News

KRAKATAU SUKSES MEMBUKA KONSER PERTAMA DI WASHINGTON DC

Kelompok jazz-world music Krakatau Band asal Indonesia yang sedang melakukan perjalanan North America World Tour 2004, sukses dalam pertunjukan perdananya di kota Washington DC tanggal 1 Juni 2004 yang lalu.

Krakatau yang terdiri dari Dwiki Darmawan (Micro-tuned keyboard dan Synthesizer), Pra Budidharma (Slendro Fretless Bass), Adhe Rudiana (kendang, perkusi, simbal), Yoyon Darsono (rebab, suling, terompet, kecapi, voice), Zainal Arifin(Bonang, perkusi, voice), dan Gerry Herb(drum) memuaskan sekitar 900-an penonton yang memadati Auditorium University of the Disctrict of Columbia di Washington DC (UDC).

Sekitar 10 lagu disajikan oleh kelompok yang merilis album terakhir bertitel Magical Match ini, dalam pertunjukan yang berdurasi sekitar 2 jam tanpa jeda. Bubukan Bancang, Egrang Funk, Shufflendang membuka penampilan Krakatau sebelum Dwiki memperkenalkan anggota band ini satu persatu.

Para penonton yang sebagian diantaranya warga dan mahasiswa Indonesia di Washington DC, merasa kaget dengan penampilan Krakatau yang berbeda dengan yang ada dibenak mereka. Seperti diketahui, Krakatau telah merubah orientasi musikalnya sejak 10 tahun terakhir.

Mereka tidak lagi menyajikan nomor-nomor pop, seperti Gemilang, La Samba Primadona atau Kau Datang namun justru menggali kekayaan musik Karawitan yang dipadukan dengan progresi dan instrumen modern, sehingga tagline dari Krakatau sekarang menjadi Karawitan within the progression of modern sound.

Sudah selayaknya konser jazz, para penonton juga dipuaskan dengan permainan solo dan improvisasi dari para personil Krakatau. Satu persatu anggota band ini mendapatkan kesempatan untuk itu. Di lagu Egrang Funk contohnya, Zainal Arifin mempertontonkan permainan solo pada bonang membuat para penonton menjadi terkesima, lantaran memang belum pernah melihat bonang yang dipadukan dengan jazz.

Atau pada Tugu Hegar yang dibuka dengan permainan suling Yoyon Darsono, lantas disusul Ade Rudhiana pada kendang yang lalu diikuti gebukan drum Gerry Herb. Menyusul dibelakangnya suara tarompet yang dimainkan dengan ngalamus, maksudnya dimainkan dengan suara yang tidak terputus. Sontak para penonton memberikan applaus yan gmeriah kepada para anggota band Krakatau ini. Tak hanya itu, usai solo tarompet ini, terjadi “duel” drum dan kendang. Ade dan Gerry, memainkan instrumen mereka bersahut-sahutan, layaknya sedang dalam sebuah obrolan tanpa henti.

Para penonton di Washington DC juga mendapatkan bonus, sebab penyanyi Shakila – yang pernah berkolaborasi dengan gitaris Tohpati – hadir untuk menyanyikan sebuah lagu standar, Summertime. Kendang, bonang dan rebab turut dimainkan untuk lagu yang spontan tanpa latihan ini. Hasilnya? wow keren bo!. Bukti usai lagu ini dimainkan penonton memberikan applaus panjang yang meriah, sebagian diantaranya malah memberikan standing ovation untuk Krakatau.

Konser malam itu ditutup dengan The Rhythm of Reformation, setelah sebelumnya diisi dengan Cah Mie Kung dan Gendjring Party. Keduanya diambil dari album Krakatau dengan identitas baru yakni Mystical Mist dan Magical Match.

Dengan suksesnya konser di Washington DC ini menjadi modal yang kuat bagi seluruh rombangan untuk tampil dan mempersembahkan yang terbaik dalam penampilan-penampilan berikutnya dalam rangkaian tur musim panas kali ini. Semoga!

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker