema yang cukup mengena mengenai musik
jazz dari kalangan konservatif adalah bahwa sekarang ini banyak musisi
jazz yang melakukan "pembedahan (mayat) secara dini" atau Premature Autopsy
(seperti yang diutarakan oleh Jeremiah Wright dalam liner note dalam albumnya
Wynton Marsalis yang berjudul The Mejesty Of The Blues) atau memperkecil
ruang gerak dengan formulasi Swing + Blues = Jazz.
Apa yang dilakukan oleh lembaga AACM ( Association For Advance Creative
Musicians) yang dikomandani oleh Muhal Richard Abrams bersama rekan rekannya
dengan misi ideologi jazznya dengan tema from the ancient to the future
as great black culture merupakan sebuah revitalisasi semangat kreatifitas
musik jazz untuk jangkauan ke masa depan. Dengan melihat bahwa unsur-unsur
blues sampai kepada gaya free funk atau di luar dikotomi musik jazz sekalipun
merupakan sebuah bentuk integritas untuk musik jazz di masa mendatang,
seperti Saxophonis Henry Threadgill dalam sebuah pernyataanya, " Sekarang
ini, musik jazz hanya menjadi salah satu perbendaharaan kosa kata saya
saja".
Didukung lagi dengan pernyataan salah satu tokoh musisi jazz postmodern,
John Zorn, dengan menyatakan bahwa sekarang ini tidak ada lagi hubungan
secara hirarki antara berbagai jenis musik yang ada, tidak ada lagi anggapan
musik klasik "lebih tinggi" dari musik jazz dan sebaliknya ataupun antara
jenis musik lainnya. Namun hal yang dilakukan oleh lembaga tersebut dapat
perlawanan dari Lincoln Center di New York yang sebagai Art Directornya
adalah Wynton Marsalis dan kritisi jazz Stanley Crouch, yang menuduhnya
sebagai "perusak" masa depan musik jazz sebagai karya seni yang dapat
disejajarkan dengan tradisi musik klasik Eropa. Dengan melihat tradisi
sebagai titik pandang untuk ekspresi individual, Wynton Marsalis mengecam
dengan keras adanya perkembangan musik jazz setelah era 1960an (free jazz
dan fusion) dan mengatakan bahwa hal tersebut bukan bagian dari musik
jazz dan bukan musik jazz itu sendiri. Di lain sisi, banyak perusahaan
rekaman besar yang "terlalu memanjakan" pasar sehingga dalam memproduksi
rekaman karya-karya musik jazz, keinginan pasar sudah terlalu banyak untuk
turut campur, sehingga dari sisi kreatifitas dan estetika banyak yang
diabaikan.
Di Indonesia sendiri, sekalipun itu memang musik dari luar, namun semangat
untuk meningkatkan kreatifitas dan mencoba untuk mengadakan transplatasi
dengan berbagai potensi antara semangat musik jazz dengan musik tradisional
dari berbagai daerah di Indonesia menjadi sebuah kecenderungan yang banyak
di lakukan oleh beberapa seniman yang berkaitan dengannya, seperti yang
dilakakan oleh Karimata, Krakatau, maupun Sapto Rahardjo dengan Andre
Jaume (musisi jazz dari Perancis). Selain hanya yang beberapa kalangan
musisi terperangkap dalam permainan tradisi mainstream semata tanpa polesan
yang lebih dalam lagi.
Kiranya perdebatan mengenai musik jazz tidak hanya muncul di tulisan ini
saja, namun mencakup berbagai hal yang berkaitan dengan masalah budaya,
sosial, ekonomi bahkan politik, selain dari perkembangan musikal dengan
apa yang disebut musik jazz itu.
Ada beberapa pertanyaan menarik yang selalu muncul di benak kita, apakah
sebuah karya seni selalu membutuhkan perubahan? Apakah sebuah karya seni
jika tidak mengalami perubahan (perkembangan) dikatakan sebagai seni yang
kaku atau mati? Bagaimanakah seharusnya bentuk perubahan tersebut? Apakah
masih ada batasan-batasan tertentu mengenai perubahan tersebut? Ataukah
memakai analogi dan pro kontra seperti dalam bukunya Francis Fukuyama
"The End Of History"? Atau lebih ekstrem lagi, apakah 'jazz' telah mati
beberapa saat setelah kelahirannya? Dan yang penting juga, apakah bagi
para pecinta musik jazz di Indonesia memang hal tersebut menjadi masalah,
kekuatiran, ataupun sesuatu yang hilang dari semangat musik jazz itu seperti
halnya perasaan banyak orang ketika mendengar berita tentang kematian
"puteri di hati semua orang" itu? (WJ)
Kembali ke Index OpiJazz
Kembali ke Halaman Depan
|
|
 |