FestivalNews

LAPORAN DARI PESTA MUSIK AVANT-GARDE FIMAV 2002 DI VICTORIAVILLE, QUEBEC

  Nampaknya berkembangnya suatu jenre musik, apalagi yang jauh dari unsur komersial, akan mandeg tanpa hadirnya sarana komunikasi antara pihak seniman dan kelompok kecil penggemarnya. Hal ini terjadi pula pada jenis musik avant-garde yang memang berfokus pada penggalian ide-ide musik baru dan eksperimentasi dalam berbagai bentuknya, dengan lebih bertumpu kepada kepuasan ekspresif sang seniman daripada kesuksesan secara komersial. Salah satu dari sarana seperti ini adalah festival musik, di mana segmen kecil penggemar jenis musik eksperimental ini mendapat kesempatan berkumpul untuk menikmati hasil kreasi dan pengembangan gagasan baru dari para senimannya.

FIMAV (Festival International de Musique Actuelle de Victoriaville) adalah even tahunan yang diselenggarakan di sebuah kota kecil Victoriaville di propinsi berbahasa Prancis Quebec, Kanada. Setiap tahunnya selama lima hari di bulan Mei para seniman dan penikmat musik baru (Musique Actuelle atau New Music) dari berbagai penjuru dunia berkumpul di kota ini, seperti layaknya sebuah konvensi internasional yang sudah menjurus ke ritual kelompok penganut aliran tertentu. Penulis berkesempatan untuk hadir selama tiga hari dalam acara tahun ini yang berlangsung mulai tanggal 16 sampai 20 Mei, dan menikmati 9 dari seluruh rangkaian 24 konser yang diadakan yang diadakan di tiga gedung secara bergiliran.

Seolah membuktikan kebenaran ungkapan klise bahwa musik adalah bahasa yang universal, festival ini mampu menyatukan musisi dan penggemar dari berbagai penjuru dunia, berbagai generasi, dan beragam aliran musik. Sejumlah musisi datang jauh-jauh dari Australia, Jepang, Inggris, Austria, Jerman, Prancis, dan Amerika Serikat. Sebagian lainnya adalah bakat-bakat muda dari propinsi Quebec yang terlibat dalam komunitas avant-garde Montreal. Semua artis ini menyajikan berbagai corak musik eksperimental, mulai dari free jazz, jazz minimalist, post-rock, noise rock, musik elektronik, paduan vokal atonal, free improv jamming, sampai ke persilangan dari berbagai jenre dan style. Musisi dari beberapa generasi pun diundang untuk unjuk gigi, mulai dari Cecil Taylor yang adalah salah satu figur pionir free jazz, sampai ke kelompok musisi muda yang bising yang tergabung dalam Melt Banana. Demikian pula di pihak penonton. Para penonton muda dengan kagumnya mengamati permainan sang kakek Cecil Taylor, sementara kelompok penonton yang lebih tua berusaha mengapresiasi derau elektronik yang ekspresif dari Lee Ranaldo dan kawan-kawan yang mewakili musisi dari generasi penerus. Berikut ini adalah laporan penulis dari sembilan konser yang sempat dihadirinya secara kronologis.

***

Set Fire To Flames: Wakil Generasi Post-Rock
Kelompok musisi post-rock dari bumi Montreal ini menyajikan konser dari album pertama mereka, Sings Reign Rebuilder. Dengan personil sebanyak 14 orang musisi, dengan instrumen yang berkisar dari gitar elektrik sampai cello dan rekaman monolog orang gila, ditambah satu artis video yang mengurusi proyeksi foto-foto buram ke layar panggung, mereka mampu menciptakan atmosfir suram persis seperti yang terkesan dari konsep albumnya. Musik yang berakar pada karakteristik komposisi ‘Godspeed You Black Emperor’ dengan melodi yang sederhana, repetitif, dan melankolik menjurus ke minimalist, berkembang secara perlahan menuju klimaks dengan permainan ensemble. Namun Set Fire To Flames juga memasukkan elemen improvisasi di antara bagian-bagian yang tergubah, dengan detail yang berbeda dari versi studio album ini. Beberapa momen yang mempesona terjadi antara lain ketika drone elektrik yang seperti dengungan listrik tegangan tinggi tiba-tiba berubah menjadi dengung gesekan cello tanpa jeda. Demikian pula coda yang selalu menjadi klimaks di setiap bagian, baik yang berupa komposisi ataupun yang hasil improvisasi, selalu sukses mengundang kepuasan penonton.
[Album yang direkomendasikan oleh peresensi FIMAV: Set Fire To Flames, Sings Reign Rebuilder (Alien8 Recordings, 2001)]

Lee Ranaldo/William Hooker/Alan Licht/ Ulrich Krieger/DJ Olive: Derau Improvisasi Pengiring Film Bisu
Nampaknya festival kali ini juga menjadi ajang penyampaian sebuah gagasan relatif baru yang berkembang selama dekade terakhir ini. Dua konser dalam festival ini khusus didedikasikan untuk musik improvisasi yang mengiringi film bisu hitam putih. Konser pertama dibawakan oleh Ranaldo dan kawan-kawan, dengan memanfaatkan kebisingan dua gitar elektrik Lee Ranaldo dan Alan Licht serta papan turntable DJ Olive, ditambah olahan jeritan sax Ulrich Krieger dan improvisasi drum William Hooker yang menakjubkan, mengiringi montase gambar dari film-film karya sutradara Stan Brakhage bertema Text of Light. Konser kedua muncul di hari terakhir festival dan merupakan hasil kolaborasi artis Montreal dan Nantes, masing-masing Wetfish dan Trio Angulaire, mengiringi ekstrak dari film-film sutradara Quebec, dengan tema Because They Speak French in Quebec.

Melt Banana: Kegarangan Noise Rock Jepang
Ini adalah grup noise rock dan hardcore dari Jepang yang beranggota dua orang wanita mungil (sang vokalis dan sang pemain bass) dan dua pria (sang drummer dan sang gitaris/pembuat bunyi-bunyian elektronik). Musik yang brutal, lincah, dan garang diimbangi oleh sikap dan tingkah yang lugu dan lucu dari para personilnya, seolah mengawinkan energi dan kekerasan Naked City/Painkiller dan struktur komposisi Ruins yang penuh kejutan tempo, ritme, dan melodi. Satu momen yang sangat menghibur terjadi ketika si vokalis mengumumkan bahwa mereka akan membawakan sembilan lagu pendek yang masing-masing panjangnya rata-rata 15 detik. Si vokalis dengan kocaknya mengumumkan pergantian dari satu lagu pendek ke lagu pendek berikutnya. Di lain waktu, mereka dengan berani dan sangat kreatif membawakan lagu Surfin’ USA milik Beach Boys dalam versi yang sulit dikenali lagi. Penampilan memikat Melt Banana ini seolah menobatkan mereka sebagai primadona festival hari kedua. Para penonton yang selama konser-konser sebelumnya terlihat begitu serius, tiba-tiba saja kelihatan seperti penggemar metal yang kesurupan, berjingkrak-jingkrak sambil headbanging.
[Album yang direkomendasikan: Melt Banana, MxBx 1998/13000 Miles At Light Velocity (Tzadik, 1999) dan Melt Banana, Speak Squeak Creak (Nux Organization, 1994)]

Satoko Fujii/Tatsuya Yoshida: Ketika Cecil Taylor Bertemu Zeuhlisme
Kancah FIMAV hari ketiga secara dahsyat disentak oleh pertemuan atonalitas Cecil Taylor dan kegarangan Ruins. Sosok Tatsuya Yoshida yang memukau di balik drums, dengan gerakan cepat yang terpatah-patah namun sangat presisi, diimbangi oleh permainan lincah Satoko Fujii di piano, sembari keduanya “menyanyi”, menjerit, melolong ala vokal Ruins. Permainan tanpa jeda selama satu jam lebih ini diwarnai perpindahan tempo dan style yang sangat cepat dan penuh kejutan. Kadang kedua musisi terlibat improvisasi yang amat kompak, saling menjawab dengan sangat cepat antara drum liar dan piano atonal. Lelah berimprovisasi, secara mendadak mereka masuk bersamaan ke bagian yang tergubah, dengan style tak jauh beda dari komposisi Ruins atau Koenji Hyakkei tempat Yoshida berasal, hanya kali ini instrumen bass elektrik diganti oleh suara piano akustik Fujii. Lelah bermain serius, Yoshida mengambil jeda untuk mengenakan jaket, memasang mic pada retsletingnya, dan mulai bermain-main dengan membuka-menutup retsleting dan bernyanyi mengikuti ritme latin yang dibangun oleh Fujii. Penonton menyambut dengan gelak tawa dan tepuk tangan ketika demonstrasi ini terpaksa terhenti karena retsleting jaket Yoshida putus. Ini adalah satu dari sedikit konser yang bakal mampu menghibur dan memuaskan penggemar jazz, progressive rock, dan avant-garde sekaligus.
[Album yang direkomendasikan: Satoko Fujii, Vulcan (Libra Records, 2001) dan Ruins, Vrresto (Sonore/Orkhestra, 1998)]

Aki Takase/Konrad Bauer: Free Jazz dengan Trombone dan Prepared Piano
Duet trombone (Konrad Bauer) dan prepared piano (Aki Takase) dari Jerman ini tampil menakjubkan. Siapa bilang piano akustik tidak mampu menciptakan tekstur derau seribut instrumen elektronik dan elektrik? Berbagai benda logam dan sejumlah bola pingpong dikorbankan oleh ibu Aki Takase untuk mengubah suara pianonya. Tak hanya itu, Takase pun melengkapinya dengan permainan yang sangat dinamis, tidak selalu rumit secara melodi, tetapi pilihan nada, intensitas, dan ritmenya sangat membius dan mampu menumbuhkan suasana yang kadang misterius dan kadang mencekam. Tembok derau yang terbangun oleh piano ini diimbangi oleh jeritan trombone Bauer yang tak kalah beraninya. Bauer sendiri sempat menyisipkan pameran ketrampilan circular breathing sambil berimprovisasi solo.
[Album yang direkomendasikan: Aki Takase/Konrad Bauer, News From Berlin (Victo, 2002)]

Keith Tippett’s Tapestry: Big Band yang Menembus Kungkungan Jenre
Penulis masuk ke tempat konser ini dengan sejumlah pertanyaan yang berkecamuk di pikiran: Apa sih yang bisa dilakukan oleh 20 orang musisi jazz avant-garde (rencana semula 21 orang, tetapi salah satu drummernya Tony Levin harus absen karena sakit) bersama-sama di atas pentas? Jangan-jangan ini hanyalah sebuat jazz big band biasa? Ataukah mereka masing-masing akan memamerkan solo atonal yang bertabrakan satu sama lain? Namun semua dugaan ini salah total. Ternyata Keith Tippett dan kawan-kawan dari komunitas avant-garde Inggris, termasuk di antaranya Elton Dean, Julie Tippett, serta para personil Mujician dan Paul Dunmall Octet, mampu menyajikan kejutan yang luar biasa. Tippett memanfaatkan semaksimal mungkin sumber daya manusia sebanyak 20 orang yang tersedia di atas panggung (satu drum, satu bass, tiga vokalis wanita, satu tuba, tiga trombone, empat trumpet, tiga alto sax, tiga tenor sax, ditambah Tippett sebagai pianis dan konduktor). Ia menembus batas berbagai jenre, tidak hanya dengan berpindah-pindah dari satu style musik ke style lainnya, tapi bahkan menumpuknya jadi satu dalam waktu bersamaan. Misalnya, ketika barisan tenor sax sedang asik bersolo atonal secara kontrapuntal, tiba-tiba di latar belakang barisan trombone masuk memainkan melodi dari sebuah lagu folk. Atau ketika salah seorang peniup sax mengambil bagpipe dan memainkan melodi bernuansa celtic, tiba-tiba irama berubah dari swing menjadi sejenis klezmer, sedangkan barisan vokalisnya mulai menyanyikan chant ala gregorian. Persilangan semacam ini secara jenius mengambil berbagai kemungkinan kombinasi yang bisa terpikirkan dan sengaja dirancang oleh Tippett sang arsitek sedemikian rupa sehingga perpindahan antar style berlangsung begitu mulus dan hasilnya sangat aksesibel. Komposisi brilian yang panjangnya hampir 90 menit ini tak ubahnya perjalanan panjang menembus kungkungan jenre musik. Sangat pantaslah kalau konser ini sejak awal dijadikan andalan panitia sebagai maskot festival.
[Album yang direkomendasikan: Centipede, Septober Energy (RCA Neon 1971; rilis ulang What Disc 1999), Keith Tippett, Une Croix dans l’Ocean (Victo, 1995), dan Paul Dunmall Octet, The Great Divide (Cuneiform, 2001)]

The Necks: Jazz Minimalist
Trio akustik bass-drum-piano dari Australia ini membawakan musik yang unik, barangkali bisa disebut sebagai improvised minimalist. Kesan yang diperoleh dari mendengarkan permainan mereka tak beda dengan kesan yang dihasilkan oleh komposisi-komposisi minimalisme karya Terry Riley ataupun Steve Reich. Dengan berbasis pada motif melodi sederhana pada bass dan piano, diimbangi pola ritmik pada drum dan perkusi, musik mereka terdengar repetitif dan berkembang dari satu motif ke motif berikutnya secara perlahan. Bedanya dari musik minimalisme Riley, motif yang mereka kembangkan di sini adalah hasil temuan spontan di atas panggung. Yang bikin musik The Necks lebih impresif lagi adalah pengembangan motif-motif ini yang secara berangsur-angsur mencapai klimaks di sekitar 5-10 menit terakhir dari satu jam lebih penampilan mereka, di mana ketiga musisi seolah mencapai trance. Kesan minimalisme yang muncul hampir di sepanjang penampilan mereka tanpa terasa berubah menjadi musik orgasmik yang keras, sungguh mengejutkan sekaligus mempesona.
[Album yang direkomendasikan: The Necks, Piano Bass Drums (Fish of Milk, 1998), The Necks, Hanging Gardens (ReR Megacorp, 2001), dan The Necks, Aether (Fish of Milk, 2001)]

Eugene Chadbourne/Rene Lussier: Avant-Folk? Avant-Bluegrass? Avant-Country?
Mungkin semua itulah yang mereka bawakan malam itu. Eugene Chadbourne dengan gitar dan banjo akustiknya didampingi oleh bintang Montreal Rene Lussier dengan perangkat gitar elektriknya, lengkap dengan penghasil bunyi-bunyian elektronik. Mereka berdua memecah belah dan menghancurkan lagu country dan bluegrass yang terbangun di awal setiap nomor menjadi pesta bunyi-bunyian eksotik yang dihasilkan oleh instrumen masing-masing, dengan baku jawab di antara kedua musisi. Di kesempatan lain, ketika Chadbourne membawakan lagu folk dengan lirik penuh satire, Lussier menyediakan solo gitar elektrik yang keras dan garang. Kedua gitaris kebetulan adalah figur penghibur yang trampil, seperti ketika keduanya berdialog dengan gitarnya, saling berebut memainkan petikan paling akhir untuk menutup lagu, sambil tetap menjaga komunikasi yang baik dengan penonton.
[Album yang direkomendasikan: Eugene Chadbourne/Henry Kaiser, The Guitar Lesson (Victo, 1999), Eugene Chadbourne, New War (House of Chadula, 2001), dan Rene Lussier, Tombola Rasa (La Tribu, 2001)]

Cecil Taylor/Bill Dixon/Tony Oxley: Kuliah Para Kakek Pelopor Avant-Garde
Siapa yang bisa menyangkali keagungan musik avant-garde apabila kakek-kakek yang pernah ikut memeloporinya langsung turun tangan? Tak seperti musisi dari generasi baru, mereka bertiga tidak banyak bertumpu pada kekuatan komponen elektrik, namun lebih mengandalkan kehandalan dan insting bermusik mereka. Pilihan nada dan ritme piano yang sudah menjadi ciri khas Cecil Taylor berpadu dengan tabuhan perkusi aritmik dari Tony Oxley. Di atas semua itu, trumpet Bill Dixon menyuarakan jeritan, lenguhan, gerutuan, dan dengkuran, seolah memunculkan ruang yang luas di atas fondasi tak beraturan yang dibangun oleh piano dan perkusi. Penampilan memukau mereka bertiga sempat menyebabkan penonton meminta dua kali encore, rupanya tak kunjung puas menikmati kuliah langsung dari tiga musisi senior ini.
[Album yang direkomendasikan: Cecil Taylor/Tony Oxley, Leaf, Palm, Hand (FMP 1988) dan Bill Dixon/Tony Oxley, Papyrus Vol. 1, Vol. 2 (Soul Note, 1998)]

Penutup

Sejumlah konser lainnya yang tidak sempat disaksikan oleh penulis nampaknya cukup menarik dan variatif. Mulai dari paduan vokal Mruta Mertsi sampai improvisasi grup Fred Frith/Joan Jeanrenaud/Miya Masaoka/Larry Ochs, dari kolaborasi bilateral seniman derau elektronik Merzbow dan Pan Sonic sampai duet drum Hamid Drake dan Gerry Hemmingway, dari eksplorasi konsep kesunyian oleh kelompok Polwechsel asal Austria sampai konser multimedia digital hasil kreasi Pierre Hebert dan Bob Ostertag. Seperti edisi festival di tahun-tahun sebelumnya, ada kemungkinan bahwa rekaman beberapa konser terpilih dari edisi tahun ini akan muncul dalam bentuk CD yang dirilis oleh label Victo. Kita tunggu saja.

Satu hal yang sungguh nyaman dinikmati di pesta FIMAV ini adalah atmosfir yang begitu akrab antara para artis dan penonton, terutama di luar panggung. Tak jarang kita jumpai Keith Tippett di lobi hotel membalas sapaan penggemar yang lewat. Tatsuya Yoshida dan Satoko Fujii pun sempat terlihat di tengah-tengah antrian orang yang akan masuk ke gedung konsernya Aki Takase. Demikian pula artis-artis muda Montreal seperti Bernard Falaise dan Sam Shalabi ikut berbaur di tengah-tengah penonton hampir di setiap acara konser. Penulis juga sempat bersapa-sapaan dan berbasa-basi di lobi hotel dengan Eugene Chadbourne yang begitu ramah, namun sungguh sayang hanya berlangsung sejenak karena taksi sudah menjemput untuk membawa penulis ke terminal bis. Nah, jika sidang pembaca yang menggemari jenis musik paling eksperimental ini suatu saat kelak menemukan diri terdampar di Kanada di sekitar pertengahan bulan Mei, maka jangan terlewat untuk mengunjungi kota kecil Victoriaville di propinsi Quebec dan menikmati sajian gagasan-gagasan terbaru dari dunia musik avant-garde yang terus berkembang tanpa kenal lelah, atau sekadar berkumpul dan berkenalan dengan musisi dan sesama pecinta musik eksperimental yang di dunia ini tidak banyak jumlahnya.

Referensi
[1] Buku program festival FIMAV 2002
[2] Situs FIMAV http://www.fimav.qc.ca
[3] Situs Victo Records http://www.victo.qc.ca

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker