News

SEPEREMPAT ABAD JAZZ GOES TO CAMPUS UI: ‘CELEBRATION UNTUK JAZZ INDONESIA’

George BensonJazz Goes To Campus tahun ini diadakan untuk yang ke 25 kalinya, berarti JGTC sudah berlangsung selama seperempat abad. Lalu apa yang istimewa dalam penyelenggaraan JGTC yang ke 25 ini?

Selain dalam banyak bertabur bintang-bintang jazz Indonesia, kali ini ada tambahan materi acara yaitu Lomba Foto Spontan JGTC, lomba foto ini merupakan langkah yang sangat inovatif dari panitia kali ini karena paling tidak dalam JGTC ini akan makin banyak dokumentasi yang bisa didapatkan.

Lalu yang juga sangat menggembirakan sebetulnya adalah munculnya musisi-musisi jazz muda Indonesia, misalnya grup Irsa’s Latin Jazz League, Imel & Friends, Andien juga Music School Allstars yang terdiri dari anak-anak usia 10 tahunan tapi sudah trampil dalam memainkan alat musik, juga Daya Bigband pimpinan Tjut Nyak Deviana Daudsjah yang banyak beranggotakan musisi-musisi muda, juga para pemenang Jazz Competition yang diadakan dalam JGTC ini yang diikuti oleh para musisi jazz muda dan mereka sudah mulai menampakkan potensi untuk menjadi musisi jazz yang patut diperhitungkan.

Selain itu juga munculnya kembali beberapa “macan” jazz yang selama ini jarang terlihat merupakan catatan tersendiri misalnya dengan kemunculan pianis jazz senior Indonesia Bubi Chen yang sudah jarang sekali tampil dipentas-pentas jazz besar ikut mewarnai JGTC kali ini. Ia kali ini tampil bersama Benny Likumahua Jazz Connection.

***

Seperti biasa dalam event JGTC selalu dibagi dalam dua panggung, dan acara yang berlangsung di dua panggung ini selalu hampir bersamaan sehingga memang mustahil bagi seseorang untuk dapat melihat semua musisi yang tampil di JGTC ini.

Dari Panggung Utama atau Celebration kita bisa menyaksikan penampilan Cannizarro yang dimotori Totong Wisaksono(gitar), Derry Iskandar(keyboard), Adhen Bahri(saksofon, vokal), Dadhi Sufiyadi(drum) dan Eka(bass). Nama yang terakhir disebut memang anggota baru kelompok ini. Sebelumnya posisi tersebut dipegang Aditya Pratama yang saat ini menjadi bassis dikelompok simakDialog. Tampil prima bareng Mus Mujiono, mereka mendapat sambutan yang meriah dari para penonton yang duduk lesehan beralaskan koran. Canizzarro membawakan lagu-lagu dari album terbaru mereka seperti “Cheetah” dan “Night in Samarinda”. Saat dihubungi seusai manggung, Dadhi yang masih bersimbah keringant mengabarkan untuk album mereka selanjutnya akan diperkuat oleh Mus Mujiono.

Usai penampilan kelompok yang mengusung fusion era tahun 80an tersebut, giliran Benny Likumahua Jazz Connection yang tampil di panggung Celebration, seperti biasa Trombonist senior ini tampil mengesankan dengan bintang tamu Bertha dan Bubi Chen. Namun, tak urung Om Benny sempat berkomentar singkat soal kurang primanya sound system, “Saya tak bisa mendengar suara Terompet dan mic vokalnya juga suka ngadat. Jujur saja, jika kita perhatikan dari tahun sebelumnya, memang persoalan sound system masih merupakan momok bagi event jazz terbesar di Indonesia ini.

Sementara dari Panggung Anniversary, sejumlah band-band jazz muda seperti Irsa’s Latin Jazz League dan Imel & Friends memang bisa menarik para penonton yang kebanyakan masih muda dan mahasiswa. Membawakan lagu-lagu jazz fusion yang mudah dinikmati dan lagu-lagu yang sudah populer, misalnya Irsa membawakan lagu “Through The Fire” yang ngetop dinyanyikan oleh Chaka Khan dan sudah akrab ditelinga para anak muda. Sebelumnya dipanggung yang sama, tampil juara tiga dan dua Lomba jazz kompetisi yang diadakan tanggal 30-31 Oktober lalu yakni Chic’s Band dan Khayangan asal Bogor yang disusul Chic’s All Stars.

Tohpati and Friends juga memukau para penonton dengan diperkuat Indro Hardjodikoro(bass), Uce Haryono (drums), Aji Rao (perkusi) dan brass section yang teridir dari clarinet, saxophone, trumpet dan trombone, mereka memainkan musik-musik fusion yang dinamis dan kadang dengan sentuhan musik etnik.

Usai Tohpati tampil, duet Ineke van Doorn(vokal) dan Marc van Vugt(Gitar) mengisi kemeriahan JGTC di panggung Anniversary. Artis dari negeri kincir angin ini tentu saja menghibur penonton dengan membawakan nomor-nomor dari albumnya yang sekaligus menjadi tema tur keliling Indonesianya yakni ‘Uncovered’. Saat jumpa pers Ineke dan Marc menyampaikan rasa senangnya tampil di Indonesia. Bahkan deputy director Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Mr. Ton Hamoen menyatakan bahwa tahun depan mereka akan kembali berpartisipasi.

Giliran selanjutnya gitaris jazz mantan anggota Krakatau, Donny Suhendra selain membawakan lahu-lagu sendiri juga membawakan lagu dari Chick Corea berjudul ‘La Fiesta’ yang bercorak latin fusion dan mendapat sambutan meriah, aplaus penonton membahana lagi ketika grup ini membawakan lagu karya Ivan Nestorman yang juga menjadi gitaris grup ini bertitel “Mongga” yang berbahasa flores, dalam lagu ini Ivan bermain gitar sambil bernyanyi. Selain itu juga dalam lagu ini dr. Iwang Gumiwang bereksplorasi dalam memainkan perkusinya.

Sehabis break sholat Magrib, acara dilanjutkan dengan penampilan grup simakDialog dengan formasi Riza Arshad yang memainkan Rhodes, Tohpati pada gitar, Jalu bermain gendang dan Aditya Pratama pada bass. Quartet yang sempat tampil di Malaysia awal tahun ini membawakan lagu-lagu dari album terbarunya Trance/Mission, mereka membawakan “The Spirit”, “Throwing Words” dan “Unfaded Hopes”. Bagi yang belum akrab dengan musik simakDialog yang baru mungkin akan terkejut karena dalam albumnya yang baru ini musik mereka agak lain dengan album sebelumnya. Riza Arshad dan kawan-kawan lebih banyak lagi bereksplorasi mencari celah-celah yang baru, misalnya dalam lagu “unfaded Hopes” mereka memasukkan warna keroncong dan sedikit musik melayu, dalam penampilannya mereka juga banyak melakukan improvisasi dan dialog musikal antar pendukungnya menunjukkan kematangan mereka dalam mengolah musiknya.

***

JGTC kali ini yang didatangi ribuan penonton yang relatif masih muda dan mahasiswa memang berlangsung meriah. Bahkan menurut ketua panitia Danu yang dihubungi per telepon mengatakan angka 15ribu sebagai target pengunjung tahun ini tercapai.

Meskipun sempat pula terlontar pertanyaan dari Indra Lesmana yang melihat penonton sedemikian banyak apakah mereka memang datang untuk menikmati musik jazz ataukah hanya sekadar ikut meramaikan saja, tapi mungkin hal itu bukan menjadi masalah karena bagaimanapun juga dengan datang ke ajang itu mereka paling tidak tahu dan dapat mengenal musik jazz.

Hal lain lagi yang perlu diberi catatan untuk panitia JGTC adalah masalah sound yang sepertinya kurang sempurna sehingga sering menyulitkan pemain yang sedang diatas panggung, misalnya ada grup yang suara bass-nya tidak terdengar, kemudian suara yang keluar sering tidak balance, mungkin untuk masa mendatang hal ini bisa diperbaiki, juga mungkin perlu dipertimbangkan tempat penyelengaraan lagi yang lebih luas melihat animo pengunjung yang banyak dan memadati tempat pertunjukkan, sehingga jika tempatnya lebih luar pengunjung akan mendapat kenyamanan dalam menikmati pertunjukkan.

Dan lebih dari itu, saat jumpa pers Riza Arshad secara khusus menyoroti pentingnya untuk memikirkan langkah-langkah JGTC kedepan. Sebuah usulan sehingga even ini tak hanya sekadar kewajiban tiap angkatan untuk menyelenggarakannya, namun dibuat lebih profesional dan menjadi suatu lembaga institusi festival jazz yang bukan tidak mungkin bisa menyaingi atau setara dengan even besar semacam North Sea Jazz Festival dan semacamnya. Hal ini memang bukan usulan baru, bersama Chandra Darusman – alumnus FE UI yang juga penggagas kegiatan ini – dan sejumlah rekan-rekan dan musisi lain seperti Indra Lesmana, Chico Hindarto sekitar lima tahun lalu telah melontarkan ide ini. Hanya sayang, sepertinya usulan tersebut belum mendapat tanggapan.

Seperti pepatah bahwa tidak ada gading yang tak retak, meskipun masih banyak kekurangan disana-sini tapi penyelenggaraan JGTC 2002 ini bisa dibilang cukup sukses. Selamat untuk kerja keras Danu, Ery, Mega dan kawan-kawan. Sampai jumpa di JGTC Tahun depan!!!.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker