KRAKATAU TAMPIL DI BANSKO INTERNASIONAL JAZZ FESTIVAL

Sebuah berita gembira datang dari Dwiki Dharmawan Rabu(7/8) lalu. Ia mengabarkan bahwa kelompok Krakatau Band akan tampil pada Bansko Internasional Jazz Festival di Bulgaria pada 10 Agustus 2002 mendatang.

Sebagai kelompok yang awalnya didirikan di Bandung pada 1985 ini, Krakatau telah berganti personil hingga line-upnya saat ini terdiri dari Dwiki Darmawan (Micro-tuned keyboards dan Synthesizer), Pra Budidharma (Slendro Fretless Bass), Trie Utami pada vokal, Gilang Ramadhan (drums,kecrek, gong), Adhe Rudiana (kendang, perkusi, simbal), Yoyon Darsono (rebab, suling, terompet, kecapi, voice), Zainal Arifin (Bonang, perkusi, voice).

Saat acara ramah-tamah yang dilakukan disebuah restoran milik vokalis, Trie Utami dibilangan Ciputat Raya, Jakarta Selatan terungkap bahwa Krakatau berencana membawakan 10 lagu dari album Mystical Mist and Magical Match serta beberapa lagu baru yang saat ini masih dalam bentuk musik modern sehingga mampu ditampilkan di pentas dunia.

Karya-karya tersebut yakni “Bubuka” sebagai komposisi pembuka yang menampilkan “beluk” atau tradisi vokal suara dari Sumedang Jawa Barat, “Genjring Party” yang diwarnai tradisi Aceh, “Kutemukan” bercorak musik Sunda Cianjuran.

Dilanjut dengan “Mystical Mist” sebuah karya musik yang bertumpu pada karawitan gamelan yang ditampilkan dengan improvisasi keyboard dan rebab, lantas disusul sebuah nomor bernuansa jazz-rock atau fussion berjudul “Egrang Funk”, “Minasa Riborita” lagu tradisional Makassar dan “Mande La Ode” yang mengambil tema dari musik tradisi Minang.

Selain itu juga “Tugu Hegar” yang berarti Tugu (nada dasar) dan Hegar (riang, segar)yang merupakan dialog improvisasi antara gendang dan drums, “Cah Mi Kung” musik keroncong tradisi Betawi dengan lirik bahasa Sunda. Sementara ‘Foolish Fight’ merupakan komposisi lagu S’lendro dalam bahasa Inggris yang juga merupakan materi album baru Krakatau yang saat ini sedang dikerjakan.

Krakatau yang awalnya dikenal dengan gaya musik fusion saat ini sedang terus menggali musik-musik yang berakar pada musik tradisional yang lantas dikemas dalam bentuk komposisi musik modern. Barangkali inilah keunikan yang dimiliki kelompok yang telah tampil diberbagai tempat seperti Australia, Perancis, Jepang dan Singapura ini. Dan ditempat-tempat tersebut mereka mendapatkan sambutan yang hangat.

Musik Krakatau sendiri berlandaskan pada notasi asli seni Karawitan yang disebut S’lendro. Tangga nada S’lendro ini dapat ditemukan pada musik gamelan Bali, Jawa dan Sunda dan diberbagai musik daerah yang lain di Indonesia. Tangga nada pentatonis S’lendro ini adalah notasi khas tradisi musik Indonesia khususnya Karawitan dan tidak dapat ditemukan dimanapun kecuali di Indonesia. Disinilah originalitas musik Krakatau bertumpul pada tradisi yang asli dari Indonesia. Dengan fondasi pada unsur musik Karawitan, musik Krakatau berupaya mengadaptasi elemen-elemen notasi diatonis dan dan penjiwaan musik Barat tanpa meninggalkan kesan etnis yang tetap kental.

Sejalan dengan semangat ini, Krakatau yang berasal dari Jawa Barat juga mengadaptasi tradisi dari daerah-daerah lain di Indonesia. Didalam beberapa komposisi lagu dari album Magical Match misalnya, terdengar warna musik rebana dari Aceh, gamelan Bali, vokal dari Banyuwangi dan tradisi Bajau, di Sulawesi.

Menurut Trie Utami, inilah keistimewaan Krakatau sebagai sebuah band. Bukannya memainkan beberapa lagu tradisional secara murni dan tidak pula memainkan sebuah repertoar musik kontemporer. Belajar dari penampilan mereka ketika di Australia beberapa waktu yang lalu, pertunjukan mereka dipadati penonton dengan sangat antusias. Ketika sebuah band tampil dengan menghentak-hentak membawakan campuran antara fusion, pop, dan etnik serta ditambahkan pula cuplikan beberapa gerakan tarian tradisional dari beberapa daerah Indonesia oleh Trie Utami di depan, hal tersebut ternyata semakin mengagetkan dan para penonton ingin lebih tahu lagi. Pada dasarnya mereka disuguhkan sebuah tontonan yang jarang mereka dapatkan.

Dari persiapan dan latihan terakhir mereka di rumah Gilang, mereka yakin akan sukses jika tidak ada kendala apapun. Dalam kesempatan tersebut mereka mediskusikan dan memantapkan beberapa aransemen lagunya serta susunan lagu yang akan mereka mainkan. Barangkali hal ini juga merupakan “pemanasan” mereka juga untuk penampilannya di Venezuela pada bulan Oktober mendatang.

Yang membanggakan barangkali, Krakatau kini tak hanya dikenal sebagai kelompok band yang mengusung fusion, namun telah melebar dalam kategori World Music yang belakangan menjadi trend yang sangat kuat diberbagai belahan dunia.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker