SENJA MUSIM PANAS DI MONTREAL BERSAMA MIRIODOR
“Kami bikin musik sebagai ekspresi kreatifitas dan demi kesenangan kami sendiri, sama sekali lepas dari tujuan komersial”, ujar Pascal Goblensky, keyboardist kelompok prog rock asal Montreal, Miriodor yang akan tampil di hari pertama pesta musik prog rock NEARFest 2002 di Trenton, AS, akhir pekan 29-30 Juni ini. Tiga hari menjelang penampilan mereka di sana, tepatnya senja hari Rabu 26 Juni, penulis ditemani dua rekan dari radio CKCU FM Carleton University sempat mengobrol dengan Pascal di sebuah klub kecil bernama l’Alize di sudut kota Montreal, memenuhi janji yang sebelumnya sudah dibikin lewat korespondensi. Sementara itu lima personil Miriodor lainnya sibuk mempersiapkan konser di tempat yang sama malam itu yang sekaligus menjadi arena gladi bersih menjelang keberangkatan mereka ke NEARFest.
“Untuk jenis musik adventurous seperti yang kami mainkan, memang maklum kalau penggemarnya sedikit,” lanjut Pascal. Oplah setiap album mereka yang dicetak hanya sebanyak 1000 atau 2000 kopi saja tidak mudah untuk menjadi ludes dalam jangka beberapa tahun. “Namun kami mendapat dukungan penuh dari label kami Cuneiform Records,” tambahnya, “dan dengan bantuan internet, musik kami bisa sampai ke penggemar kami yang tidak banyak tapi tersebar di seluruh dunia.” Ia mengaku pernah menerima surat dari penggemar Miriodor di Eropa dan bahkan Afrika, dan sempat terkejut pula ketika mengetahui bahwa nama Miriodor juga dikenal orang sampai di Indonesia.
Jenis musik penuh petualangan yang disajikan Miriodor mengambil haluan avant-progressive rock yang dicirikan oleh ritme yang ganjil, penuh perpindahan tempo, birama, dan jenre yang mendadak, disertai tingkat disonans yang sangat tinggi, dengan mengambil pengaruh sama kuatnya dari prog rock, free jazz, dan musik avant-garde, namun tidak jarang diselipi elemen-elemen musik folk dan etnik, ciri khas yang umum dimiliki grup-grup yang tergabung dalam kelas Rock In Opposition (RIO). Herannya, ternyata keenam personilnya punya latar belakang musik yang berbeda-beda dan tidak semuanya berangkat dari musik progresif, mengingatkan pada kasus serupa yang menimpa kelompok Discus dari Indonesia. Gitaris Bernard Falaise adalah personil yang paling eklektik, terekspos paling banyak ke berbagai jenis musik, mulai dari jazz, metal, sampai klasik dan avant-garde. Drummer Remy Leclerc dan keyboardist Pascal Globensky adalah dua personil yang paling dekat dengan dunia prog rock. Pascal Globensky sendiri mengaku sebagai penggemar grup-grup prog rock sejati dari awal dekade 70-an seperti Genesis dan lain-lain. Ketika gejolak prog rock mulai surut menjelang dekade 80-an, ia mengaku sangat terpesona oleh album-album rilisan label Recommended Records yang memang mendukung artis-artis berhaluan RIO dan avant-progressive seperti Henry Cow dan Art Bears. “Album-album Recommended Records benar-benar membuka dunia baru bagi saya,” demikian katanya bermetafora sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Sedangkan ketiga anggota lainnya, termasuk pemain bass Nicolas Masino serta dua personil terbaru yang memegang saxophone/clarinet (Marie-Chantal Leclair) dan violin (Marie-Soleil Belanger), ternyata sebelumnya lebih sering berkutat dengan musik klasik dan folk.
Sepanjang konser di malam musim panas itu, seluruh musisi bermain kompak walaupun komposisi-komposisi yang dibawakan cukup sulit. Mereka membawakan lagu-lagu dari album terbaru mereka, ‘Mekano’, yang dirilis tahun 2001, serta beberapa lagu tambahan dari album sebelumnya, ‘Elastic Juggling‘, rilis 1996. Nampaknya kesempatan konser gladi bersih malam itu juga dimanfaatkan untuk menyaring lagu mana saja yang perlu dibuang dari setlist mereka demi memenuhi batas waktu 75 menit yang disediakan panitia NEARFest. Tentang persiapan mereka menjelang NEARFest ini, Pascal mengaku agak nervous sekaligus senang karena mereka bakal tampil di panggung yang sama dengan Caravan dan Steve Hackett yang menjadi pujaannya. Tak terasa satu setengah jam telah lewat, konser Miriodor di malam yang hangat itu diakhiri dengan komposisi “Igor the Motorbike Bear” dari album ‘Elastic Juggling’ yang terkesan campur aduk antara berbagai jenre, seperti jazz, metal, dan musik gypsy, namun teraransir dengan sangat rapi dan njelimet serta dibawakan dengan manis dan penuh percaya diri. Lagu ini cukup representatif bagi musik Miriodor yang berani bertualang, mencoba-coba berbagai resep bagi kepuasan khalayak pendengar yang menyukai musik yang penuh tantangan. Paling tidak, sekitar 70-an pengunjung klub l’Alize malam itu, yang masing-masing hanya wajib membayar 8 dollar Kanada (sekitar 40 ribu rupiah), pulang dengan perasaan puas dan yakin bahwa penampilan Miriodor akan mampu mengejutkan penonton NEARFest yang lebih menunggu-nunggu kehadiran artis dinosaurus macam Caravan, Nektar, atau Hackett.

