Festival

Jazz Aneka Rupa di Putaran Pertama North Sumatra Jazz Festival 2011

Liputan NSJF 2011 Hari Pertama, 1 Juli.

Bukanlah perkara gampang untuk menyebarkan jazz di Medan. Pasalnya, kota ini telah lama dikenal akan preferensi musik yang cadas, sebutlah rock hingga heavy metal beserta sub-genrenya. Meskipun demikian, tidak serta merta menyurutkan semangat para penggiat, atau boleh dikatakan penggila jazz, untuk membuat sebuah event jazz bertaraf festival yang pertama kalinya di ibukota propinsi Sumatra Utara ini. Jumat malam (1/7), usaha itu pun terwujud dengan terselenggaranya North Sumatra Jazz Festival 2011 (NSJF) yang bertempat di Convention Hall Hotel Danau Toba International, Medan. Hari pertama festival yang berlangsung dua hari berturut-turut ini dimeriahkan lewat penampilan lima grup jazz lokal pun nasional.

Dimulai pukul setengah delapan malam, NSJF mengawali pertunjukan dengan tampilnya sebuah band lokal, Ethno Big Band. Kelompok ini terdiri atas para mahasiswa jurusan etnomusikologi Universitas Sumatra Utara yang berkolaborasi dengan komunitas saksofon Medan pada seksi tiup logamnya. Anak-anak muda ini langsung menghentak lewat komposisi “Take Five” milik Dave Brubeck, dengan sentuhan elemen musik etnik tentunya. Kemudian berlanjut menuju nomor kedua sekaligus terakhir yang mereka bawakan dalam irama jazz latin, sebuah lagu dari Titi DJ berjudul “Ekspresi.”

Ethno Big Band - NSJF 2011
Ethno Big Band – NSJF 2011

Lebih dari lima ratus penonton yang hadir dihangatkan oleh penampil selanjutnya yang juga berasal dari Medan, Progressive Jazz Band digawangi pemain gitar Chandra Syafei, Emil Panggabean (bas elektrik), Totok (drum), Churchill (perkusi), serta kibordis Yusri. Permainannya seputar fusion dan jazz rock, mereka sajikan tiga nomor “Twelve-Bar Blues,” “Water Edge” yang berdenyut swing, serta aroma jazz latin pada lagu hit band rock Inggris, The Animals, “House of the Rising Sun.”

Progressive Jazz Band - NSJF 2011
Progressive Jazz Band – NSJF 2011

Selepas kata sambutan oleh perwakilan dari Gubernur Sumatra Utara dan Direktur Penyelenggara NSJF Erucakra Mahameru, suasana makin hangat dengan hadirnya Sruti Respati dan Teman-temannya. Grup ini berisikan Sruti Respati, penyanyi asal kota Solo yang bisa nyanyi macam-macam; entah itu nyinden, keroncong, sampai jazz pun, ia tak kenal kata canggung. Selain tarik suara, Sruti adalah guru juga presenter dan pembaca berita berbahasa Jawa di kotanya. Sedangkan “teman-temannya” merupakan sekumpulan musisi jazz handal, Bintang Indrianto (bas), Denny Chasmala (gitar), Saat Borneo (suling), Adi Prasodjo (perkusi), Imam Garmansyah (kibor), dan drummer Iqbal. Sebelum Surti naik ke atas panggung, teman-temannya memulai dengan bunyi improvisasi bebas. Setelah itu barulah ia mendendangkan lagu tradisional Jawa, “Cublak-cublak Suweng,” kental bernuansa jazz rock. Lagu berikutnya adalah “Hijauku,” “Asmaradana” yang melodius, serta mahakarya maestro karawitan Ki Narto Sabdo, “Gambang Suling.” Sajian penutup berupa lagu tradisional Madura “Ole Olang,” dibawakan dalam aransemen bossa nova dengan awalan denting gamelan.

Sruti Respati - NSJF 2011
Sruti Respati – NSJF 2011

Band yang paling edan di hari pertama NSJF adalah LIGRO, sesuai dengan definisi grup ini – LIGRO, dibaca dari belakang menjadi orgil, orang gila – red. Trio ini berisikan Agam Hamzah (gitar), Adi Dharmawan (bas), serta drummer Gusti Hendy yang justru lebih dikenal sebagai personil band Gigi. Introduksi berupa playback midi berkarakter disonan mengawali aksi gila grup ini. Tak lama berselang, Gusti pamer kebolehan lewat gebukan drum menggemuruh yang mengundang decak kagum audiens. Komposisi yang mereka bawakan antara lain “Bliker,” “Future” yang beraroma funk, juga karya Agam berjudul “Don Juan” dengan kecepatan tinggi. Tentang gubahan Agam tersebut, Adi berkomentar, “…mungkin komposisi barusan berdasarkan pengalaman pribadi Mas Agam, hehehe…,” ujarnya sembari merakah dan ditimpali tawa penonton. Namun yang menjadi pusat perhatian adalah ketika sang basis dalam taraf puncak kegilaan, ia menyeret lempengan seng, paku, juga palu. Semua itu demi mendapatkan sound spesifik yang tak bisa dibunyikan instrumen konvensional. Makin liar waktu Adi menyabet basnya yang tergeletak pada lantai panggung. Penonton yang belum pernah menonton LIGRO mungkin akan terperangah waktu dihajar oleh band jazz-rock-teatrikal ini.

LIGRO - NSJF 2011
LIGRO – NSJF 2011

Sesudah penampilan LIGRO yang membakar jiwa, tiba saat untuk menyaksikan band penutup yang melegakan lewat sajian lagu-lagu jazzy. Kelompok Suara Parahyangan atau KSP bukanlah pemain baru dalam dunia musik tanah air. Band asal bandung yang jumlah personilnya lebih banyak dari kesebelasan sepakbola ini telah berkiprah sejak tahun 1978. Kini, setelah penantian 13 tahun, mereka merilis album gres berjudul Hasrat dan Cita (Deteksi Record, 2011) yang berisi 13 lagu, ada ciptaan baru maupun recycle tembang lawas. Dengan tiga orang vokalis dan sepuluh personil rhythm section, KSP mengibur audiens lewat lagu-lagu ramah telinga. Mereka mengawali pertunjukan dengan tempo santai pada lagu “Aku Mencintainya,” dan gubahan Fariz RM yang dulu menjadi hit, “Hasrat dan Cita.” Suasana menghangat waktu tembang “Aku” dan “O La La” yang dinyanyikan bersama penonton. Lagu milik band Earth, Wind & Fire, “Let’s Groove” pun turut menghentak  untuk selanjutnya pianis -vokalis-komposer Idang Rasjidi naik ke atas panggung.

KSP featuring Idang Rasjidi - NSJF 2011
KSP featuring Idang Rasjidi – NSJF 2011

Bersama KSP, Idang menghibur hadirin NSJF 2011 lewat permainan kibor dan scat singing atraktif. Ia menyajikan nomor “Klasik Disko” serta lagu ciptaannya “Let’s Save the World.” Akhirnya sampai pula pada sajian penutup, tembang populer dari Oddie Agam yang dahulu dinyanyikan Mus Mujiono yaitu “Tanda-tandanya.” Berbalut aransemen samba yang merentak, penonton pun ikut menari serta ketiga vokalis turun panggung mengajak audiens menyanyi bersama. Sebuah akhir yang meriah oleh KSP dan Idang Rasjidi, menuntaskan putaran pertama NSJF 2011. Nantikan laporan babak kedua gelaran jazz terbesar di Medan ini!

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker