FestivalNews

KRAKATAU MENGGOYANG UNIVERSITY OF ILLINOIS SUMMER JAZZ FESTIVAL 2004

Menyusul sukses di Washington DC dan Bowling Green, Krakatau kembali memukau sekitar 500-an penonton yang memadati Tryon Festival Hall di Gedung Krannert Center for Performing Arts (KCPA) dikawasan Universitas Urbana-Campaign, Illinois (UIUC).

Krannert Center dapat disejajarkan dengan pusat kegiatan seni lain seperti Lincoln Center di New York atau Kennedy Center di Washington DC. KCPA digunakan untuk berbagai pertunjukan seperti musik, dance, atau opera.

Pusat kegiatan di Midwest ini pernah menghadirkan artis ternama seperti Cassandra Wilson, Chicago Symphony Orchestra, Mark Morris Dance Group dan Joshua Redman. Beberapa musisi lain seperti Ramsey Lewis, Nancy Wilson, Smithsonian Jazz Masterworks Orchestra atau Ravi Shankar juga akan tampil di KCPA tahun ini.

***

Krakatau menjadi kelompok pembuka Summer Jazz Festival 2004 yang berlangsung sekitar satu minggu. Ditempat yang sama tampil Jon Faddis dan 12 orang anggota ensembelnya menyajikan musik ragtime Scott Joplin, James Scott, Joseph Lamb dan Jelly Roll Morton, juga tampil Chip McNeill pemain saksophone post-bob yang juga direktur Program Jazz di School of Music UIUC dengan orkestra membawakan karya Miles Davis Sketches of Spain.

“Dengan menghadirkan program jazz dikampus ini School of Music bersama Krannert Center dan klub lokal menumbuhkan-suburkan jazz ditengah komunitas kita”, demikian Dr. Karl Krammer, direktur School of Music UIUC menjelaskan. “Tahun ini kami menyajikan komponen world music sebagai bahagian dari sejarah jazz yang telah kami tawarkan tahun lalu”, tambahnya lagi.

Krakatau menurut Krammer lagi merupakan kelompok yang dinamis sekaligus unik lantaran berhasil memadukan tonal sistem dari Gamelan tradisional dan rhythm etnis dengan tradisi jazz dari Barat.

***

Konser yang dimulai pukul 20.00 waktu setempat, diawali dengan sedikit sambutan dari Prof. Charles Chapwell, musikolog dari UIUC yang merupakan inisiator kedatangan kelompok Krakatau ke Amerika Serikat.

Professor yang akrab dipanggil Pak Charlie, mengutarakan bagaimana ia pertama kali mengenal musik Krakatau, sekitar 10 tahun silam, dan bermimpi untuk mendatangkan kelompok ini manggung di AS. Pria berkacamata yang meneliti musik-musik religius di Malaysia dan Indonesia ini juga menjelaskan proses diundangnya Krakatau yang bertepatan dengan program yang sedang disusun oleh Dr. Karl Krammer.

Krakatau tetap membawakan reportoar yang telah dipersiapkan. Namun satu hal yang menarik, Ade Rudhiana sempat berimprovisasi dengan mengajak penonton merespon permainan kendangnya. Kang Ade, demikian ia akrab disapa, memukul kendang dengan tangan kirinya, setelah itu ia mengajakan penonton merespon dengan bertepuk tangan lima kali. Setiap tepukan berubah-ubah merespon permainan kendang Ade. Pada bagian akhir di improvisasi yang melibatkan penonton ini, suara tepuk tangan meriah diberikan untuk Kang Ade.

Selain itu Yoyon Darsono dengan tiupan tarompetnya juga membuat penonton tertegun heran dan sedikit menahan nafas lantaran tarompet ini dimainkan tanpa henti kira-kira sekitar delapan menit. Tidak heran karena teknik circular breathing digunakan, udara yang disimpan dirongga mulut, dilepaskan sedikit demi sedikit, sementara pada saat yang bersamaan tetap menghidurp udara melalui hidung. Hasilnya?, applaus meriah usai improvisasi pada bagian ini.

Pada lagu Rhythm of Reformation, bebunyian perkusif memenuhi seluruh ruangan yang memiliki tata akustik sangat bagus ini. Dwiki Dharmawan memainkan ceng-ceng bali yang memiliki sound yang khas. Emosi penonton terbawa lantaran tempo permainan semakin cepat bahkan dwiki sempat pula memukulkan ceng-ceng tersebut ke lantai panggung sehingga menimbulkan suara yang unik dan berbeda. Begitu suara drum Gerry Herb berpadu dengan permainan rampak kendang Ade dan Zainal Arifin, ditambah permainan dog-dog Pra Budi Dharma dan Yoyon dengan tarompetnya memacu adrenalin penonton yang berbuah tepuk tangan yang tak henti-henti hingga lagu ini selesai. Menutup konser di Urbana ini, sebuah encore dipersembahkan bertitel Mystical Mist.

***

Beberapa jam sebelumnya, Pra Budi Dharma dan Dwiki Dharmawan juga berkesempatan melakukan interview di Radio WEFT 90.1 FM, East Central Illinois yang berdiri sejak tahun 1981. Interview yang semula hanya direncanakan sekitar 30 menit diperpanjang menjadi sekitar 1 jam 30 menit atas permintaan Mick Woolf, Station Manager radio ini.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker