InterviewNews

WAWANCARA DENGAN DAVID SILLS

David Guy Sills lahir dari pasangan Bernard Sills dan Barbara Sills di Los Angeles, 12 Februari 1970. Peniup saksofon yang memiliki warna favorit biru ini telah merilis sedikitnya tiga album yaitu ‘Hangin Touch’, ‘Journey Together’ dan ‘Bigs’. Dua diantaranya lewat perusahaan rekaman ternama, Naxos Jazz. Album Bigs merupakan karyanya yang baru saja dirilis, berikut ini petikan wawancara kami dengan David Sills :

WartaJazz (WJ) : Apa konsep dari album “Bigs” ?

David Sills(DS) : David Sills : Konsep dari “Bigs” adalah merekam musik yang dapat mempertunjukan kemampuan individual musisi dan bakat mereka yang luar biasa namun melakukannya dalam suara group yang bersatu. Saya secara pribadi menginginkan sound yang terbaik dan untuk menghasilkan sound yang cantik saya akan berusaha untuk meramu tune orisinil dan sedikit standar. Saya menyukai musik yang kaya dengan warna dan selalu mencoba untuk menciptakan album yang dapat membuat para pendengar tidak hanya sekedar mendengar bebunyian dari instrumen yang dimainkan namun lebih dari itu dapat merasakan tekstur dan warna dari musiknya. Dapat memiliki swinging jazz feel yang baik adalah salah satu upaya yang saya coba.

WJ : Berapa lama proses pembuatan album ini hingga siap untuk diedarkan?

(DS) : Merekam musik sebenarnya relatif cepat. Sekitar dua hari di studio dan beberapa kali latihan pemanasan dan gig sebelum rekaman untuk mempersiapkan musi[yang akan dimainkan]. Saya dapat meyakinkan bahwa musiknya sudah siap bahkan sebelum kita mulai latihan, dan itu merupakan saat yang baik untuk belajar [satu sama lain] sebagai sebuah grup. Bagian yang agak panjang dalam proses ini dan album sebelumnya adalah menunggu perusahaan rekaman merilis album tersebut. Untuk “Bigs” misalnya, membutuhkan satu tahun setelah kami menyelesaikan album ini dan menyerahkannya ke perusahaan rekaman [Naxos Jazz].

(WJ) : Bagaimana kedekatan anda dengan para pendukung album ‘Bigs’ ini?

(DS) : Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan para musisi, mereka adalah orang-orang yang saya kagumi dan saya banyak belajar dengan mendengarkan dan main bersama mereka. Mereka itu para musisi yang berempati dan bereaksi terhadap hal-hal di lingkungan sekitar mereka. Oleh sebab itulah saya berfikir bahwa mereka sangat kompak dan beruntung bisa bermain dengan mereka.

(WJ) : Apa rencana selanjutnya setelah album ‘Bigs’ ini?

(DS) : Saya ingin terus bermain dibanyak tempat dan terus memperbaiki diri sebagai seorang musisi. Saya ingin berkelana dan bermain diberbagai belahan dunia. Sedang untuk rekaman, saya selalu mencoba hal-hal baru untul album selanjutnya. Dan saya ingin rekaman lagi dengan para pendukung album ‘Bigs’. Mungkin ada beberapa tambahan pemain alat tiup juga. Terpikir pula untuk membuat album balada kelak. Saya menyukai bermain lagu-lagu jazz standar atau karya sendiri, dengan itu saya berharap juga bisa rekaman. Tentu saya harus melihat peluang yang ada, kira-kira berapa budget yang dibutuhkan untuk rekaman jika perusahaan rekaman tertarik dengan musik saya. Dan terakhir saya akan terus berusaha bikin rekaman terbaik dengan musisi-musisi ternama.

(WJ) : Apakah ada anggota keluarga yang juga bermain musik?

(DS) : Ada. Saudara laki-laki saya seorang pengajar paduan suara dan ia juga bernyanyi untuk acara teater musikal dan opera.

(WJ) : Bisa cerita sedikit mengenai keluarga dan apa pendapat anda mengenai mereka?

(DS) : Ayah saya seorang artis dan memiliki kepekaan terhadap musik secara alami dan bagus. Sedangkan ibu saya seorang guru sekolah. Mereka berdua adalah orang tua yang baik dan banyak mendorong keinginan saya untuk bermain saksofon.

(WJ) : Kapan mulai tertarik bermain jazz?

(DS) : Saya rasa saat usia 10 tahun. Saya [waktu itu] mendengarkan sebuah big band sedang rekaman. Mulai saat itu saya sering membawa saksofon ke sekolah. Saya mendengarkan sedikit musik rock and roll saat remaja namun ketika bermain saksofon saya merasa lebih tertarik ke jazz. Saya kemudian mengembangkan apresiasi untuk segala macam nuansa, warna dan kepribadian dalam musik dan kerap kali muncul bayang romantisme jika bermain disebuah jazz club saat saya masih kanak-kanak.

(WJ) : Apakah anda juga tertarik berkolaborasi dengan beberapa musisi lokal dan menemukan sound-sound baru?

(DS) : Sudah pasti saya tertarik dengan berbagai style dan mempelajarinya. Seringkali saya hanya mendengarkan bagaimana cara yang dipakai orang lain untuk berkomunikasi dengan musik. Dan kemudian mengambil pelajaran yang baik dari hal tersebut. Saya tidak berusaha melakukan perubahan terhadap apa yang sudah dilakukan, tetapi saya memiliki keyakinan bahwa permainan saya akan memberikan efek yang positif dari perspektif dunia yang berbeda.

(WJ) : Apa filosofi dari musik anda?

(DS) : Filosofi saya untuk musik adalah terus berkembang, belajar dan berimprovisasi. Mencoba untuk selalu berpikiran terbuka tanpa harus kehilangan jati diri dan gaya individual saya. Dan tentu saja menikmati hubungan dengan orang lain dalam musik.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker