Java Jazz Festival

Hardbop Surealistik … dari Robert Glasper

Robert Glasper di Java jazz festival 2011 (photo by Caesar/wartajazz)

Menikmati penampilan Robert Glasper Experiment memang agak aneh dan janggal. Terasa kita dibawanya masuk dunia antara kenyataan dan imaginasi. Menariknya, Glasper masih memperlihatkan nafas cool jazz dan hardbop sembari menginfus warna-warna soul, blues, hip-hop dalam formasi elektroakustik.

Memang bukan suatu hal yang baru dengan apa yang dilakukan Glasper tersebut. Sekitar 10 tahun lalu, sempat mencuat wacana jazztronica di berbagai media yang berkaitan dengan musik jazz dengan semakin banyak ketertarikan para musisi jazz dari berbagai style. Beberapa musisi jazz yang intens dengan jenis mutans tersebut terbilang dari Brad Mehldau, E.S.T., Jaga JazzistMatthew Shipp, Herbie Hancock sampai saxophonis free improvisation Inggris, Evan Parker.

Namun yang dilakukan Glasper bersama Chris Dave (drum), Derrick Hodge (bass) dan Casey Benjamin (alto sax dan vocodist) mempunyai daya tarik sendiri, sekurang-kurangnya di antara para pemain yang ikut meramaikan AXIS Jakarta International Java Jazz Festival di hari pertama, Jum’at 4 Maret 2011.  Malam itu Glasper sendiri tampil cool, yang memang sedang sakit flue, dengan berada di balik piano dan synthesizer Yamaha Motif XF 8. Tidak terlihat atraktif, meski tetap mengena dalam membangun kalimat improvisasi yang dimainkan secara efektif dan lugas, baik ketika bermain piano maupun synthesizer. Casey Benjamin, selain meniup saxophone dia juga memainkan vocodist. Melalui tut-tut remote keyboardnya dia bisa bernyanyi dan memproduksi suara sintetis dari suaranya sendiri. Justru yang mencuri perhatian malah pemain drumnya yang seolah “semaunya sendiri”. Dengan ketukan-ketukan menggantung, seperti enggan berhitung-hitung, beat yang “disonan”, ditambah lagi dengan polah tingkah yang cuek, menutup snare drumnya dengan handuk dan sepertinya selama pertunjukan, Dave terus menerus mengencangkan strainernya.

Mereka berempat tampil dengan keunikan masing-masing, mampu membangun suatu nuansa yang aneh, lentur, mengalir sekaligus juga straight. Bagaimana tidak, kombinasi suara keyboard/piano, vocodist yang ngesoul (mengingatkan kita kepada masa-masa musik RnB dekade 70an dan 80an), bass dan drumnya yang saling tumpang tindih antara irama swing, bop, hip-hop dan pop yang dikemas dalam sajian yang mudah cukup halus dan komunikatif serta terkadang mengagetkan. Sehingga sekilas muncul kesan warna musik yang surealistik, antara nyata dan tidak, dan haunting.

Ada banyak letupan-letupan teknis yang mengesankan, unik, menghibur dan sekaligus membuat kagum para pecinta musik jazz yang saat itu hadir di C1 First Media Hall. Penonton seperti diajak untuk menikmati dan sedikit mengurai dalam pikiran masing-masing tentang apa yang sedang dilakukan oleh Glasper beserta teman-temannya itu.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker