Java Jazz Festival

Djarum Super Mild Java Jazz Festival 2012 : David Sanborn

 

David Sanborn (Photo by Arief Sukardono)

Pada perhelatan Jakarta International Djarum Super Mild Java Jazz 2012 banyak musisi besar dunia yang datang, misalnya Stevie Wonder, Al Jarreau, Erykah Badu, Phil Perry ada juga pemain keyboard dunia seperti Herbie Hancock, Quincy Jones, David Garfield, George Duke, Frank Mc Comb, Brian Simpson ada pemain gitar kawakan Pat Metheny, Robert Randolph, Lionel Loueke, Chris Standring pemain drum Jay Williams, Trevor Lawrence Jr., Jamire Williams serta menghadirkan juga musisi tiup besar dunia yang diantaranya Dave Koz, Michael Paulo, Everette Harp, Tim Green, Maurice Brown, Gerald Albright dan David Sanborn.

David Sanborn pria kelahiran Tampa, Florida USA, 67 tahun yang lalu (30 Juli 1945) awalnya belajar alat musik tiup untuk terapi dari sakit polio. Menurut dokter dengan terapi tersebut akan memperkuat dan memperbaiki sistem pernapasan serta menguatkan otot-otot di dada. Dari terapi menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi kesenangan. Ketika umur 14 tahun sudah mencoba bermain bersama Albert King, suatu prestasi yang membanggakan. Ketika belajar di Northwestern University dan University of Iowa David dengan tegas mengambil jurusan saxophone, serta tetap belajar secara pribadi kepada legendaris saxophone JR. Monterose.

Berkat ketekunan dan keseriusan belajar akhirnya David mendapatkan hasilnya dengan menggondol 6 Grammy Awards, 8 Album Emas dan 1 Album Platinum dari 24 album yang telah dirilisnya sejak tahun 1975 (Taking off) sampai 2010 (Only Everything) dengan berbagai genre pop, R&B, funk, jazz fusion sampai traditional jazz.

Bukan itu saja, David dengan berbagai kehebatannya hingga pernah bermain bersama penyanyi James Brown, Eric Clapton, Michael Franks, elton John, Linda Ronstadt, George Benson dan bersama grup besar seperti The Eagles, Casiopea, Rolling Stones, The Who. Bahkan sempat pula menggarap musik score film besar Lethal Weapon dan Scrooged.

David Sanborn di Java Jazz Festival 2012 (Photo by Arief Sukardono/WartaJazz)

Pada penampilan yang baru pertama di Indonesia, David yang pendiam hanya sekali saja menyapa penonton dan sekali lagi waktu berpamitan undur dari panggung. Selain itu diisi oleh komposisi lagu saja. Tetapi justru disitulah letak kelebihan David. Dengan didampingi drum, keyboard, gitar dan bass seakan-akan alat tiup (alto saksopon) yang sebetulnya benda mati bisa menjelma menjadi hidup ketika ditiup. Liukan suara saksopon menimpali suara alat musik lainnya benar-benar menjadikan suasana malam itu bermakna kehidupan. 8 lagu yang melantun berturutan seakan menyampaikan pesan kepada penonton bahwa hidup mesti tetap berlanjut meski dimulai dengan sakit, dilawan dengan serius dan dinikmati sampai usia senja. Terlihat sesekali David mengelus saksoponnya, sesekali membelai bahkan secara tidak sengaja terlihat menciumnya, mungkin dia ingin mengucapkan terimakasih, gara-gara terapi yang dianjurkan dokter menjadikan dia orang hebat di dunianya. (Adji Prasetyo/WartaJazz)

Tags

Ajie Wartono

Memimpin divisi Projects & Event Management. Pernah mengikuti Dutch Jazz Meeting di Amsterdam, Belanda. Selama dua tahun dipercaya menjadi Ketua Festival Kesenian Yogyakarta (2007, 2008) selain sebagai Program Director, Bali Jazz Festival dan Ngayogjazz

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker