Interview

WAWANCARA DENGAN DAGOBERT ‘DAGO’ BÖHM

Apa yang ada dikepala anda jika mendengar kata DAGO?. Mungkni asosiasinya langsung menuju satu tempat di Bandung. Namun yang akan kami sajikan disini bukannya jajanan dari Dago misalnya, melainkan Dagobert Böhm, pimpinan perusahaan rekaman Ozella Music yang juga menjadi leader kelompok Acoustic Unit dan String Unit. Salah satu rekamannya DAGO – SOUNDS FOR A BLUE PLANET dapat anda baca dibagian Resensi. Berikut ini petikan wawancara yang kami lakukan minggu lalu :

WartaJazz: Bisa diceritakan sedikit tentang latar belakang anda?

Dago : Saya lahir di Mannheim, Jerman tahun 1959. Dibesarkan di Freiburg dan sekarang saya tinggal disuatu tempat di Countryside. Saya belajar sedikit tune pertama kali menggunakan gitar klasik lewat ibu saya diusia 9 tahun. Setelah beberapa waktu bermain menggunakan elektrik, saya menemukan bahwa Acoustic Steelstring Guitar adalah instrumen [yang cocok] buat saya.

WJ: Kapan pertama kalinya anda memutuskan untuk memainkan jazz?

Dago : Pada awalnya saya banyak terpengaruh oleh penyanyi dan penulis lagu seperti Dylan, James Taylor, Crosby Stills Nash & Young dan seterusnya. Dan saya teringat saat mendengar suara frettless bass Jaco Pastorius’ pertama kali pada nomor Joni
Mitchell “Don Juan’s reckless daughter” album dan buat saya ini benar-benar seperti magis. Dari siilah saya meneumkan jalan ke musik jazz. Saya tak menyebut diri saya sebagai Jazz Player. Saya banyak bermain dengan berbagai musisi jazz dan musik saya memiliki banyak elemen jazz, improvisasi merupakan hal yang penting, teteapi komposisi-komposisi saya tidak tipikal jazz. Harmoni dan style-nya berbeda. Jika anda melihat Jazz sebagai seni yang terbuka, hal ini tak jadi masalah. Musik saya kadang-kadang disebut Ambient Jazz, atau World Jazz.

WJ : Apakah anda juga terpengaruh oleh musisi lain?. Jika ya siapa?

Dago : Saya mendengar berbagai jenis musik dan saya menemukan disetiap lagu yang saya putar sesuatu (gaya) yang saya sukai. Nick Drake, Joni Mitchell, Jeff Buckley, Bert Jansch, Alex De Grassi, Michael Hedges adalah yang penting untuk saya dan ebberapa pemain jazz seperti Charlie Haden, Jaco Pastorius, Carla Bley, Steve Swallow, Pat Metheny, Jim Hall, Chet Baker, Abdullah Ibrahim diantaranya. Secara umum saya menyukai musisi yang bermain agak ‘pelan’ Ada banyak musik disekitar kita yang mencoba ‘membunuhmu’ dengan ‘lick after lick’, salah satunya lebih cepat dari yang lain. Namun satu good note dengan penjiwaan mungkin akan bisa bercerita lebih banyak.

WJ: Apa album jazz dan komposisi yang anda sukai termasuk musisinya.

Dago : Ada banyak!. Haruskah saya menyebutkan satu saja? Rasanya tidak mungkin: Carla Bley/Steve Swallow Duets, Charlie Haden Ballad of the Fallen dengan banyak pemain yang berbeda seperti Carla Bley, Don Cherry, Jim Pepper dan Angel City bersama Ernie Watts, Alan Broadbent, Larance Marable. Setiap proyek yang berbeda dari Pat Metheny merupakan hal yang fantastis, Saya tak bisa menunjukan satu atau dua saja. Mungkin lain kali saya akan sebutkan semuanya, sebab hal ini sering berubah-ubah.

WJ : Dari tiga album yang anda kirimkan, Dago, String dan Acoustic Unit. Apa sih perbedaannya?

Dago : Acoustic Unit merupakan proyek utama saya selama beberapa tahun. Sebuah kelompok kolaborasi musisi dua negara Hungaria/Jerman bersama Tony Lakatos(soprano sax), Kornél Horvath(percussion) dan Béla Lattmann(Bass). Merupakan sebuah kenikmatan tersendiri bermain dengan musisi-musisi top ini. Bersama kelompok ini kami memiliki semacam Acoustic-World-Jazz sound, dengan soprano sax dan exotic percussion.
Dalam jangka waktu yang singkat kami bermain sebagai quintet dengan tambahan Zoltán Lantos yang memainkan 5-string Violin. Namun kemudian belakangan kami menciptakan Trio baru dengan violin, guitar dan Markus Reuter, memainkan guitar dengan teknik touch/tapping (dengan range bunyi dari grand piano, sehingga anda memiliki suara guitar dan bass dalam satu instrumen).
Bersama “String Unit”, tanpa drum atau percussion, kami bermain lebih banyak “spacy”, the music breethes, kami menyukai memainkan nomor-nomor slow dengan penambahan tune-tune “ambient guitar loops”.
Album baru saya bertitel “sounds for a blue planet”, dirilis dibawah nama kecil saya “Dago”, merupakan proyek khusus. Saya mengundang seluruh musisi yang pernah bekerja sama dengan saya dan kami merekam ulang beberapa nomor favorit seperti
“Morning Flight”, dengan beberapa vocal dan banyak menggunakan teknik-studio seperti rum loops dan kami juga mengambil sample beberapa sound dari acoustic guitar sebagai percussion effects. Jadi album ini memang benar-benar special, menghabiskan banyak waktu di studio, merupakan hal yang menyenangkan untuk dikerjakan meskipun berakibat pada biaya yang cukup besar.

WJ: Apakah ini artinya anda mencoba menawarkan konsep yang berbeda untuk melakukan pendekatan kepada audiens jazz?

Dago : Itu benar, bahwa saya mencoba memperuntukkan album ini bagi audiense yang berbeda namun itu bukanlah ide sebenarnya. Proyek-proyek yang berbeda ini berkembang dengan alami. [Saat] Anda bertemu dengan musisi-musisi baru, yang memiliki taste dan style [yang berbeda] maka anda sound anda memiliki semacam bayangan dan warna yang baru setiap saat.
Jadi, jika anda mendengarkan ketiga album tersebut maka akan terdengar suara yang berbeda, namun jika anda mendengarkan dengan cermat, semuanya memiliki hal-hal yang mirip. Intinya adalah gaya saya memainkan dan mengkomposisikan gitar.

WJ: Bisa dijelaskan mengenai perusahana rekaman anda dan ide dasar kenapa mendirikannya?

Dago : Saya memlai record label dan publishing company Ozella Music milik saya tahun 1999. Hal ini karena sebelumnya saya merilis album baru setiap 5 tahun sekali karena selalu ada permasalahan dengan perusahaan [rekaman]. Saya tak memiliki kebebasan dalam mengekspresikan musik saya. Yang berujung produksi yang tak kunjung selesai dan tentu saja pada akhirnya [hal] ini, akan menghabiskan banyak waktu. Lewat Ozella Music saya memiliki banyak kemungkinkan. Saya membuat albums untuk TV dan saya juga mulai menjadi produser bagi artis lain. Banyak hal-hal baru, jadi ini pertanda baik.

WJ: Kemana anda ingin membawa label ini dalam konteks ‘positioning’nya kedepan. Terutama karena banyak sekali label dan musisi diluar sana?

Dago : Ya, itu merupakan kenyataan dan bisnis juga sulit. Tetapi ketika perusahaan besar hanya bermain dengan ‘mainstream stuff’, atau hanya ingin bekerja dengan artists dari [united] states, ini menjadi sebuah keputusan bagi anda untuk melakukan sesuatu. Dan saya rasa jika anda mengerjakan sesuatu yang original dan anda menyuarakannya, saya yakin akan ada tempat bagi anda.

WJ: Bagaimana hubungan kerja dengan musisi yang lain? Apakah anda yang menentukan atau memberikan kebebasan pada mereka untuk -satu contoh- berimprovisasi?

Dago : Hal ini sangat berbeda dan sangat tergantung dari proyek dan musisinya sendiri. Bersama Acoustic Unit misalnya, kita separuh-separuh. Untuk semua tunes temanya di tulis dan termasuk struktur dari lagunya. Disetiap tune ada bagian yang memungkinkan untuk melakukan solo improvisasi, namun dari segi chord structure semuanya sudah fixed. Dan di asatu atau dua lagu, kadang-kadang pada bagian akhir lagu, atau dibagian pembuakaan, kami memainkan bagian yang bebas.
Dengan String Unit kami kadang-kadang melakukan improvisasi pada keseluruhan bagian. Anda mendengarkan – what kind of mood is in the room – dan musiknya mengalir. Meskipun ini bukan seperti free music atau sesuatu yang anda harapkan.
Saya rasa karena saya memiliki chord favorit, saya berharap pada pendengar menemukan sounds yang khas.

WJ: Apa yang anda kerjakan diwaktu senggang?

Dago : Pertanyaan yang bagus. Sebagai musisi, komposer, dan memiliki record label dan publishing company sendiri sebenarnya tak banyak waktu luang tersisa. Jadi musik merupakan pokok perhatian setiap hari. Tetapi saya suka berjalan-jalan keluar dianara pepohonan yang alami. Terkadang juga pergi ke bioskop dan menonton konser yang bagus.

WJ: Bagaimana anda mendapat inspirasi? Apa yang anda sukai ketika sedang menciptakan komposisi? Apakah ada trik khusus supaya semuanya berjalan dengan lancar?

Dago : Saya menyukai ‘feeling’ ini, ketika ada lagu baru, ada tune baru yang tercipta. Terkadang saya memainkan bagian yang sama selama beberapa jam, karena ‘it’s so beautiful’. Proses kreatif ini sangat ‘wonderful’, sehingga sulit rasanya membandingkannya dengan hal lain. Jika memungkinkan saya ingin duduk dipekarangan rumah dengan rumput hijau nan alami, dalam suasana musim panas, [berteduh] dibawah naungan pohon. Namun sebenarnya bisa juga di ruangan hotel dan suara TV dibelakangnya. Kadang-kadagn saya menggunakan kertas dan pensil, namun kadang-kadang langsung menggunakan gitar dan ‘humming’ dan merekamnya. Tak ada spesial trik. Jika ada komposisi yang terasa belum lengkap, saya biarkan saja – kadang hingga bertahun-tahun. Saya punya banyak yang semacam ini. Tapi dalam satu poin tertentu saya coba poles lagi ide-ide yang ada, terkadang hal itu muncul ketika memainkannya dengan musisi yang lain.

WJ: Apa proyek berikutnya?

Dago : Saat ini saya sedang mengerjakan sebuah proyek CD yang sangat menarik. Sebuah kompilasi 4 CD yang merupakan sebuah seri dan diberi titel “morning – noon – evening – night”. Music dengan mood pada pagi hari hingga malam hari, ya semacam itulah. Music yang merefleksikan perputaran waktu setiap harinya. Saya mengerjakannya dengan banyak musisi dan komposer berbakat. Saya juga meng-compose beberapa tune baru untuk proyek ini.

WJ: Apakah masih ada keinginan yang ingin diraih dalam tahun-tahun mendatang?

Dago : Ya, saya ingin mencari keseimbangan antara semua pekerjaan yang berbeda. Baik sebagai record label, publishing company, producer, recording engineer, musisi dan komposer. Buat saya semua pekerjaan yang berbeda ini menjadi satu dan saling mendukung satu sama lain. Tentu saja, karena itu saya harus memberikan perhatian lebih banyak pada composing dan perkembangan sebagai musisi. Karena itulah yang jadi tujuan utama.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker