NewsProfile

ANCIENT FUTURE – ASIAN FUSION


Narada Equinox ND-63023

Volume I - The Music of Eric von EssenKomposisi:
1. Prelude 1:09
2. Bookenka (The Adventurer) 5:18
3. The Trader 4:18
4. Mezgoof 6:20
5. The Empress 5:28
6. Ja Nam 3:53
7. Sunda Straits 4:26
8. Morning Sung 2:48
9. Sumbatico 6:03
10. The Dusk Song of the Fisherman 5:59
11. Ladakh 4:22
12. Garuda 3:18

Musisi :
Doug McKeehan:
Tibetan Bells, Synthesizer, Piano
Matthew Montfort :
Guitar (Electric, Synthesizer,Flamenco,Mandolin), Fretless Bass,
Bùi Huu Nhut
:, Dan Bau
Jim Hurley
Violin
Ian Dogole:
Drums, Caxixi, Dholak, Madal, Talking Drum, Udu, Maung Zaing, Dumbek, Percussion
Jack Dorsey
: Drums
Emam:
Tabla
Eric Golub
: Biola, Kokyu
Hui Zhao :
Gu-Zheng
James Hurley
: Violin
Bill Douglas :
Bass (Acoustic), Chinese Flute, Bass, Flute


Beli album ini

Asian Fusion ini merupakan sebuah konsep musikal lintas batas. Dengan rentangan wilayah yang luas dan kebudayaan yang beragam, album ini juga sekaligus unjuk kebolehan sejumlah pemain yang memang berasal dari benua Asia. Misalnya Zhao Hui yang memainkan gu zheng – sejenis sitar dari Cina, lalu Bui Huu Nhut dari Vietnam.

Pada pembukaan kita langsung disuguhi alunan suara gu zheng pada ‘Prelude’ yang disusul ‘Bookenka(The Adventurer)’ yang terlihat memadukan elemen-elemen khas Jepang dengan unsur jazz. Setelah ‘The Trader’ kita lantas menuju ‘Mezgoof’ yang mengambil ide dasar Qawwali – sebuah musik yang berkembang dalam aliran Sufi yang berkembang di Pakistan dan India. Lagu ini mengingatkan kita pada tokoh Nusrat Fateh Ali Khan dengan albumnya Sufi Qawwalis. Meski lagu yang komposisinya dibuat Ian Dogole ini terbilang apik, namun rasanya lebih terasa nikmat jika menggunakan instrumen tabla. Bagian selanjutnya adalah ‘The Empress’ yang inspirasinya diambil dari ramuan budaya yang umum diera Nara Jepang dengan bagian-bagian dari Jepang, Cina dan India. Lagu ‘Garuda’ yang lantas mengingatkan kita pada lambang negara sebenarnya diambil dari sebuah mitologi Hindu. Sedangkan ‘Ladakh’, merupakan musik tradisi asal Tibet. Disusul sebuah nomor folk ‘Ja Nam’ yang dibuat berirama reggae ditingkahi suara dan bau, sebuah instrumen khas Vietnam. Sayang lagu ini terkesan biasa-biasa saja.

Menyusul ‘Sunda Straits’, secara reflek tergambar sebuah kecantikan yang terhampar dari selat yang memisahkan pulau Jawa dan Sumatra ini. Ian Dogole yang memainkan dholak terlihat cukup berhasil mengangkat nuansa sunda dengan mengupayakan sound yang mendekati kendang. Sementara Eric Golub yang mempelajari musik dari bumi parahiyangan (selain juga India Utara dan Balkan gypsi) ini cukup fasih dalam memainkan biolanya. Hal yang sama pula yang ditunjukan oleh peniup flute Bill Douglas yang pernah tampil bareng dengan artis-artis top macam Terry Riley, Marck Isham hingga Marian McPartland ini. Hal ini seolah ingin dipertegas dengan memainkan ‘Sumbatico’ yang bermaksud menggabungkan berbagai unsur khas Indonesia. Nomor yang ingin memberikan kesan ‘dunia bayangan’ seperti yang dipertontonkan dalam pergelaran wayang kulit.

Jika kita melihat materi diatas ini, mungkin ada pertanyaan kenapa?. Mungkin karena Matthew Monfort yang menjadi leader kelompok Ancient Future ini kerap menyambangi negara yang kaya dengan melodi-melodi yang indah macam India, China dan tentu saja Indonesia. Ia mempelajari musik tradisi yang sangat khas tersebut. Bali dan Jawa hanya sedikit tempat yang ia datangi. Dan inilah persembahannya.(*/WJ)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker