NewsProfile

Chien Chien Lu, vibrafonis asal Taiwan

Chien Chien Lu, sebelum tahun 2012 belum pernah mendengar musik jazz. Setelah menghabiskan masa kecilnya dengan mengambil pelajaran piano dan bermain marimba di orkestra terkemuka.

Vibraphonis kelahiran Taiwan ini belajar dengan baik dalam perkusi kontemporer, tetapi diet musiknya adalah dari negaranya-terutama musik klasik tradisional Taiwan, pop Cina dan K-pop.

Kurang satu satu dekade kemudian, Lu telah merilis rekaman jazz debutnya, “The Path” sebuah karya eksplorasi yang mengacu pada latar belakangnya, serta cintanya kepada sesama viprahonis, Roy Ayers.

Seperti yang dikatakan Lu, “The Path” hanya mungkin setelah secara acak menyetel ke stasiun radio jazz saag dia masih tinggal di Taiwan.

Terpesona oleh kebebasan musik, Lu mencari guru piano jazz saat mengerjakan masternya dalam pertunjukkan musik Taipei National University of the Arts. Dan pada tahun 2015, ia mengarahkan pandangannya ke Universitas Seni Philadelphia untuk mendapatkan gelar lain, kali ini dalam studi jazz.

Lu mendarat di Amerika dengan sedikit pengalaman dalam jazz, tetapi dipersenjatai dengan nada yang sempurna, yang katanya diharapkan dari musisi Taiwan. Dia bisa melihat nada-nada dibenaknya saat pemain lain bermain solo-tapi dia berjuang dengan perasaan santai dan berayun. Tetap saja Lu terbukti cepat belajar, terutama sekali Jeremy Peit membawamya di bawah sayapnya. Lu pertama kali bertemu dengan pemain trompet ini pada tahun 2017 di Banff International Worlshop in Jazz and Creative Music, di mana dia berada di fakultas, dan beberapa saat kemudian dia memintanya untuk merekam rilisan 2019, Jeremy Pelt, “The Artist” dan tur dengan grupnya.

Dibantu oleh kekuatan band Lu, ditarik sebagian dari ansambel Pelt, feeling adalah salah satu kekuatan Pelt pada lagu-lagu seperti, “We Live in Brooklyn Baby” sebuah pengerjaan ulang lagu Roy Ayers tahun 1972, dengan alur dari Lu seperti sifat alaminya.

Lu menemukan suaranya disorot dengan indah di album, “The Path” dengan tiga selingan di mana dia berbicara tentang latar belakang dan jalannya menuju jazz. Secara khusus, visi Lu yang berbeda mengkristal pada lagu jazz, “Blossom in A Stormy Night” sebuah lagu rakyat Hokkien Taiwan tentang seorang wanita yang beralih ke prostitusi setelah tunangannya meninggalkannya. Lagu ini di mulai dengan ibu Lu menyanyikan lagu ini tahun 1934 dan kemudian dilanjutkan dengan pemimpin band yang menambahkan melodi lembut dan solo yang terinspirasi. Lu mengatakan, dia selalu menyukai lagu itu, karena menunjukkan seberapa jauh kemajuan wanita.

Dan saat Lu memadukan masa lalunya dan penguasaan barunya terhadap tradisi jazz, dan itu dengan tajam menyoroti seberapa jauh dia telah melangkah-dan ke mana dia akan pergi.

Ahmad Jailani

Menyukai jazz sejak masih di SMP. Wiraswastawan yang mulai membentuk komunitas Balikpapan Jazz Lovers pada 2008 ini juga kerap menulis artikel jazz di koran-koran lokal di Balikpapan dan sejak 2009 rutin menulis tentang jazz di akun facebook.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker