News

BIMASENA JAZZ EVENING WITH NICK MAMAHIT

Tidak banyak musisi jazz dari Indonesia yang sudah bermain sejak dekade 1950an sampai sekarang masih bisa dinikmati bersama-sama. Apa lagi dengan banyaknya kehadiran musisi di bawah generasinya yang semakin menjamur. Nick Mamahit, yang pada tanggal 30 Maret nanti akan berusia 80 tahun, merupakan contoh seorang pianis yang tetap konsisten sepanjang usianya untuk menyumbangkan kemampuan akan berimprovisasi dan mengaransemen komposisi-komposisi standard jazz maupun beberapa komposisi lama Indonesia dengan memikat dan berbobot. Cukup beruntunglah untuk dapat hadir dalam acara Bimasena Jazz Evening yang bekerja sama dengan Jakarta Jazz Society (JJS) pada Sabtu (25/01/2003) di Hotel Darmawangsa, sekalipun penampilan Om Nick sendiri hanya membawakan 5 komposisi dan tingginya tiket masuk bagi kebanyakan orang Indonesia.

Pada sebelum dan sesudah acara inti digelar juga tampil Ireng Maulana and Friends yang memainkan beberapa komposisi standard musik jazz, tembang kenangan dan bahkan diantaranya membawakan yang sedang populer sekarang di kalangan anak muda. Musisi para pendukung pada acara malam itu antara lain Hendra Wijaya (piano), Benny Likumahuwa (trombone & bass), Sutrisno (sax & klarinet), Benny Mustapha (drum), Didiek SSS (saksofon), Ronny Isany (bass), Hari Tuledo (bass), Dullah Suweileh (perkusi), Ermy Kullit (vokal), Kiboud Maulana (gitar) Karim Tess (trumpet) dan Ireng Maulana sendiri bermain gitar dan banjo.

Dengan didahului dengan beberapa acara serimonial, acara dimulai dengan tembang David Foster ‘After The Love has Gone’ yang memang merupakan tembang pop dan dibawakan dengan apa adanya juga. Kemudian dilanjutkan oleh beberapa tembang pop maupun standard musik jazz seperti ‘Baby Come to Me’ (yang aslinya dibawakan duet Patti Austin dan James Ingram), ‘Begitulah Cinta’ sampai ‘Moonlight In Vermont’ yang sering ditampilan oleh Billie Holliday maupun Stan Getz.

Setelah mc Avi Utomo dengan menghormat mempersilakan pianis senior yang masih bersemangat ini untuk tampil, langsung ‘Juwita Malam’ ciptaan Ismail Marzuki dan ‘Aryati’ dengan lentur dan santai berhasil dibawakannya. Sebenarnya bagi Om Nick, begitu panggilannya, sudah tidak asing lagi dengan menampilkan komposisi-komposisi populer lama atau bahkan mengambil lagu-lagu dari berbagai daerah di Indonesia untuk dikolaberasikan dengan improvisasi khas musik jazz sudah sejak lama. Hal ini tidak sulit bagi Om Nick yang sudah mempunyai “senses of swing” yang kuat seperti yang masih sangat terasa pada penampilannya sekarang ini. Meminjam istilah Ninok Leksono ketika menyebut pianis ini “memotret Indonesia dengan piano”. Album-album “Rindu Lukisan”, “Sarinande” dan “Passing on The Torch” telah membuktikan bahwa ide, kemampuan dan keahliaannya yang layak diacungi jempol dengan sebagaian besar materinya dari dalam negeri.

Penampilan selanjutnya Om Nick membawakan “Summertime”, “I’m In The Mood for Love’ dan ‘How High The Moon’ yang layaknya seperti para pianis jazz kelas dunia. Satu hal yang layak dipetik dari event ini terutama berkaitan dengan Om Nick adalah konsistensi dan semangat beliau untuk tetap tampil dengan kualitas yang tinggi sekalipun ada hambatan usia dan kesehatan yang tidak memadai lagi. Sayang penampilan singkat yang mengesankan tersebut diganggu oleh sound system yang tidak prima.

Sisa acara selanjutnya lebih banyak bersifat hiburan dan Ireng Maulana Band tampil sebagai pemain musik pengiring dansa bagi para hadirin yang sebagian besar datang dari kelompok masyarakat papan atas di Jakarta

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker