FestivalJazz Goes to Campus

KIPRAH MUSISI MUDA DI ARENA 27th JGTC 2004

Pagelaran musik jazz kampus terbesar di Indonesia yang diselenggarakan oleh Mahasiswa FEUI ini memang padat kegiatan. Kompetisi Jazz yang diselenggarakan dua hari, 13 dan 14 Desember 2004 di Cosmo Food Plaza Semanggi telah menjadi agenda tersendiri bagi para musisi muda dan lapisan umum yang ingin menyalurkan bakatnya dalam musik jazz. Kompetisi yang sedikitnya sudah diselenggarakan untuk tahun ke-5 ini menghadirkan Idang Rasyidi, Gilang Ramadhan dan Ananda Mates sebagai juri yang menilai penampilan tiap peserta. Akhirnya dari 13 grup yang tampil, dipilih tiga pemenang – meski bukan berarti bahwa ketiga grup yang kemudian berhak tampil di acara puncak JGTC itu adalah yang terbaik segala-galanya, karena pada dasarnya musik tidaklah dapat diperlombakan – yaitu kelompok STARLITE sebagai Juara I, THREE TONES (#2) dan YAR (#3). Selain itu juri juga memilih para the best pada masing-masing instrumen; FAHRI awak band KUTIKULA sebagai drummer terbaik, VICTOR dari 90% band sebagai best bassist, TYO Three Tones sebagai best gitarist, OSMON Kutikula dengan gelar best pianist dan best instrumentalia dianugerahkan kepada ALSA Starlite.

Suasana pelataran parkir FE UI Depok saat JGTC 2004 kemarin
foto: dokumentasi WartaJazz.com

Starlite mengawali kegiatan di panggung B (B dari kata Besar) setelah FEUI Band – kelompok tuan rumah yang terdiri Indra 04 (drum ), duo vokal Meitha 02 dan Sistien 03, Bambang 03 (gitar), Donny 00 (bass), dan pemain keyboard Daniel 02 selesai menampilkan beberapa nomor standar. Jawara Jazz Competition yang terdiri dari drummer Alsa, Sheila (bass), Rieke (piano) dan guitaris Irvy ini menghadirkan empat komposisi dalam repertoar mereka. Meski hanya mempersiapkan diri hanya dua hari, Starlite tampil cukup berbeda dari dua juara lainnya dengan menampilkan lagu Balonku dan sebuah karya mereka sendiri; Light & Shine. Pengalaman dari kelompok yang mayoritas digawangi oleh murid LPM Farabi ini memang cukup mumpuni. Selain gelar di kompetisi jazz kali ini, Starlite juga pernah mengantongi juara tiga pada festival Budaya Jakarta yang diselenggarakan di TIM bulan September lalu, lengkap dengan best bassist dan best keyboards bagi personelnya. Selain itu Alsa yang baru berumur 11 tahun ternyata memegang piagam museum rekor Indonesia sebagai drummer wanita profesional termuda. Prestasi yang membanggakan dan merupakan langkah awal yang baik agar rencana mereka untuk dapat eksis di dunia jazz Indonesia dapat terlaksana.

***

Hampir bersamaan di panggung A juga tampil berturut-turut YAR dan Tree Tones membuka acara. YAR yang terdiri dari Remon (bass), Abi (perkusi), Doni (saxophone), Yoga (drum) dan Aga (gitar) selain membawakan lagu wajib On The Green Dolphine Street dan Chicken juga mengetengahkan Daddy Love. Nama grup YAR yang dicetuskan oleh Remon mengawali perjalanan kelompok ini dari perkenalan. Meski diakui oleh Bagas tidak ada yang kuliah (khusus musik?) dan belum tahu rencana kedepan grup mereka – karena merasa (YAR ) hanya band biasa saja tanpa scale tinggi – namun pencapaian mereka di kompetisi jazz kali ini sedikit banyak dapat menjadi modal untuk dapat eksis dan mungkin mencapai gebYAR di masa yang akan datang.

Harapan itu juga ada pada Three Tones yang di ajang kompetisi – Mira (piano dan vocal), Tyo (gitar), Anto (bass) dan Ade (drum) memainkan lagu wajib Green Dolphin dan L.O.V.E serta menambahkan Georgy Porgy, Fly Me to The Moon, Autum Leaves, You’ve Got A Friends dalam repertoar mereka di hari H pertunjukan JGTC. Perjalanan bermusik Tree Tones diawali dengan dimintanya Anto dan Mira oleh Otti Jamalus untuk membuat duet. Mereka kemudian sempat bermain regular di TC Kemang dan Upstairs Plaza Senayan dengan tambahan pemain sax bernama Dony (pemain sax band juara 3 kompetisi lalu). Dony lalu digantikan oleh Tyo (gitar) yang diikuti perubahan konsep Tree Tones menjadi sebuah band dengan tambahan Ade (drummer muda yang sempat belajar lama di Farabi dan IMI) dan Karina (vokalis, yang sayangnya tidak ikut dalam format JGTC kemarin). Berbeda dengan Yar, Anto mewakili Tree Tones dengan tegas menyebutkan rencana ke depan grup mereka untuk dapat bermain di café yang segmen nya sesuai agar jam terbang mereka bertambah, bermain di acara musik sekolah dan kampus serta membuat lagu sendiri. Semoga harapan itu tercapai dan kami selalu menunggu kabar kiprah Tree Tones selanjutnya.

***

Rayendra – drumer jebolan Berklee dan mulai sibuk wira-wiri
foto: dokumentasi WartaJazz.com

Membahas tentang kiprah eks Juara Jazz Competition, tentu kita dapat menyimak penampilan kembali KHAYANGAN di pentas JGTC. Kelompok yang tinggal terdiri dari Indra (Gitar), Mario (bass) dan Harde (drum) ini merupakan jawara kedua Jazz Competition tahun 2002. Setelah mendapat predikat itu, grup asal Kota Hujan Bogor ini sempat berkiprah regular di beberapa Café khusus lagu-lagu jazz mainstream dan standard serta menawarkan demo karyanya. Namun ternyata usaha menuju industri rekaman itu belum membuahkan hasil bahkan mereka lebih berencana membuahkan album pop dengan nama grup yang lain daripada sebuah rekaman instrumental. Hal itu diutarakan oleh Indra, yang menyebutkan bahwa kompetisi jazz FEUI ini dapat menjadi sarana penunjang yang efektif untuk karir sebuah band di panggung tapi indikasinya tidak mengarah sebagai penghantar ke industri rekaman. Namun Ia membenarkan bahwa pengaruh ajang ini bagi karir bermusik tiap personel pengaruhnya lebih signifikan. Sebut saja sekarang Indra di luar Khayangan aktif membantu penyelesaian album penyanyi Andien. Begitu juga kedua personel lainnya selain sering membantu dan terlibat dalam aktivitas musik di kotanya juga salah seorang – Harde – sibuk sebagai instruktur drum di sebuah sekolah Islam Internasional. Aktivitas yang padat itu tidak mematahkan rasa kebersamaan mereka seperti dapat dilihat ketika membawakan lagu-lagu John Scofield di panggung A dengan menampilkan Joseph sebagai additional keyboard.

Penampil muda yang juga menarik adalah kelompok Tomorow People Ensemble (TPE). Grup yang terdiri dari Nikita Dompas (gitar), Indra Perkasa (akustik bass), Adra Karim (rhodes & synth) dan Zulham (drum) mengetengahkan lagu-lagu yang mereka areansemen dengan energik. Suasana jazz berbalut rock dan funk tersebar dari penampilan TPE siang itu. Sebut saja di lagu pertama mereka, Chank dari John Schofield yang kemudian diikuti berturut-turut dengan komposisi Duke Ellington Caravan, Also Sprach Zarathustra sebuah komposisi Richard Strauss dari ost film Space from Oddisey, Paranoid Android – nya Radiohead dan ditutup dengan karya rock klasik Led Zeppelin, Whole Lotta Love. Terlihat pilihan setlist mereka sangat beragam seramai penampilannya yang juga dibantu oleh set brass section yang terdiri dari Indra Aziz (tenor sax), Bagus (trombone) dan Mundita (alto sax). Jelas mengundang penonton menggerakkan tubuh mereka. Congratz to TPE, harapan masa depan jazz Indonesia!

Selain grup yang full terdiri dari musisi muda, JGTC juga menampilkan kelompok kombinasi tua-muda. Sebut grup Cherokee yang terdiri dari gabungan musisi muda Rio Moreno (keyboard) dan Harry Toledo (bass) dengan musisi yang angkatannya lebih senior; Iwan Wiradz (perkusi), Kadek Rihardika (gitar) dan baru ini merekrut drummer senior yang sudah eksis di musik Indonesia sejak awal 80an – Cendy Luntungan. Sayang Cherokee yang tampil di pangung B JGTC tidak mengikutkan vokalis muda berbakat mereka. Setlist sore kemarin pun lebih dominan dengan lagu-lagu instrumental; Rool On, El Montuno, dan sebuah lagu OST film The God Father – The Winner of Your Heart – yang dibawakan kental dengan nuansa latin jazz. Hanya pada satu lagu standards peran Tompy dibackup oleh Danto – vokalis grup Pentatones.

Benny Likumahua – foto: dokumentasi WartaJazz.com

Pentantones sendiri juga merupakan grup yang terdiri dari musisi-musisi muda berbakat. Sebut nama Rayendra – drummer muda yang tahun lalu menyelesaikan pendidikannya di Berklee dan sekarang banyak terlibat dalam proyek musisi senior (seperti FunkyThumb-nya Yance Manusama, pentas regular di Jamz dengan Idang Rasyidi, membackup formasi panggung Rieka Roslan dan band pop ADA Band), bassist Barry Likumahuwa, Andre (gitarist yang pernah memperkuat grup co-P), Doni (piano) dan additional saxophone – Marlon. Penampilan Pentantones kemarin dapat masuk kedalam kombinasi senior – yunior juga karena mereka mentas mendampingi ayah Barry – musisi jazz Benny Likumahuwa. Mereka bersama-sama mengetengahkan My Favorite Things, All I Got – nya All Jarreau serta beberapa lagu lainnya yang diantaranya ciptaan mereka sendiri; komposisi berjudul Rafayefendrafa.

Sesaat setelah pertunjukan Benny bersama Pentatones sempat melakukan tanya jawab dengan sejumlah wartawan yang meliput JGTC 2004. Oom Benny – demikian ia akrab disapa – menjelaskan pendapatnya mengenai perkembangan Jazz di Indonesia yang disebutnya maju. Sekedar flashback, ia ingat (dan menceritakannya kembali ketika) sewaktu masih rutin tampil di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki bersama Alm. Jack Lesmana. Dengan kapasitas penonton berkisar 2.000 orang, tetapi pada pertunjukannya mereka hanya ditonton 3 orang. Oleh karena itu ia sangat senang dengan apresiasi anak-anak muda terhadap musik jazz pada saat ini. (Penonton yang hadir di JGTC jumlahnya memang ribuan – walau tak ada data resmi yang menyebutkan berapa ribu orang persisnya – red)

Gadis V memainkan saxophone – foto: dokumentasi WartaJazz.com

Lain lagi dengan penampilan Gadis V dan Bass G. Duo saxophonist cilik yang karir bermusiknya sangat didukung oleh orang tua ini menunjukkan multi kemampuan mereka. Gadis dan Bass selain berduet menyajikan lagu-lagu Dave Koz, George Washington Jr, Kenny G dan Candy Dufler juga ikut bernyanyi dan menari di lagu Cinta Gadis dan menabuh perkusi di sebuah komposisi yang diaransemen ala techno. Peran orang tua ini juga yang memungkinkan pada setiap penampilan Gadis dan Bass selalu dikombinasikan dengan musisi senior; sebut pada pentas JGTC kali ini mereka didampingi oleh Adi Dharmawan (bass), Kadek Rihardika – gitaris Cherokee yang terpaksa harus legowo karena saat manggung sound gitarnya tidak terdengar di depan panggung, drummer Krakatau Gerry Herb dan Ekka Bhakti (keyboard).

JGTC 2004 juga dimeriahkan oleh Nera, grup yang beranggotakan Gilang Ramadhan (drum), Ivan Nestorman (vocal, gitar akustik), Donny Suhendra (gitar elektrik), Adi Dharmawan (bass) dan Krisna Prameswara(keyboard) banyak dibilang beraliran jazz, world music dan rock.

Dengan teknik vocal Ivan yang bercorak Flores (karena memang berasal dari Flores) dan pukulan drum Gilang yang banyak menggabungkan elemen-elemen tradisional, Nera memang terlihat banyak kearah world music walau bagi sebagian kalangan menganggapnya rada ngejazz

Nera yang berartikan cahaya dalam bahasa Flores, terlihat seperti just an idealism project for the personnel. Terbukti disamping Nera, masing-masing personel punya kesibukan masing-masing. Gilang dengan God Blessnya, Krisna dengan Discusnya, Donny dan Adi yang juga banyak tampil dengan band-band lainnya. (Hari itu dua orang ini yang paling banyak manggung dg kelompok yang berbeda – sehingga ada yang berkelakar mereka pemain sejuta band -red). Mudah-mudahan album mereka yang rencananya akan keluar Februari tahun depan tetap membawa keorisinalitasannya.

Kombinasi menarik juga dapat kita temui pada penampilan kelompok muda Groovology yang mengiringi Marina Xavier. Ms Xavier yang baru-baru ini merilis album barunya yang berjudul AAA membawakan lagu-lagunya, seperti Cant Take Away yang berirama funk, La Vie On Rosa (salsa), Blame it On Bossanova, Man Smart Woman Smarter (Callypso Swing), You Took Advantage o Me, irama Blues dalam I’m A Woman dan swing dengan All Too Soon. Groovology yang rencananya juga menampilkan vokalis mereka – Tompy – berduet dengan Xavier terlihat cool mengiringi penyanyi asal Singapura itu. Tentu ini tidak lepas dari pengalaman mereka; Yudistira (piano), Ari (gitar), Dery (drum) dan bassist senior Ilyas Muhadji manggung regular di café dan event-even jazz. Bahkan sepertinya sudah saatnya grup ini menampilkan karya mereka sendiri di setiap pentas itu. Kita tunggu saja!

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker