Java Jazz Festival

JAKARTA JAVA JAZZ FESTIVAL 2006: LAPORAN HARI PERTAMA (Bagian Pertama)

Dave Koz & Patti Austin berduet dalam penampilan mereka di Java Jazz Festival 2006. Photo: Ajie Wartono © WartaJazz.com

Selamat pelaksanaan Java Jazz Festival 2006, Wartajazz.com menurunkan sejumlah jurnalis untuk meliput. Kami sajikan berikut ini dari beragam pentas yang ada.

ARTIS RENDEZVOUS & PATTI AUSTIN

Formasi berbendera Rendezvous Entertainment mengiringi penampilan Patti Austin di Plenary Hall. Di antaranya adalah gitaris Tony Maiden dan bassis Bill Sharpe yang sering mengawal Dave Koz tur dari festival ke festival – pesisir ke pesisir (termasuk kunjungan silamnya ke Indonesia). Dave memang menjadi fitur sesi Patti Austin di hari pembukaan Java Jazz 2006, sesi yang menampilkan vokal soul Austin (“Razmatazz”, “In & Out”, & “Smoke Gets in Your Eyes”). Austin juga berkreasi dalam balas-membalas scat-solo: hanya saja ia membalas siulannya sendiri yang seolah-olah adalah baris solo instrumen rekan panggungnya.

Headliners dari Rendezvous sendiri baru tampil penuh esoknya. Sejumlah artis rekamannya bermain: Dave Koz (yang turut mendirikan label ini), Brian Simpson (keyboard) yang merekam debutnya di sini, dan Wayman Tisdale bassis raksasa (atlit NBA). Seperti sejumlah panggung sebelumya, gitaris Jonathan Butler bernyanyi di panggung Rendezvous. Rick Braun (trumpet) yang biasanya turut menggenapi tidak hadir. Dalam konfirmasi terakhir, Kirk Whalum-lah yang hadir kali ini.

Butler menggoyang penonton lewat reggae “No Woman No Cry” dan mid-tempo ballad “Sarah, Sarah”. Fitur Whalum “Someone to Love” diambil dari album instrumental best-seller “Kirk Whalum Performs The Babyface Songbook”. Dari debut Brian Simpson dipilih nomer “Its All Good”. Di tengah-tengah sajian manis smooth jazz tetap saja ada aksi tekstural Whalum; dalam sekali hembusan sirkular, alto sax-nya digenjot pada semua wilayahnya dalam jarak kromatik yang rapat (sementara pemain band lainnya diam memberi tempat).  Akan tetapi, jangan dikira jika semua ‘improvisasi’ panggung ini tidak ‘dirancang’; skenario teatrikal sudah menjadi bagian yang dipertahankan Rendezvous all stars saat tampil live sejak dua tahun yang lalu.

Andi Wiriantono memainkan freejazz di Java Jazz Festival 2006. Photo: Ajie Wartono © WartaJazz.com

ANDI WIRIANTONO

Andi Wiriantono tampil membuka pentas ruang Merak di hari pertama. Pianis lulusan Berkley dan kini aktif mengajar ini hadir diampingi oleh Aksan Sjuman [drum] dan Mates [bass].  Komposisi karya Burke dan Van Hausen, ‘It Could Happen to You’, menjadi lagu pertama yang mereka mainkan. Kemudian menyusul Time Remembered [Bill Evans], ‘I Got It Bad’ [Duke] dan ‘Syndrome’. Andi terlihat benar-benar menjaga tempo permainan grup seassonnya itu. Di setiap lagu, secara bergiliran tiap personel diberikan kesempatan untuk tampil solo. Meski di tiap part kendali improvisasi didominasi oleh Andi, dengan spirit permainan yang terinspirasi oleh pianis Michel Petruciani, namun gebukan Aksan pada drumnya yang diset sederhana berhasil mencuri perhatian penonton.  Hal ini terlihat kembali saat Aksan melakukan solo drum dengan mood swing pada intro ‘I Hear a Rhapsody’, sebelum komposisi itu digulirkan ke arah aroma free jazz. ‘Isotop’, karya Joe Handerson, menjadi lagu selanjutnya yang trio ini bawakan dalam semangat freejazz. Secara umum, seksi rhythm yang digawangi oleh Aksan dan Mates berhasil menjaga tempo yang dikembangkan Andi dan terutama emosi permainan grup ini dari awal hingga komposisi karya Cole Porter, ‘I Love You’, dimainkan sebagai encore. Sedikit disayangkan penampilan Andi Wirantono hari itu tidak membawakan karya original yang pernah ditulisnya.

Soul (With A Capital “S”) DIPENAMPILAN TOWER OF POWER

Aksen-aksen pendek seksi tiup yang bertenaga, mendominasi penampilan Tower Of Power. Sesekali semua pemain mengambil jeda untuk memperdengarkan kocokan funky gitaris Jeff Tamelier. Seperti penampilan tradisional James Brown, kita akan mendengar komando-komando vokalis yang memandu apakah lagu berikutnya, apakah harus ke bridge atau harus jeda. Atas komando, TOP lanjut menendang dengan “Get Yo’ Feet Back On The Ground”. Warna berat baritone sax Stephen ‘Doc’ Kupka terus mengisi kekuatan soul rhythm TOP sepanjang penampilan.

Peter White di Java Jazz Festival 2006. Photo: Agus Setiawan B © WartaJazz.com

SMOOTH JAZZ GUITAR BERSAMA PETER WHITE

Jika penampilan gitar akustik nylon adalah yang Anda kejar pada Java Jazz 2006, tentu Peter White tidak boleh dilewatkan. Mungkin Ritenour & Butler juga memainkannya tahun ini, tetapi White tampil absolut dengan dawai nylonnya. Sebuah catatan khusus: tingkat kesulitan mereproduksi suara gitar akustik dengan baik di penguat suara utama dapat diatasi dengan baik oleh tim tata suara White.

Peter White membuka dengan “Promenade”, penampilannya yang pertama kali di Indonesia ini didukung kompak saksofonis Michael Paolo. Permainan manis-romantik khas White diperdengarkan lewat sebagian petikan nada ganda-intervalis; sedikit selipan sapuan kasar a la gitar latin; ia pun kadang meregang senar nylonnya, melekukkan nada naik ke atas a la gitaris rock. Gitaris kelahiran Inggris ini juga mengaku sangat menggemari bermain wah-wah ‘di belakang’ anggota band lain.

Hits “Caravan of Dreams” yang melambungkan nama gitaris yang sering dihubung-hubungkan dengan Basia ini juga dibawakan malam itu (kata ‘Caravan’ diambil menjadi nama klub penggemarnya).

(*/Arif Kusbandono/Roullandi N. Siregar/Ceto Mundiarso/WartaJazz.com)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker