Java Jazz Festival

Idang Rasjidi Meets Oele Pattiselanno: Sajian penuh canda dari reuni dua sahabat

Oele Pattiselanno meets Idang Rasjidi
Oele Pattiselanno meets Idang Rasjidi

Hey…. “ begitu sapa Idang Rasjidi ketika ia naik ke atas panggung. Pianis yang tampil urutan ketiga di Hall Semeru Garuda Indonesia itu langsung memperkenalkan satu-satu pendukung konsernya bersama gitaris Oele Pattiselanno. Ada “… We have Shaku Rasjidi on drums, Azmi Hairudin (on) saxophone, and we have Umay on saxophone, Happy Pretty (trumpet), Sastrani Titaranti (flute), Shadu Rasjidi (bass), and The one and only, my brother, my favorite musician, Oele Pattiselanno pada guitar .”  Tiba-tiba dari jajaran penonton terdengar seruan canda yang spontan dibalas oleh Idang, “…meneng koe cef… and Jeffrey Tahalele on bass.”  Ya, tadi itu suara Jeffrey Tahalele yang datang untuk menonton konser mereka. Canda spontan antar musisi tadi disambut tawa penonton dan menjadi break ice suasana awal konser.

”St. Bernardus”, lagu yang ditulis Idang Rasjidi dengan judul dari nama sebuah sekolah di Pekalongan, Jawa Barat, menjadi repertoir pertama di konser reuni Idang Rasjidi dan Pattiselanno. Selain dengan musik, pertunjukan yang dimulai sekitar pukul 18:30 itu juga diisi dengan canda antara Idang dan Oele yang semakin menghangatkan suasana.

Seperti saat Idang bercerita tentang The Galactic, kelompok musik dimana ia dan Oele bermain bersama di tahun 1986-87. Satu per satu personel The Galactic disebut Idang, sampai di satu ”perdebatan” kecil dengan Oele. “Dullah (almarhum Dullah Suweileh, pemain perkusi) tadi belum disebut ya?” tanya Oele. “Dullah… Dulah  udah. Kita sudah sama-sama tua. Tadi, udah gue sebutin, Dullah. Udah… Udaah Oel… Dullah udah gue sebutin…” jawab Idang sembari melontarkan pertanyaan ke penonton. Umpan itu pun disambut dengan gelak tawa penonton. ”Ini nih tanda-tanda, dia (Oele) sudah 60 lebih, saya sudah 62 tahun, jadi tanda itu sudah nampak sekali. Dan kami sudah tinggalin dunia hitam karena rambut mulai putih,” canda Idang sebelum komposisi “Larry” mereka sajikan.

”Oele masih ada dan still there!”  ujar Idang Rasjidi sesaat setelah mereka menyelesaikan lagu tadi. ”Setiap Java Jazz itu saya buat lagu baru terus. Saya rekam sendiri, saya buat (CD) sendiri, saya dengar sendiri… saya beli sendiri.” lanjutnya yang kembali disambut oleh tawa penonton. Tapi memang benar, beberapa tahun belakangan ini Idang Rasjidi aktif merekam proyek-proyek musiknya dalam bentuk CD yang ia distribusikan sendiri. Sebut saja album Ramadhan Idang Rasjidi yang merupakan reinkarnasi yang lebih personal dan minimalis dari album religi Sound of Hope, album Kisah Kampung Kita yang menggunakan bahasa Bangka Belitung, album Woman In Love sebuah kompilasi easy listening dari 7 penyanyi wanita, atau album Dunia Cinta cross over jazz dengan pop melayu/ dangdut penyanyi Yendri Blacan.

Idang melanjutkan dengan cerita repertoir yang akan dimainkan berikutnya, ”Melted” dimana lagu itu diberi judul oleh anak-anaknya berdasarkan kesukaan ayah mereka memasak. Sebelum lagu itu dimainkan, kembali Idang melontarkan guyonan, “Melted… lagunya… Sumpah saya lupa. Ini saya kasi tahu, rahasia musisi yang diatas panggung. Jadi kalo kita gini ini ngulur waktu. Sebenarnya ini (kita lagi) ngingetin melody seperti apa.” Setelah “acting” bisik-bisik… mengalunlah ”Melted” dimulai dengan scat Idang yang diikuti oleh suara penonton sembari bertepuk tangan. ”Jago ya… Asu banget, ayo tepuk tangan buat kita, semangat!”

Seperti janji Idang dan Oele, memang hari itu mereka membawakan karya-karya Idang Rasjidi yang dikemas dalam sebuah tontonan ”Jazz yang enteng” dari gabungan musik jazz, pop dan soul ala The Crusaders. Namun karena durasi waktu pertunjukan, terpaksa beberapa lagu yang telah mereka persiapkan tidak jadi dimainkan.

Sebagai lagu terakhir dipilih “World Still Go Round” yang menampilkan Sastrani Titaranti, pemain flute yang juga seorang penyanyi soprano klasik. Melalui lagu itu, Idang ingin mengingatkan kita bahwa “Anything happen, the matter what happen, the world still go around.”  Maka konser Idang Rasjidi meets Oele Pattiselanno pun terus berjalan dengan meriah, penuh canda, memberi hiburan total kepada penonton tanpa merasa bahwa waktu satu jam telah berlalu.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker