FestivalJava Jazz Festival

Sabtu Malam dengan Nuansa Jepang dan Nada Merdu Saksofon di Java Jazz Festival 2013

Alunan tembang “Nothing’s Gonna Change My Love For You” yang terdengar dari dalam C1 PAC Hall pada Sabtu (02/03) malam itu mampu menarik perhatian banyak pengunjung Java Jazz Festival 2013. Adalah Kaori Kobayashi, sang pemilik saksofon alto yang memainkan versi instrumental dari tembang lawas milik George Benson tersebut. Perempuan berkebangsaan Jepang itu mampu membawakan nada-nada merdu yang sekilas membuat banyak orang teringat akan permainan Dave Koz di Java Jazz Festival 2012. Keberadaan Kobayashi di atas panggung mungkin terasa asing bagi beberapa pengunjung, tapi tidak bagi penggemar kebudayaan Jepang dan genre musik smooth jazz.

Jika Diego Maroto, saksofonis dari Mexico yang tampil pada jam sebelumnya di panggung First Media hari itu telah memanjakan para pengunjung dengan tembang-tembang jazz eksperimental dari saksofon tenornya, Kaori Kobayashi siap dengan tembang-tembangnya yang enerjik dan sedikit dibumbui musik rock dari grup musik pengiringnya. Tembang pertamanya yang berirama cepat, “England Funk”, diiringi oleh beberapa sesi improvisasi sebelum tembang lain dari album yang sama, Seventh, yaitu “One”. Kobayashi terlihat begitu santai sambil sesekali bergoyang mengikuti irama musik dan menyapa penonton dalam Bahasa Inggris dengan aksen Jepang yang sangat kental. Ia pun sempat berujar bahwa ini adalah kali pertama dirinya datang ke Indonesia.

JJF13-KaoriKobayashi

Seolah-olah tahu bahwa belum banyak yang mengenalnya di Indonesia, Kobayashi juga menunjukkan bakatnya yang cemerlang dalam memainkan alat musik flute pada tembang instrumental “Lovin’ You” dari Minnie Ripperton. Tembang tersebut ada dalam album terbarunya di tahun 2013, Urban Stream. Setelah itu, Kobayashi sempat pergi ke belakang panggung untuk mengganti gaya berpakaian kasualnya dengan gaya yang lebih dewasa. Rupanya hal itu ia lakukan untuk dua tembang penutup penampilannya malam itu, yaitu “Great India” yang bernuansa etnik dan “City Light” yang memberikan kesan modern. Tepuk tangan yang jauh lebih riuh dibanding pada tembang pertama yang dibawakan oleh Kobayashi sekolah-olah membuktikan bahwa ia telah mendapatkan banyak penggemar baru dari Indonesia.

***

JJF13-BarryLikumahuwa

Mereka yang di kepalanya masih terngiang-ngiang suara merdu dari saksofon alto milik Kaori Kobayashi tentunya kembali ke panggung tempat Diego Maroto bermain. Disana ada Dennis Junio, saksofonis alto dari Indonesia, yang tampil bersama dengan grup musiknya, Barry Likumahuwa Project (BLP), membawakan tembang-tembang dalam tema Tribute to The Weather Report. Salah satu tembang lawas milik The Weather Report,“Birdland”, dibawakan dengan sangat apik oleh BLP.

Selagi menonton penampilan BLP, terlihat dua buah baris antrian yang cukup panjang di depan pintu masuk ruangan tempat Kaori Kobayashi bermain beberapa saat yang lalu. Pemain saksofon berusia 31 tahun tersebut memang sukses memberi kesan yang baik pada para pengunjung, tapi terbukti bahwa antrian untuk Monday Michiru lebih panjang dan ramai dibandingkan dengan saat Kobayashi bermain. Dua jam berselang setelah penampilan BLP, wanita yang berdarah Jepang-Amerika itu mengambil alih posisi Kaori Kobayashi sebagai bintang di panggung yang sama. Bukan sesuatu yang mengherankan jika ternyata para penggemar Kaori Kobayashi juga menggemari Monday Michiru.

Sebagai penghargaannya pada pemain bandolin dari Brazil, Hamilton de Holanda, “Brasilianos” menjadi salah satu tembang pembuka penampilan Michiru setelah “Sands of Time”. Michiru yang malam itu mengenakan dress  bernuansa emas tampil bersama dengan grup musik pengiring yang semua anggotanya adalah orang Jepang, kecuali suaminya sendiri, pemain terompet Alex Sipiagin. Wanita yang menjadi duta salah satu merek kosmetika dari Indonesia itu sesekali melontarkan candaan bahwa selain Sipiagin, personil-personil lain dari grup pengiringnya tidak ada yang mengerti apa yang ia katakan dalam Bahasa Inggris.

Sebelum menutup penampilannya dengan “No Woman, No Cry” dari Bob Marley dan “Map of the Soul”, Michiru sempat memberi kejutan kepara penontonnya. Ia berkata bahwa dirinya sangat senang karena dandanannya sangat bagus dan ia ingin berbagi kebahagiaan yang dirasakan. Tak disangka, setelah itu Michiru membagikan sepuluh buah eye liner cair secara cuma-cuma dengan cara melemparnya ke berbagai sisi. Hal itu tentu membuat suasana menjadi ramai seketika dengan teriakan semangat dari Michiru dan para penonton yang berusaha untuk mendapatkan produk kosmetika tersebut. Beberapa di antara orang-orang yang berada di C1 PAC Hall malam itu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum atau tertawa. Selain cantik, ternyata Monday Michiru juga tahu bagaimana caranya ‘jazz up’ the Saturday night!

Sheyka Nugrahani

Seorang mahasiswi yang menganggap Al Jarreau dan Michael Franks adalah awal mula dari segala tentang dirinya dan musik jazz. Mulai menggeluti bidang jurnalisme sejak tahun 2008 dan mendalami hobi menulisnya di sela-sela kesibukan kuliahnya di jurusan Biologi dan profesi lainnya sebagai pelukis.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker