News

“LAPORAN PANDANGAN MATA” JAZZ IN REFLECTION WITH MICHELLE EFFERIN

Konser 29 Januari 2004 kemarin malam dipadati pecinta jazz Bandung hingga seluruh kapasitas Ramayana Room H. Preanger terpakai (2000 orang; mengutip koran lokal pagi ini). Tahun 2003 lalu, audiens Bandung mungkin pernah menonton konser Michelle Efferin, pianis kelahiran 1982, di auditorium CCF. Di tempat yang sama inilah ia berkenalan dengan Imel “Stroberi” saat Nial Djuliarso. mengadakan workshop sehari sesudah konsernya Juni tahun lalu.Tidak heran jika kemudian konser ini memakai rhythm section yang sering main bareng Imel (dengan penggantian pada drums); Rudi Aru (ac. bass), Richard S. (drums) ditambah Boyke (sax).

Imel pula yang menghubungkan M. Efferin dengan Dewa Budjana sehingga mau tampil di konser ini.Dalam wawancara pagi harinya di radio KLCBS, Budjana mengaku sudah 10 tahun tidak main standards. Ini pula salah satu alasan ia meluangkan waktunya untuk main di Bandung (di samping sedang liburnya GIGI). Kehadirannya sebagai bintang tamu disambut antusias pecinta musik, seingat saya telah cukup lama Budjana tidak main solo di kota ini.

Tajuk Jazz in Reflection dipilih Michelle untuk menggambarkan pilihan komposisi dan arransemen yang dimainkan malam itu sebagai cermin dirinya. Sempat tampil bergantian dengan Imel dalam format quartet di sesi pertama, Michelle membawakan nomer-nomer standards, di antaranya karya Miles Davis. Dibantu Imel untuk vocal “The Nearness of You”. Setelah break dalam sesi ke dua “Alice in Wonderland-nya” Bill Evans dibawakan secara trio, dan tentu saja kemudian bintang tamu yang ditungu-tunggu naik ke atas panggung, memukau penonton dengan duet piano-guitar lewat “Round Midnight”. Minus sax, Imel kembali naik ke pentas menghadirkan vocal pada lagu “Deedles Blues”, di tengah lagu Imel-Michelle berbagi piano untuk solo, saat kembali ke bagian lagu,Imel yang memegang kendali membelokkan lagu ke “Route 66”. Dibawakan pula karya Wayne Shorter, no. pop “Forever in Love”, saat encore sebuah blues lagi dibawakan.

Budjana malam itu tampil 1 jam lebih hanya memakai Parker Deluxe-nya, FX, dan ampli “kecil” (jadi bukan set rak yang biasa dibawanya). Walaupun begitu, penonton tetap terkesima dengan signature soundnya Budjana yang tetap “keluar”. Kematangan membuat idiom permainannya sendiri menjadikan interpretasi lagu-lagu standards di tangan Budjana unik. Pilihan double note, chord voicings, pilihan nada-nada dissonant; membuat yang mendengar tahu benar kalau Budjanalah yang bermain guitar. Duet “Round Midnight” yang tidak direncanakan dalam playlist memperdengarkan sound guitar dan dinamika yang unik (Budjana entah memakai drill atau e-bow sebagai pick guitar?).

Setelah puas berkali-kali menahan nafas penonton baru bisa pulang sekitar pukul 22.30. Sedikit kekecewaan karena munculnya suara humming beberapa kali dan kegaduhan “director” on-screen video (membuat penonton hingga deret tengah menengok ke mixer video di belakang!) akhirnya terbayar. Namun, penonton agaknya lebih kecewa karena konsernya harus berakhir

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker