News

DUNIA JAZZ INDONESIA BERDUKA: MAESTRO PIANIS NICK MAMAHIT TUTUP USIA

Nick Mamahit

Pecinta Jazz Indonesia kembali kehilangan seorang Maestronya. Pianis Nicolaas Maxmilliaan Mamahit demikian nama lengkap Nick Mamahit yang lahir di Jakarta 30 Maret 1923 ini meninggal dunia di di ruang ICU RS Perikasih Pondok Labu, Pangkalan Jati, Jakarta Rabu (3/3), pukul 19.30 WIB.

Beliau memang sejak tahun 1988 terkena stroke. Berdasarkan catatan keluarga, ini merupakan kali ketiga beliau mengalami penyakit yang sama. Jenazah almarhum sebelumnya disemayamkan di Rumah Duka Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan untuk kemudian dimakamkan di TPU Tanah Kusir hari Jumat (5/3).

***


Nick Mamahit, lahir di Jakarta 30 Maret 1923 dari pasangan Lodwidjk Maurits yang indo-belanda dan ibunya Louisa Johanan van Opdurp, wanita berdarah Manado yang masih memiliki garis keturunan Belgia-Belanda.

Bakat musiknya turun dari sang ayah yang pandai memainkan flute. Tetapi dari semua saudaranya ternyata hanya Nick Mamahit saja yang terjun serius ke dunia musik. Keseriusan itulah yang ditunjukkannya pada saat sang ayah memintanya memainkan piano dihadapan Vootbal Verniging Minahasa(VVM) – sebuah perkumpulan sepakbola – dimana kala itu sang ayah bertugas menjadi bendahara. Ia pernah mencoba sekolah teknik perlistrikan, namun sepertinya ia memang lebih tertarik memainkan piano, sehingga gurunya menyarakan agar ia memilih sekolah musik saja.

Nick Mamahit berangkat ke Amsterdam dan lantas mengecap pendidikan formal di Amsterdam Music Conservatory mulai tahun 1944 dan berhasil mendapatkan Staatssexamens voor Muziek, Ijasah Negara bidang Musik.

Sekembalinya dari negeri tulip tersebut, ia mendirikan sebuah trio jazz yang bernama The Progresive pada tahun 1950-an yang terdiri dari Dick Abel(gitar) Van Der Capellen(bass) dan Nick Mamahit pada piano. Nama Progresive sendiri diambil dari aliran jazz yang sedang hangat dan kerap dimainkan banyak musisi pada saat itu. Mereka sempat rekaman lewat label Irama, namun sayang rekaman ini kurang mendapat tanggapan pasar. Trio ini bubar. Nick lantas mengajak Jim Espehana dan Bart Risakotta membentuk sebuah trio bernama “Irama Spesial”. Rekaman yang mereka buat lebih bersahaja dan ternyata laris di pasar.

Perjalanan musik Nick Mamahit lebih panjang dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Tercatat sebelum tahun 1945, Hotel Der Nederlandden (sekarang Bina Graha) dan Hotel Des Indes (sekarang Duta Merlin) adalah dua dari sekian tempat berkualitas dimana musiknya biasa berkumandang.

Pada 1956 Nick Mamahit membuat rekaman (long-plays) “Sarinande'” yang memuat lagu-lagu seperti Ajo Mama, Sarinande, Inang Sarge – Leleng Ma Hupaima, Gunung Salahutu, Rayuan Pulai Kelapa, Tari Pajung- Kaparinjo, O, Ina Ni Keke hingga Dibawah Sinar Bulan Purnama.

Ia lantas merekam lagi sebuah album (long-plays) “Rindu” pada tahun 1961 yang berisikan lagu-lagu Potong Bebek – Nona Manis – Sipatokaan, Gambang Suling, Rindu, Dengkleung, Do’a dan Resumu dan Tidurlah Intan.

Sebagai seniman Indonesia yang pertama masuk dapur rekaman, tentu Nick punya segudang pengalaman. Ia berkolaborasi dengan alm. Bing Slamet, alm. Sam Saimun, alm Heriyati yang menghasilkan berbagai singles yang sangat populer dimasanya.

Pada tahun 1973 ia berhasil memenangkan Penghargaan pada Festival Musik Pertama Indonesia yang diselenggarakan Yamaha Jepang. Ia bahkan dikirim mewakili Indonesia pada Festival Musik di Jepang. Disana lagu ciptaannya Love Eternally mendapatkan penghargaan. Sayang, penghargaan dari dalam negeri sendiri (terutama pemerintah Indonesia) nampaknya sangat kurang jika tak ingin mengatakan tidak ada sama sekali.

Nick Mamahit sempat bermain reguler di Hotel Mandarin selama kurang lebih 15 tahun. Pria yang juga sempat membentuk Metropolitan Orchestra bersama Jos Cleber.

Dalam kesendiriannya setelah ditinggal istri tercinta Louise Henriette Van Beugent – meninggal dunia 1988 – Nick Mamahit yang terkena stroke beberapa tahun lalu tetap rajin berlatih setiap hari walaupun harus menggunakan sarung tangan.

Penampilannya dalam acara Bimasena Jazz Evening yang bekerja sama dengan Jakarta Jazz Society (JJS) pada Sabtu (25/01/2003) di Hotel Darmawangsa merupakan penampilan Nick Mamahit terakhir yang terekam kamera WartaJazz.com.

****

Kini Om Nick Mamahit telah pergi meninggalkan . Semoga beliau mendapat tempat yang layak disisiNYA. Amien.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker