Interview

INTERVIEW DENGAN LARRY FRANCO – VOCALIS SEKALIGUS PIANIS DARI ITALIA

Italia banyak menyimpan talenta Jazz luar biasa. Sebagai salah satu negara di Bagian barat Eropa, Jazz tumbuh subur. Mereka juga memiliki festival besar seperti Umbria Jazz Festival
yang legendaris tersebut. Dari saya hadir Larry Franco, seorang penyanyi sekaligus pianis
yang berkesempatan ditampil di ajang Java Jazz Festival 2007.

Kami sempat berbincang-bincang dengannya sebelum ia datang ke Jakarta awal Maret 2007 lalu. Dan inilah petikan wawancara antara Agus Setiawan Basuni dari Wartajazz.com dan Larry Franco.

WartaJazz: Apakah anda datang dari keluarga dengan latar belakang musik?

Larry Franco: Tidak juga. Ibu saya sering memaikan piano, tapi bukan sebagai musisi professional.

WartaJazz: Musik apa yang anda sering dengar saat masih kanak-kanak?

Larry Franco : Saya mendengar big band, Frank Sinatra, Nat King Cole, Mel Tormè, John
Coltrane, Miles Davis, tapi juga George Benson,… I suka suara Mark Murphy.

WartaJazz: Apa anda belajar jazz?

Larry Franco : Saya belajar setiap hari, performing disekeliling dan dirumah. Usia 6 tahun saya memainkan piano klasik kemudian saya bermain pertama kali di grup pop musik diusia antara 14 hingga 18 tahun.

WartaJazz: Enam tahun kemudian anda memulai karir sebagai penyanyi Big Band. Apa yang anda lakukan diantara waktu tersebut. Apakah anda kuliah musik?

Tidak kuliah, cuman belajar private saja. Saya sempat tinggal di Los Angeles selama hampir
dua tahun bertemu dengan Gene Melino yang menjadi guru vocal saya. Ia merupakan anggota dari L.A: Voices

WartaJazz: Saat anda memutuskan untuk bermain jazz, apakah ada pengalaman yang
menginspirasi sehingga anda memainkan musik seperti ini?

Larry Franco : Saya mulai dengan menjadi penyanyi Big Band ditahun 1990, kemudian saya juga mengambil bagian dalam sebuah Dixeland band selama beberapa tahun. Setelah itu saya terkagum-kagum dengan suara Nat King lalu saya meninggalkan band dixie tersebut dan membuat grup trio dan quartet juga quintet. Saya terus tampil bersama bigband sembari terus bersama quartet. Namun dengan quartet saya benar-benar bisa mencurahkan jiwa saya. Saya senang memainkan piano dan bernyanyi pada saat yang bersamaan. Saya telah merekam sebuah CD luar biasa bersama Jimmy Cobb, Ira Coleman dan Dado Moroni, dimana saya hanya bernyanyi saja. Tapi saya merasa lebih fun dengan quartet saya.

Wartajazz: Ira Coleman pernah tampil ke Indonesia beberapa tahun lalu.

Larry Franco : Ira is wonderful. Saya akan bertemu dengannya di Dubai. Ia akan datang bersama Dee Dee Bridgewater … dan saya yakin kami akan ngejam bareng.

WartaJazz: mana yang lebih dominan, menjadi penyanyi atau pianis?. Mengapa?

Larry Franco: Yang lebih dominan bernyanyi tapi dalam dua tahun terakhir predikat pianis
nampaknya juga semakin lekat dengan saya. Saya senang bermain piano dan menyatukannya dengan atmosfer musik. Saya suka Fender Rhodes dan Hammond, tapi hati saya lebih kepada grand Piano. Kadang-kadang saya gunakan keduanya jika Piano tak tersedia. Tapi jangan lupa, bahwa saya adalah penyanyi yang juga memainkan piano. Jadi jangan bandingkan saya dengan Dado Moroni…

WartaJazz: Apakah situasi di Italia mendukung karirmu, sebab Italia dikenal sebagai salah satu negara yang musik Jazznya sangat berkembang di Eropa.

Larry Franco: Situasinya tidak banyak membantu. Saya setuju bahwa saat ini saatnya crooner, tapi jika anda tidak mempromosikan diri sendiri, dan yang terlebih penting lagi, jika anda tidak memiliki proyek yang bagus, rasanya sangat sulit. Dia Italia ada banyak lobby [yang harus anda lakukan]. Festival terbaik selalu menampilkannama yang sama. Tapi saya rasa ini juga terjadi dimana-mana. Saya rasa kita perlu tempat yang lebih luas terutama bagi orang-orang baru. Mereka musisi-musisi yang baik. Saya percaya proyek “Import-Export” merupakan album yang sangat bagus. Saya sudah mencobanya di Australia, Hong KOng, Japan, Italy dan berhasil. Apakah anda sudah membaca review dari majalah Cadence Magazine? Mereka juga mengatakan menyukainya. Dan sebagai seorang penyanyi dari Italia, saya tersanjung telah di rekomendasikan majalah Cadence.

WartaJazz: Jadi anda sudah merilis 10 album?

Larry Franco: Ya, enam diantaranya bersama Dixieland Italian Project, satu album dedikasi
pada Nat (my first love), satu dengan septet Italian Jazz Ensemble (dimana ada sejumlah
ide-ide baru), satu dengan Dado Moroni, dan yang terakhir dengan quartet ini.

WartaJazz: Dibagian mana dari Italia anda tinggal?

Di Italia ada banyak jazz lebih dari yang orang-orang bisa pikirkan. Saya tinggal dibagian
selatan. Jadi akan sulit tampil dibagian utara (kira-kira 1000km) jika tak untuk acara
besar. Sebab klub tak mampu membayar ongkos bensin dan hotel untuk jarak sejauh itu.
Tapi saya termasuk yang masih sering berkeliling.

WartaJazz: Jadi anda banyak menghabiskan waktu berkeliling dunia ketimbang bermain di Italia?

Saya senang di Italia tapi lebih senang berkeliling dunia. Karenanya tak banyak waktu untuk
bermain di Klub-klub jazz disana. Hanya beberapa Festival saja dimusim panas. Saya senang dengan panggung yang besar, hotel yang nyaman dan orang-orang baru menyokong langkah yang saya ambil.

WartaJazz: Bagaimana anda bisa diundang oleh Java Jazz Festival?

Larry Franco: Lewat Mr Ostelio Remi (pimpinan Instituto Italiano di Cultura di Jakarta -red), dan kemudian dengan Peter Ghonta dan Paul Dankmeyer. Kunjungan saya kali ini disponsori oleh The Italian Institute of Culture.

WartaJazz: Apakah anda pernah bekerjasama dengan Prof Remi sebelumnya?

Larry Franco: Belum, tapi kami sering berhubungan semenjak saya di Lithuania. saya bukan Ron Carter, atau Jamie Cullum. Jadi kami butuh bantuan

WartaJazz: bagaimana anda membentuk quartet ini.

Larry Franco: Saya melakukan riset cukup besar diantara para musisi di daerah Puglia. Kemudian saya bentuk trio lalu saya mencari seorang solois. saya mencoba bermain bersama clarinet player, Bepi D’Amato dan tampil bersamanya di Umbria Jazz di Ischia Island selama seminggu. Lalau saya mencoba lagi dengan gitaris Guido Di Leone dan tampil di Australia dan Hong Kong selama kurang lebih 21 hari di tahun 2005. Lalu saya mengajak seorang Trumpet player tampil di Bucarest setelah itu, saya bertemu dengan tenor player saxophonis Michele Carrabba. Ia orangnya. “He was the man” seperti kata orang Amerika. “that’s the magic!” Ia bermain hampir seperti Coltrane dan Michael Brecker dan dan suaranya itu memberikan atmosfer yang cocok untuk merubah mood sesaat setelah saya bernyanyi. Kami kemudian sering bermain setiap Rabu disebuah klub dengan rumahy. Setiap minggu saya bertemu solois baru, masih mencari yang lebih bagus, tapi belum menemukannya.

WartaJazz: Bagaimana anda membuat komposisi lagu-lagu anda?.

Larry Franco: Buat saya merupakan hal penting untuk mencurahkan semua jiwa raga dan sensasi saya. Saya mengkompos lagu-lagu orinisil dalam periode waktu tertentu dan saat itu
ercipta, saya persembahkan untuk anak dan istri saya. Saya biasanya buat musiknya dahulu baru kemudian menambahkan lirik. Musik dan harmoni
merupakan hal penting.

WartaJazz: Apa rencana anda setelah album export-import?

Larry Franco: Import-Export baru memulai bagian potensialnya. Kami dapat bermain lebih baik lagi dan terus lebih baik. Tapi saya juga merencakan dua hal. pertama adalah album yang sepenuhnya karya-karya saya sendiri. Dan yang kedua adalah project yang didedikasikan kepada nama-nama besar didalam dunia jazz yang lampau. Ada seorang teman (meninggal November lalu) dan telah menulis 14 portaits tentang Great Musicians dan Komposer (Ellington, Fats Waller, Nat King Cole, Billy Holliday, Charlie Parker, Louis Armstrong…) dengan original lirik dan musik. Namun sayangnya liriknya berbahasa Italia. Selain itu saya juga sedang mengerjakan proyek bersama quartet yakni mengajak seorang fisarmonica player (seperti Galliano).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker