FestivalJava Jazz Festival

David Manuhutu Awal penjelajahan seorang pianis jazz

Sebagai sebuah festival, Java Jazz banyak menampilkan muka baru di kancah musik jazz tanah air. Banyak dari mereka hadir dengan talenta yang mumpuni dan semangat yang menggebu menghadirkan karya. Salah satunya adalah pianis David Manuhutu yang tampil di hari ketiga Java Jazz 2009. David Manuhutu mentas di Pre Function Hall A, sebuah panggung yang ditempatkan di ujung serambi ruang eksibisi A.

Pianis muda kelahiran 1 Juni 1992 Bandung ini tampil bersama dua bersaudara ARU, pemain kontrabass Rudy Zulkarnaen dan pemain drums Ari Reinaldi. Pilihannya adalah menginterprestasi ulang beberapa nomor standards modern jazz dan menampilkan sebuah karyanya yang sewarna.

David membuka panggung dengan “Straight No Chaser”. Di komposisi karya Thelonious Monk tanun 1951 yang mendapat sentuhan brilian Miles Davis di rekamannya tahun 1958, Milestones, David memberikan sebuah interprestasi untuk format trio dengan dominasi permainan akustik piano.

Putra dari Venche Manuhutu, instruktur musik senior asal Bandung ini kemudian menurunkan tempo pertunjukan dengan sebuah nomor ballad “Never Sad”. Tidak berlama-lama bermain di tempo itu, David kembali menaikkan suasana pertunjukkan dengan “Cantaloupe Island” Herbie Hancock dan “All Blues” Miles Davis. Di lagu yang diangkat dari rekaman Hancock, Empyrean Isles (1964) dan merupakan salah satu contoh sebuah komposisi modal jazz berbeat funky ini, David melakukan jammin dengan seorang pemain saksofon muda, Dennis Junio. Meski belum terdengar akrab, obrolan musikal keduanya cukup mendapat banyak perhatian pengunjung yang menonton di depan pangung tersebut.

Masih dengan tema yang sama, David melanjutkan pertunjukan dengan “Spain”. Nomor instrumental jazz fusion yang diangkat dari album Light as a Feather milik Chick Corea dan sudah sangat akrab di telinga penikmat jazz ini menjadi media David unjuk kebolehannya diatas bilah piano.

Puncak dari pertunjukan David Manuhutu sore itu adalah presentasinya di sebuah lagu yang ia tulis sendiri. Komposisi itu diberi judul “Ritmico”. Pria yang mengaku telah belajar piano klasik 10 tahun lebih, namun baru kurang lebih 3 tahun belakangan kosentrasi di piano jazz ini menyebut bahwa lagu ini terinspirasi dari kelahiran anak guru pianonya. Di lagu “Ritmico” ia memainkan ritme yang terus mendaki dari awal lagu sampai mencapai klimaks dengan pola kord repetitif. David juga memasukkan anasir etnis sunda disela permainan pianonya. “Ritmico” sepertinya menjadi janji eksistensi seorang pianis muda di awal penjelajahannya bersama musik jazz.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker