News

JAZZ IMPROVISASI BERSAMA TRIO BRAAM

Pentas Art Summit Indonesia 3 menjadi meriah dengan hadirnya Trio Braam. Bertempat di Gedung Kesenian Jakarta, 19-20 September lalu kelompok trio asal Belanda yang terdiri dari Michiel Braam(piano), Wilbert de Joode(double bas) dan Michael Vather(drum) menyuguhkan permainan jazz yang kaya dengan improvisasi.

Braam membuka permainan dengan menghadirkan ‘Meet’. Seolah menceritakan sebuah pertemuan 3 orang musisi, pianis bertubuh subur ini memainkan jari-jarinya dengan lincah, sementara De Joode meresponnya dengan menggesek double basnya dan Vatcher memukul drumnya. Nomor pembuka ini membuat suasana menjadi hangat.

Menyusul pada nomor berikutnya ‘Amburgh’, Vatcher menggebuk drumnya menggunakan brush stick namun tak lama kemudian ia menabuh drum dengan kedua tangannya. Meski demikian, nomor yang disajikan dengan tempo lambat ini, tetap mengusung free improvisasi yang kental. Seusai nomor ini mengalirlah permainan dengan ‘Blue’, ‘Green’, Gold, Grey dan seterusnya.

***

Buat sebagian penonton permainan Braam malam itu mungkin sedikit bercanda, dimana kadang-kadang permainan yang disangka penonton – bahkan bagi de Joode atau Vatcher – telah berakhir tapi Braam tetap melanjutkan permainannya. Dalam nomor lain, ia bahkan menghentikan permainan yang dikira audien masih akan berlanjut. Tak urung hal tersebut membuat penonton menjadi tertawa. Namun sebenarnya Braam hanya mencoba memberikan ruang gerak buat dirinya untuk mengembangkan permainan tanpa harus dibatasi dengan waktu. “Jika menurut saya permainan sudah harus dihentikan, saya akan segera berhenti,” ujar Braam yang ditemui oleh WartaJazz di Hotel Treva Menteng, tempat mereka menginap. “Tapi saya tidak pernah menginstruksikan kepada pemain yang lain untuk berhenti, semuanya mengalir saja”, imbuhnya.

“Jazz buat saya adalah demokrasi, ketika dipanggung saya memberikan kebebasan untuk seluruh pemain memberikan kontribusi pada permainan saya”, demikian Braam mencoba menjelaskan konsep permainannya. Hal itu terlihat memang dalam permainannya diatas panggung.

Dalam nomor ‘Porrow’ misalnya, Michael Vatcher meraih sekumpulan potongan-potongan pipa kecil yang panjanganya berbeda-beda, yang kemudian dijatuhkan kelantai yang menimbulkan bebunyian yang tak beraturan. Bahkan terkadang potongan tersebut dilemparkannya sehingga keluarnya bunyi gemerincing. Dalam nomor yang lain ia mengambil cymball dan menggeseknya dengan gesekan biola. Terkadang ia menggerus cymball tersebut dengan stick, sehingga terdengar bunyi yang aneh buat telinga.

Wilbert de Joode
juga tak ketinggalan. Dengan double bassnya, musisi berkatamata ini terkadang memetik bassnya, namun sering pula memainkannya dengan menggesek bahkan mencabiknya. Pada kesempatan lain ia memukul-mukul badan bass tersebut sehingga komposisi yang dimainkan menjadi lebih berwarna.

Diakui oleh Braam, komposisi yang mereka mainkan lebih banyak improvisasi ketimbang memainkan aransemen tertulis. “Hanya 20 persen yang tertulis”, ujar Braam. Hal itu menyebabkan ruang geraknya menjadi lebih fleksibel selain karena mereka memainkan karya-karya sendiri.

***

Trio Braam ini telah menelorkan sebuah album bertitel “Monk Materials”, sebuah album yang digabung dengan album Bentje Bram – kelompok Quintet yang dipimpin oleh Braam juga – berjudul “Playing The Second Coolbook” yang dibundel dalam format dobel CD. Album Trio tersebut direkam saat mereka tampil dalam sebuah festival “Jazz Marathon” di Groni

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker