Interview

Andi Wiriantono & Friends : Sajian elektrik dari seorang pemain piano akustik

Ada rasa hilang saat menyimak lagu kedua yang ditampilkan oleh pianis Andi Wiriantono pada konsernya di Java Jazz Festival 2013. ”Roof Garden” yang dibawakan Andi beserta grup yang terdiri dari Franky Sadikin (bass), Ossa Sungkar (drums), Karty Rosen (gitar), Devian Zikri (soprano), Andre Siahaan (saxophone) mengiringi vokalis Nesia Ardi yang dibantu 3 vokal latar langsung menghapus suasana minimalis yang ia bangun melalui permainan solo grand piano di pembuka konser.

Memang format electric-lah yang ditampilkan Andi Wiriantono & Friends di Semeru Garuda Indonesia Hall sore itu.

 ***

WartaJazz (WJ): Kok sekarang Andi Wiriantono jadi lebih elektrik?

Andi Wiriantono (AW): (Saya menikmati keduanya), Maka dari itu tadi saya solo di lagu pertama dan main (berdua) grand piano dengan drummer Ossa Sungkar (di lagu “Masquenada”) untuk menunjukkan image saya sebagai acoustic player. Jadi tetap dua-duanya dinikmati. Dulu sebelum ke Amerika, saya punya grup electric juga.

WJ: Energi apa yang didapat saat Andi bermain dengan teman-teman tadi?

AW: Yang pasti kita tak menduga. Ternyata much better dari rehearsalnya. Kita bisa interaksi yang bagus (di panggung). Kadang-kadang apa yang di rehearsal dan yang terjadi di panggung itu berbeda. Dimana di rehearsal seakan ada salah akan kita ulang. Sedang di panggung, misal kita lupa, disitu tingkat/level dari seorang pemain bisa diukur, yaitu bagaimana mereka menutup pertunjukan tetap berlangsung lebih baik, dan bahkan lebih baik, pada waktu hal yang tidak sama dengan yang di rehearsal. Yaitu bagaimana kita menyikapinya.

WJ: Pemilihan personilnya berdasarkan apa?

AW: Kebetulan saya punya pengalaman, banyak pemain yang tidak mempunyai waktu. Tetapi ini adalah teman-teman lama, termasuk junior saya, murid saya, sehingga bisa saya pimpin dan tentukan (waktu) latihan-latihannya. Saya sudah beberapa kali Java Jazz (sebelumnya), saya mengajak beberapa pemain yang padat sekali sehingga latihannya tidak optimal.

WJ: Bagaimana proses finalnya?

AW: Justru itu, saya sering terjadi begitu, selamatnya kita sekelas, untuk menutupi itu sehingga bahkan lebih bagus. Tapi ada juga yang lebih jelek.

***

Ya., memang pertunjukan Andi Wiriantono terlihat cukup banyak dihadiri oleh penonton. Umumnya mereka terlihat terbawa oleh suasana groove funky yang dibangun  oleh The New Concept Band dari Andi Wiriantono ini. Setelah lagu dari yang dipopulerkan oleh Al Jarreau tadi, berturut dimainkan ”Masquenada”, ”Take Five”, dan ”Groovin High”. Nesia Ardi, yang akrab disapa Ines, dengan atraktif  melantunkan lagu sembari membangun komunikasi dengan penonton.  

***

WJ: Ada yang menarik dari konser-konser di Java Jazz Festival tahun ini?

AW: Saya lihat di Java Jazz 2013 ini Miles Smiles educated the Indonesian audiences. I think this the only one group that educated the Indonesian audiences, definitely.  Dari sisi skill one by one, dynamics, interaction mereka. (Dapat dilihat) ketika mereka main miring-miring, upper structure triads, berjalan very well di Miles Smiles. Itu luar biasa. Mereka benar-benar mengeluarkan suara yang east coast styles.

WJ: Apa pertunjukan mas Andi tadi sudah bisa disebut mengeducated penonton yang datang?

AW: Jika mereka memperhatikan apa yang saya sentuh, not-by-not, pasti tahu apa itu kelebihannya. Istilahnya sumur, yang namanya dalam adalah relatif, sampai di dasarnya. Jadi tinggal mana yang kepancing. Meski hanya funky tetapi tetap tidak melupakan skill.

WJ: Sebagai pengajar, apakah Andi lupa membuat karya?

AW: Saya ada karya, my own compositions, seperti di Java Jazz tahun lalu saya buat lagu untuk alm oom Bubi Chen, saya buat ”Bebop Mix Blues”. Lalu di Jazz Goes To Campus juga ada (Lagu berjudul “No More Choices”), di @america “Ostinato For My Mom”, banyak, tapi tidak saya keluarin, semua. Soalnya saya merasa I’m paying for this event, bukan promote my album.

***

Tidak terasa durasi waktu satu jam telah berlalu dan pertunjukan dari Andi Wiriantono & Friends telah sampai pada puncak. “Pick Up The Pieces” hits dari album Candy Dulfer Sax-A-Go-Go dihadirkan untuk menutup konser mereka dengan diberi imbuhan canda saat tiap pemusik bergiliran bermain solo. Namun tetap untuk penampilan Andi Wiriantono berikut kami menunggu sesuatu yang baru, yang beda, yaitu komposisi-komposisi orisinil karya Andi Wiriantono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker