News

SPIRITUAL JAZZ: KEGELISAHAN SPIRITUAL DWIKI DHARMAWAN DALAM WADAH MUSIK JAZZ

Sejak lama aku adukan kerinduanku
Wahai nurul wujud, cahaya Illahi.
Aku memanggilmu, ya tihami, wahai Makkah Almukarromah,
Sumber keutamaan dan kemulyaan.

Harapan dan tujuan akhirku ya Rasulallah , adalah perjumpaan denganmu,
Itulah puncak keberuntunganku.
Aku telah saksikan pintu keselamatan,
Wahai yang senantiasa dalam kesucian.

Wahai cahaya para nabi,
Wahai puncak keindahan.
Wahai penghulu orang orang yang taqwa,
Hatiku larut bersamamu.

Singkirkanlah hijab yang menyiksaku untuk memandangmu,
Telah kukuh sangkaku pada mu janji keselamatan
Wahai yang maha menepati janji.

Bagimu Sholawatullah,
Dari Tuhanku pemilik semua kesempurnaan.

Cukup bagiku,
wahai cahaya Illahi,
Perjalananku, sungguh terasa panjang.
Tuanku, selama hidupku engkau adalah kekasihku,
Cepatkanlah perjumpaan denganmu itu..

(Arti lirik lagu Tholama Asyku, yang dibacakan Dwiki di pentas Festival Muharram 1425H,)
Jika Anda menilik lagu Tholama Asyku atau dalam bahasa Indonesia berarti (Telah) Sejak Lama Aku Mengadu, akan tergambar rasa gelisah seseorang ketika ia menunggu satu kesempatan pertemuan yang tak diketahuinya kapan dan dimana batas akhirnya. Hal yang pasti baginya, hanyalah ia harus tetap selamat selama masa penantian itu. Akan banyak ujian ia temui yang menuntutnya untuk senantiasa bertawaddu’ menggali serta meningkatkan keindahan iman dan takwanya.

Lirik lagu yang indah, dan sepertinya sari kegelisahan itu yang menjadi titik pacu Dwiki Dharmawan tampil di hari kedua Festival Muharram 1425 H, senin malam (23/2) lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lagu yang dipopulerkan Haddad Alwi dan pernah dikemas dalam bentuk orkestra oleh Dwiki, malam itu dibawakan secara apik melalui olah vokal Penta Boys. Efek orkestra dihadirkan melalui bilah keyboards Dwiki dengan sesekali disela oleh tiupan jazzy saxophone Arief Setiadi. Perpaduan yang menarik dan sekaligus mengena pada pesan festival untuk memberikan tawaran budaya alternatif yang sesuai dengan semangat dan misi Islam di tengah derasnya hegemoni budaya global.

Tidak sampai disitu. Dwiki yang di dua sesi penampilannya didukung pula oleh Sri Aksana Syuman (drums), Adi Darmawan (bass), Agam Hamzah (gitar), Iwan Wiradz (perkusi), Nyak Ubiet Raseuki dan Marzuki Hasan (Voices), juga menampilkan eksplorasi terhadap seni budaya Aceh. Tradisi daerah Aceh yang sangat kental semangat keislamannya dikawinkan dengan aransemen musik jazz oleh Dwiki dkk.

Tembang pembuka konser malam itu, lagu berjudul Saleum, menjadi bukti hasil kolaborasi dua budaya. Saleum dalam tradisi Aceh biasa digunakan sebagai salam kepada penonton ketika mengawali suatu pertunjukan. Marzuki, dosen IKJ yang lebih akrab dipanggil Pak Uki, membuka lagu itu dengan melantunkan pantun. Lengkingan vokalnya yang sangat khas “Aceh” sahdu melirihkan rasa syukur kepada Allah SWT dan memuji kebesaran-Nya atas kesempatan yang diberikan untuk berjumpa dengan penonton malam itu. Lalu satu persatu musisi pendukung naik ke pentas sembari memainkan alatnya. Mereka berpakaian putih dan tanpa menggunakan alas kaki (kecuali Aksan dan Iwan) – atribut yang diusahakan dekat dengan tema festival. Dimulai dari Dwiki yang memainkan keyboards dua susunnya untuk menyambut lantunan voice Pak Uki dan kemudian diikuti oleh Arief.. Setelah semua diatas panggung, musik pun lengkap dimainkan. Ubiet dan Pak Uki dengan bebas lepas menampilkan harmonisasi duet vokal mereka. Saleum diakhiri dengan permainan solo saxophone Arief .

Format seperti Saleum juga ditampilkan pada tiga lagu lainnya. Pada urutan ketiga, Ubiet menyanyikan lagu Bungong Seulanga. Di lagu yang berarti bunga kenanga ini ia menunjukkan daya jelajah seni vokalnya yang amat luas. Duet sax dan voice Ubiet di lagu ini menjadi salah satu sajian menarik malam itu. Gaya vokal Ubiet yang unik kembali dipadukan dengan lantunan Pak Uki di Talek Uglee. Tembang berbalas pantun ini berisi nasihat-nasihat tentang arti kesetiaan diantara sesama manusia. Kemudian tembang berjudul Bismillah ditampilkan untuk mengawali sesi kedua pertunjukan. Lagu yang notasinya berasal dari lagu tradisional Aceh berjudul Ya Rabbani ini liriknya telah diadaptasi oleh Pak Uki. Kesan ritmis dari sesahutan voices Pak Uki dan Penta Boys dihadirkan setelah Dwiki membuka lagu dengan permainan pianikanya. Tetabuhan khas Aceh – rapa’i, dan geundrang – pun ikut ditalu membagun dinamika ritme lagu tersebut. Belum lagi suara jembe yang dimainkan oleh Iwan berhasil menggenapi permainan mereka. Applaus penonton pun mulai hadir, melumerkan kekakuan crowd di sesi awal.

Menyimak eksplorasi kelompok Dwiki Dharmawan & Friends di lagu-lagu tersebut, dapat dijelaskan apa makna yang terkandung dalam tema acara malam itu: Spiritual Jazz.

Spirit, jiwa, jazz yang bagi Dwiki adalah kebebasan berekspresi menjadi dasar pertunjukan malam itu. Gagasannya, setiap pendukung dilepas untuk mengekspresikan kegelisahan mereka melalui keahlian pada instrumen masing-masing. Untuk itu, Dwiki tidak mempersiapkan partitur pada pertunjukan kali ini. Ia berharap, harmoni dan improvisasi yang ditunjukkan di atas panggung murni spontan keluar dari jiwa setiap personel.

Terbukti. Anda telah mendengar paduan ekspresi kegelisahan jazz dengan irama khas seni budaya Aceh di lagu-lagu diatas. Hal yang sama juga dapat dinikmati pada lima lagu cover yang sengaja dipilih. Alasan pemilihannya selain untuk mempertegas benang merah “jazz”, digunakannya lagu-lagu itu sedikit banyak karena memiliki kedekatan tema.

Seperti contohnya pada satu komposisi Pat Matheney berjudul Travel yang dimainkan di sesi kedua. Judul lagu karya gitaris ECM yang telah 16 kali memenangkan Grammy itu mereka coba dekatkan dengan esensi Hijrah dalam kerangka pengertian bertahun baru 1 Muharram. Travel, menjadi sebuah perjalanan yang tidak saja memiliki arti sempit berpindah secara fisik tapi juga mencakup pengertian spiritual.

Kedekatan itu juga tercermin pada lagu-lagu pilihan berikutnya; Maiden Voyage Herbie Hancock yang ditampilkan dengan semangat fusion, bebop ala Charlie Parker dengan Scraple from The Apple serta Speak Low dari Kurtweill yang kembali diisi oleh solo vokal Ubiet.

Sebagai lagu kesepuluh, Dwiki dkk menampilkan komposisi karya Dave Brubeck, Blue Rondo. Komposisi yang aransemennya dimulai dengan nada-nada yang rapi kemudian melebar dipertengahan memberikan peluang tiap personel melepas total ekspesinya. Adi Darmawan yang sebelumnya hanya duduk di kursi, pada kesempatan solo ia berdiri meliukkan tubuh gemuknya mengikuti nada-nada improvisasi bassnya. Lalu perkusi Iwan Wiradz dan drum Aksan berduel mengisi celah improvisasi berikutnya. Kedua instrumen itu saling canda bertukaran nada. Setelah bagian keyboard tampil solo mengetengahkan aroma freejazz serta duet harmonisasi gitar dan sax di ujung sesi improvisasi, lagu kembali pada kerapihan patern semula. Baru pada lagu penutup ini penonton benar-benar lepas memberikan applaus.

Ekspresi kegelisahan pun berakhir untuk sementara. Menyisakan banyak gagasan baru untuk persiapan yang lebih baik di konser yang akan datang di tahun yang baru ini. Selamat tahun Baru 1425 H!

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker