News

KONSER LULUK PURWANTO & THE HELSDINGEN TRIO DAN MAESTRO PIANIST DIDI CHIA

Jakarta Jazz Society dan Klub Bimasena didukung WartaJazz.com, akan menyelenggarakan sebuah konser yang telah menjadi agenda rutin JJS dan Bimasena dengan menampilkan penggesek biola ternama Indonesia, Luluk Purwanto & the Helsdingen Trio dan pianist senior Didi Chia.

Acara yang akan mengambil tempat di Klub Bimasena, Jl. Dharmawangsa Raya No. 39 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini akan dilangsungkan pada hari Jumat, 23 Mei 2003 mulai pukul 19.30 WIB. Adapun admission untuk acara ini sebesar Rp. 100.000,- sudah termasuk light refreshment yang telah disediakan oleh panitia.

Bagi anda yang tertarik menonton acara ini, dapat menghubungi Fitria atau Deti dinomor telepon (021) 725 8668 atau Fax (021) 723 6193. Tempat terbatas.

***

Bagi Jakarta Jazz Society dan Bimasena, ini merupakan kegiatan yang kesekian kalinya setelah sukses menyelenggarakan berbagai acara dengan tema yang beragam. Diantaranya Latin Night, Tribute to Nick Mamahit dan lain-lain.

Penampilan Luluk Purwanto yang kini bersama suaminya yang juga seorang pianis, Rene van Helsdingen tinggal di Belanda merupakan hal yang langka. Trio Helsdingen kali ini menampilkan dua orang legendaris jazz di Indonesia yakni Benny Mustapha(drum) dan Benny Likumahua (bass).

Tahun lalu, Luluk Purwanto dan trionya sempat keliling Amerika. Mereka tampil diberbagai universitas di negeri paman sam tersebut. Violinist yang pernah bergabung dengan kelompok Bhaskara dengan salah satu hitsnya ‘Betawi’ merupakan salah satu aset musik Indonesia khususnya Jazz.

Dilahirkan di Yogyakarta, 25 Juni 1959, Luluk Purwanto sempat belajar di New South Wales Conservatium of Music, Sydney, Australia. Sebelum akhirnya masuk Sekolah Menengah Musik(SMM) Yogyakarta lalu melanjutkan ke Akademi Musik Indonesia(AMI) juga masih dikota gudeg tersebut. Namun sebelum lulus, Luluk sudah keluar dan masuk ke Institut Kesenian Jakarta(IKJ).

Selama belajar di IKJ inilah ia berkenalan dengan Abadi Soesman, Bubi Chen, Ireng Maulana dan Benny Mustapha. Tokoh-tokoh inilah yang kemudian mengajaknya bermain di pangung pertunjukan dan memperkenalkannya pada Jazz.

***

Sementara Benny Mustapha, merupakan salah satu legenda drummer jazz terbaik Indonesia saat ini. Belajar dengan Bart Risakotta – drummer yang pernah bermain dengan pianis Nick Mamahit – Benny Mustapha bermain drum secara professional setelah bergabung dengan band Quinta nada pada tahun 1957 di Jakarta. Salah satu ciri khas dari om Benny – demikian ia akrab disapa – adalah permainan brush(sapu) stick-nya. Ia pernah tampil di Berlin Jazz Festival dan ikut serta dalam penggarapan album Djanger Bali yang tersohor itu. Saat ini ia tergabung dengan Ireng Maulana All Stars.

Sedangkan Benny Likumahua, yang lahir 18 Juni 1946 belajar musik dan not balok secara otodidak. Pada awalnya ia memainkan bongo, lalu melihat bas cukup penting lantas ia memutuskan bermain bass yang kelak menjadi instrumen utamanya. Usai menonton film the Benny Goodman story, Benny Likumahua mulai tertarik pada musik jazz. Ia lantas mengganti instrumennya dengan klarinet, lalu saksofon dan kemudian belajar meniup trombon. Jika kita menyaksikan penampilannya kerap dilayar televisi atau panggung jazz, kita akan mendapatkan Benny lebih sering memainkan trombon, meskipun sekali-sekali juga memainkan instrument yang lain.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker