News

LAPORAN DARI 26th JAZZ GOES TO CAMPUS – FAKULTAS EKONOMI UI

LAPORAN DARI 26th JAZZ GOES TO CAMPUS – FAKULTAS EKONOMI UI

Seperti sudah diinformasikan oleh WartaJazz.com beberapa waktu lalu (02/11/02) Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia kembali menyelenggarakan kegiatan Jazz Goes to Campus yang tahun ini memasuki penyelenggaraan yang ke 26.

Sejumlah kegiatan telah dilaksanakan antara lain Jazz Clinic pada 9 Oktober 2003 dan Jazz Competition pada tanggal 8 – 9 Desember 2003. Kemudian dilanjutkan dengan konser akbar yang berlangsung satu hari penuh pada tanggal 14 Desember 2003 kemarin serta konser penutup pada tanggal 23 Desember 2003 mendatang dengan menampilkan Luluk Purwanto & The Helsdingen Trio lewat proyek Mahabharata Jazz & Wayang-nya.

***

Xavier, pemenang kedua kompetisi jazz, tampil setelah FE UI band. Grup yang terdiri dari siswa Institut Musisi Indonesia, membawakan 5 lagu fusion. “Sabda Alam” karya Ismail Marzuki menjadi penutup dan sekaligus lagu mereka yang paling menarik aransemennya. Kemudian Imbroglio naik panggung. Band jawara tahun ini langsung memainkan beberapa komposisi jazz standar. Indrawan (contrabass), Sri Hanuraga (piano akustik), dan Arditya (drum) memberikan tampilan yang cukup matang dan rapi, meski kurang komunikatif dibanding grup sebelumnya. Penampilan pemain piano dan bass Imbroglio memberikan harapan untuk masa yang akan datang. Kedua grup pemenang Jazz Competition ini berasal dari Jakarta.

Meski tidak bermaksud menyangsikan kemampuan penampilan kelompok asal Jakarta, kompetisi tahun ini minus peserta dari kota Gudeg Yogya yang jadi langganan kompetisi jazz seperti halnya tahun-tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan terbenturnya jadwal ujian para mahasiswa/calon peserta dari Yogya yang mengakibatkan mereka absen.

Penampil keempat siang itu adalah Chaseiro. Grup vokal yang berawal dari sekumpulan mahasiswa UI dekade 70-an ini bak pulang kandang. Chaseiro terakhir tampil di penyelenggaraan JGTC kedua tahun 1979 dan sebelumnya juga mereka ikut membidani lahirnya event ini di tahun 1978.. Tentu penampilan kali ketiga ini menjadi sarat dengan kenangan (bagi sebagian penonton), dengan berturut turut dilantunkan lagu ‘Hanya Membekas Kini’, ‘Dara’, ‘Sapa Pra Bencana’, dan superhit mereka ‘Pemuda’ yang disambut applaus. Sayangnya Chaseiro tidak tampil lengkap. Kehadiran Chandra Darusman hanya diwakili oleh lagu-lagu ciptaannya.

Kemudian Spectrum Band mengisi acara berikutnya. Grup muda yang diasuh oleh Benny Likumahuwa ini menyuguhkan komposisi jazz rock ala Uzeb. Spectrum menjadi menarik dengan tampilnya seorang pemain electric-violin dalam formasi band mereka. Meski belum menyatu benar dengan personel lainnya, usaha ini patut diacungkan jempol.

Selain tampilnya pemain biola elektrik, Spectrum menjala perhatian dari permainan Demas pada drum. Drumer muda usia itu (10th) berhasil menunjukkakn enerji dan kemahirannya yang mengundang applus penonton. Tepukan itu pula yang mengantarkan Spectrum ketika mereka berkolaborasi dengan Benny Likumahua di akhir pertunjukan.

Jeda untuk penampil keenam digunakan oleh Cherokee Band bersiap-siap. Pentas JGTC ke-26 merupakan kali pertama tampil bagi band yang sudah meluncurkan satu album “Inner Beauty” ini. Cherokee yang terdiri dari Rio Moreno(keyboard), Hari Toledo(elektrik bass), Iwan Wiradz(perkusi), Kadek Rihardika(eletrik/akustik gitar), dan Agus ‘Escobar’ Mantoro (drum) membawakan lagu lagu dari album mereka tersebut.

‘Roll It!’, ‘El Montuno’, dan ‘One Love Forever’, single dari album mereka dengan menampilkan additional vokal Tompy, dan ditutup dengan ‘Spain’. Suguhan Cherokee memuncak ketika mereka memulai ‘Spain’ dengan intro sebuah lagu dangdut, Sharmila. Penonton bertepuk untuk keberanian aransemen mereka dan kepandaian Tompy berkomunikasi. Di tengah lagu Spain juga diperkenalkan masing-masing personel dan kesempatan mereka unjuk kebolehan. Improvisasi perkusi yang ditabuh bermacam style mulai dari Raggae hingga Arabian dan betotan bass menjadi favorite penonton. Sayang waktu yang disediakan panitia terbatas membuat Cherokee harus menyetop aksi mereka. Mudahan mudahan mereka tidak kapok tampil kembali di JGTC tahun depan.

Tampilnya bakat muda memang selalu menjadi perhatian dalam ajang seperti JGTC. Hal ini yang ditawarkan oleh Trio Japos selain tampilan kemahiran mereka bermusik. Trio Japos yang terdiri dari Bintang Indrianto(bass), Hussein Arief Setiadi (sax), dan Gerry Herb (drum) adalah sosok yang sudah malang melintang di panggung jazz Indonesia. Di dunia industri, mereka telah meluncurkan empat seri album Light Jazz yang terkonsep rapi. Kelanjutan dari konsep album itu yang mereka suguhkan di panggung JGTC minggu sore kemarin dengan menampilkan dua peniup sax muda usia. Trio Japos mengajak Gadis V. dan Sebastian yang keduanya masih berumur belasan tahun. Bahkan Sebastian yang dipanggil Bass G masih berusia sembilan tahun dan baru belajar sax satu tahun terakhir ini. Keberanian Trio Japos menampilkan bakat muda harus mendapat pujian dua acungan jempol. Tinggal sekarang bagaimna mereka me-maiontaian bakat-bakat tiu agar tidak hanya tampil di satu pentas ini saja. Penampilan Trio Japos sendiri mengundang decak kagum penonton pada komposisi orisinil yang mereka bawakan yakni Nasi Goreng dan

Usai penampilan Trio Japos, Marusya Chamber Music mendapat giliran. Kelompok yang sejumlah anggotanya sudah tak asing lagi seperti Marusya Nainggolan(piano), Adi Dharmawan(bass) dan I Gusti Kompyang Raka(gamelan) ini memberikan ‘bonus’ dengan tampilnya Inisisri.

Penampil berikutnya adalah Jem-o-bembe yang terdiri beberapa musisi yang bergabung karena ekspresi bermusik mereka dirasakan terhambat oleh industri.. Rieka dan Ali dari The Groove, Erwin Bragi, Adit ex-Canizaro/Fungcadelic/simakDialog mengajak Bobby, pemain sax dan flute dari Bandung dan Phillipe asal Perancis bergabung memainkan musik yang berbeda dengan musik yang mereka biasa mainkan di grup-grup utama mereka. Hasilnya tidak mengecewakan. Tiga lagu cover antara lain dari Yellowjackets dan Michael Camilo mereka aransemen ulang dengan apik. Peran Rieka sebagai frontman berhasil membangun komunikasi dengan penonton. Pertunjukan mereka menyisakan pertanyaan kelajutan eksistensi dari sidegrup yang baru berumur delapan bulan ini.

Bubi Chen tampil berikut setelah break acara. Penampilan musisi senior ini didukung oleh Pattiselanno bersaudara dan Benny Likumahuwa. Permainan piano Om Bubi, begitu dia akrab dipanggil, masih menujukkan kualitas bermusiknya sebagai Art Tatum from Asia. Riang dan rapi. Bertha menyumbangkan vokalnya pada beberapa lagu dan terakhir ia berduet dengan salah satu muridnya yang juga bermain piano akustik dengan diiringi oleh permainan bass Berry Likumahuwa. Dua bakat muda kembali muncul.

Seperti sudah menjadi langganan panitia JGTC, Fariz RM kembali mengisi acara di tahun ini. Tidak seperti tahun lalu, musisi-penyanyi yang sudah malang melintang di dunia musik Indonesia sejak dekade 80-an ini mengajak serta Bintang (bass), Robert (drum), Syaharani dan Sherina. Hasilnya, penampilan Fariz malam ini menjadi lebih hidup. Permainan bass Bintang sukses menghilankan kesan mesin dari lagu lagu yang dimainkan Fariz melalui keyboardnya. Selain tampil sendiri, Syaharani dan Sherina berduet di lagu ‘What A Wonderful World’. Duet menarik yang mengundang applaus penonton.

Selanjutnya berturut-turut tampil Ketika laporan ini dipersiapkan, Cendi Luntungan & Friends yang menggandeng Idang Rasyidi dan Jeffry Tahalele. Cendi & Idang sendiri sempat memeriahkan acara Jazz Clinic dan Competition yang digelar sebelum acara puncak JGTC ini digelar.

Kemudian dilanjutkan Andien yang tampil bersama I Wayan Balawan dan Indro Hardjodikoro yang kemudian dilanjutkan dengan tampilnya kelompok beken Krakatau yang baru saja kembali dari Philips Jazz Festival di Kuala Lumpur Malaysia, tampil menuntaskan pesta jazz anak-anak kampus ini. Sejumlah lagu dari album Magical Match dan Mystical Mist disuguhkan selain menampilkan juga lagu yang akan dimuat dalam album terbarunya.

Krakatau tampil dengan formasi terakhirnya yang terdiri dari Dwiki Darmawan (Micro-tuned keyboard dan Synthesizer), Pra Budidharma (Slendro Fretless Bass), Trie Utami (vokal), dan Adhe Rudiana (kendang, perkusi, simbal). Krakatau juga akan menampilkan beberapa additional player seperti Yoyon Darsono (rebab, suling, terompet, kecapi, voice), Zainal Arifin(Bonang, perkusi, voice), dan Edy Parameansyah(drum). */WJ)

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker