NewsProfile

DAVID BENOIT

Fuzzy Logic: Sebuah Mesin yang Dapat Berpikir Sendiri

Sudah lebih dari 15 tahun ini dia dikenal sebagai salah satu pelopor dari gaya yang sekarang popular disebut dengan smooth jazz. David Benoit, pianis sekaligus juga composer yang pernah karyanya masuk menjadi nominator Grammy Awards ini terus mempertahankan popularitas dan keberhasilannya. Tahun lalu, Benoit memanjakan para pecintanya dengan albumnya yang berjudul “Fuzzy Logic”, sebagai album yang ke-22 sebagai leader selama 24 tahun karier musiknya dan menandai juga sebagai album yang ke-14 di mana dia dengan setiap masih bertahan di bawah label GRP. Di bulan Oktober mendatang dia juga sudah menyiapkan rencana untuk mengeluarkan album terbarunya yang berjudul “Right Here, Right Now” dengan single pertamanya ‘Watermelon Man’ (sebuah komposisi terkenal milik Herbie Hancock pada pertengahan dekade 1960an) yang dibantu oleh trumpeter Rick Braun.

Pianis dan keyboardis yang tahun ini baru saja menerima penghargaan sebagai Keyboardist of the Year dari National Smooth Jazz Awards menjelaskan mengenai album “Fuzzy Logic” bahwa apa yang membawanya kepada konsep album ini adalah sesuatu yang penuh emosi dan irama yang menurutnya barangkali belum pernah dilakukannya selama ini. Meski menurutnya album “Here’s To You, Charlie Brown” yang dikeluarkan GRP tahun 2000 adalah sebuah album persembahan yang berbeda, namun kali ini adalah waktunya untuk masuk ke arah yang lain dan melakukan sesuatu yang lebih inovatif. Kembali bersama Rick Braun, mereka berusaha untuk mencari sesuatu yang baru. Kemudian Stuart Wade, produser kelompok Down To The Bone, membantu untuk memasukan suara-suara yang segar di proyek tersebut. Meski demikian, Benoit masih membuat karyanya sendiri sebanyak 5 lagu dalam album itu. “Fuzzy Logic” sendiri mengacu pada sebuah alat / mesin yang dapat berpikir sendiri.

Album ini mudah dicerna telinga dan judul lagu-lagunya begitu membumi tidak seperti judul-judul lagu dalam gaya smooth jazz pada umumnya. Dalam album ini ada sedikit perubahan konsep yang dilakukannya selama ini. Kalau diperhatikan dalam karya-karya Benoit sebelum ini, paling tidak sekurang-kurangnya terdapat satu lagu dalam satu album yang latar belakangnya menggunakan orkes string. Kali ini merupakan album pertamanya yang tidak serupa dengan album-album sebelumnya. Hal tersebut diganti dengan penggunaan ensemble alat tiup yang dapat menghasilkan tekstur yang berbeda. Lebih menantang katanya. Kesempatan ini juga, dalam beberapa lagunya Benoit menggunakan organ Hammond B-3. “Ada sebuah suara yang khas yang hanya dapat dikeluarkan melalui organ Hammond B-3 dan ini menyenangkan saya ketika tidak sedang bermain piano” begitu jelas Benoit.

Di luar ini, karya-karya Benoit mempunyai jangkauan yang cukup luas. Selain album-album bergaya smooth jazz dan beberapa album mainstream, Benoit juga memproduksi musik untuk film, acara TV dan bahkan bermain musik klasik dan memimpin orkestra juga. Dalam situs Benoit disebutkan tidak tanggung-tanggung dalam sebuah kesempatan dia pernah menjadi kondukter orkes-orkes bergensi bertaraf internasional seperti Los Angeles Philharmonic dan beberapa orkes simphoni di London, Nuremberg, San Francisco, Atlanta, San Antonio dan San Jose. Di Belanda karena keterlibatannya dengan Mr. Holland’s Opus Foundation, membuatnya semakin sibuk untuk mengajar dalam kelas di seluruh negeri kincir angin itu di mana dia berbagi pengetahuan tentang unsur musik gospel dalam musik jazz bersama para muda di sana. Sekarang ini pun, Benoit hampir menyelesaikan karya musical gaya Broadway-nya yang pertama. Proyek ini adalah kerja samanya dengan lirikus Mark Winkler dan bercerita tentang kehidupan Marilyn Monroe.

Masih ada lagi kesibukan Benoit yang lain. Belum lama ini dia juga menerima jabatan sebagai musik director untuk Asia America Symphony di Palos Verdes, California. Di kursi ini, Benoit akan bekerja membantu dalam mengembangkan dan memimpin program orkes tersebut serta membangun konsep musikal “East Meets West”. Sementara itu dia juga tetap melakukan tour bersama kelompoknya dan pada musim dingin mendatang pun dia akan bergabung dalam agenda Smooth Jazz Christmas Tour bersama tokoh saxophonis smooth jazz yang sering tampil di Indonesia, Dave Koz.

Kalau kita melihat ke belakang, terutama album-album Benoit yang diproduksi di bawah bendera GRP mempunyai jangkauan yang cukup lebar. Dari yang bergaya pop, be-bop, orchestral dan hip-hop. Di antara karya-karya pilihannya adalah “Every Step of the Way” tahun 1988 di mana album ini menjadi salah satu nominator Grammy Awards dalam kategori Best Jazz Fusion. Setahun kemudian, dia menggarap album “Waiting for Spring” dengan lebih berorientasi swing dibandingkan dengan albumnya yang lain dengan wajahnya yang santai dan ringan. Album ini berhasil bertengger di posisi puncak tangga album jazz tradisional versi Billboard selama 8 minggu. Tahun 1992 dia memproduksi album “Letter to Evan” di mana album ini adalah persembahan untuk pianis legendaris musik jazz Bill Evans. Tampil bersama super group smooth jazz the Rippingtons didokumentasikan dalam album “The Benoit/Freeman Project” pada tahun 1994. Ketika musisi-musisi dari GRP membuat big band, dia juga ikut berpatisipasi di dalamnya.

Dalam jangka waktu pendek, ada 2 agenda yang kita tunggu berkaitan dengan musisi ini. Pertama, penampilan konser David Benoit dalam acara Live in Concert yang akan digelar di Gran Melia Hotel Jakarta, Rabu 24 September 2003, pukul 19.00 wib atau dapat disaksikan juga di Grand Hyatt Bandung, Kamis 25 September 2003 pukul 19.00 wib. Konsernya di Indonesia ini adalah untuk yang kedua kalinya. Agenda kedua adalah kita menunggu album terbaru dari Benoit yang berjudul “Right Here, Right Now” yang rencananya akan beredar pada bulan Oktober mendatang. Selamat menikmati. (*/WJ)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker