NewsProfile

ERIC VLOEIMANS



Eric Vloeimans (1963) belajar trumpet jazz- dan klasik di Rotterdams Conservatorium. Lewat Peter van Helvoort, guru trumpet pertamanya, kemudian Henk Koekkoek, dia ia mengikuti serangkaian workshops, dan Cees Smal, yang menjadi jalannya mengenal he jazz dan improvised music.

Eric memulai debutnya sebagai anggota dari Paul van Kemenade’s Leerorkest – saksofonis yang pernah tampil dan tour di Indonesia tahun 2000 silam. Di tahun 1988 Eric Vloeimans lulus dengan penghargaan dan tahun 1989 ia menerima beasiswa untuk melanjutkan studinya di Universitas New School di New York. Disana ia bermain bersama Frank Foster dan Mercer Ellington band, dan lain-lain.

Sejak 1989 Vloeimans aktif diberbagai ensembles: misalnya dengan PB 5, yang menganugerahinya International NOS Meervaart Jazzconcours, lantas dengan sejumlah nama beken lain seperti Niko Langenhuissens Vaalbleek, Pierre Courbois Jubilation, Trio Borstlap / Vloeimans / Reijseger, Bik Bent Braam, Michiel Borstlap Sextet, Carmen Gomes, Theo Hoogstins Octet, Eric van der Westen Octet, Kristina Fuchs Sonic Unit, Paul van Kemenade Quintet, Arend Niks Project, VANDOORN, Martin Fondse Oktemble, Fra Fra Sound, Heptagon, Loek Dikker, Masha Bijlsma Band, Francien van Tuinen, Paul Stockers Maiden Voyage Big Band, Dolphy 2000 Project, Jimmy Haslip / Michiel Borstlap Band – Jimmy Haslip seperti yang kita tahu adalah anggota Yellowjackets yang kesohor itu.

Diawal karir bermusiknya, Eric Vloeimans merupakan seorang co-leader, bersama dengan Dick de Graaf – saxophonis yang juga pernah tampil di Indonesia 3 tahun yang lalu – mendirikan band CHAZZ.

Pada tahun 1992 ia mendirikan Eric Vloeimans Quartet, yang mana Anton Goudsmit, Arnold Dooijeweerd dan Pieter Bast menjadi anggotanya dan bersama dengan formasi ini mereka merilis album “No Realistics”. Sejak saat itu Vloeimans terus berkembang.

Dua buah album berikutnya bersama Quartet ini diterbitkan. Masing-masing First Floor dan Bestiarium – yang belakangan ini juga mengajak saxophonis asal Jerman, Peter Weniger. Kedua album ini mendapatkan banyak pujian karena musiknya yang memiliki kekuatan ekspresif, dan menempatkan Eric Vloeimans Quartet sebagai salah satu band dengan reputasi mengagumkan di kancah musik Belanda.

Dalam album-albumnya, Vloeimans lebih mengutamakan merekam komposisi sendiri. Sebagai komposer ia tidak terjebak pada satu jenis style saja. Gaya yang dibuatnya selalu segar dan kreatif, meskipun tidak lantas meninggalkan atau melupakan tradisi. Yang lebih penting lagi, ia menjadi lebih rendah hati dan itu melindunginya dari sikap congkak. Dengan bekal ini, langkahnya menuju pentas internasional menjadi mulus.

September 1998 Vloeimans merekam album Bitches and Fairy Tales dengan sejumlah bintang kenamaan seperti John Taylor, Marc Johnson dan Joey Baron. Untuk album inilah Vloeimans menerima penghargaan Edison Award – penghargaan ini untuk semacam untuk Belanda.

Tahun 2000 Vloeimans dinominasikan untuk penghargaan prestisius Bird Award pada ajang North Sea Jazz Festival. Dibulan April pada tahun yang sama, ia berkeliling, melakukan tour bersama Eric Vloeimans Transatlantic Quartet, featuring John Taylor pada piano, Furio Di Castri pada bass dan Joe LaBarbera pada drums. Untuk line ini Vloeimans menciptakan beberapa repertoire baru yang kemudian direkam dalam album “Umai” September 2000. Masih dibulan yang samaVloeimans merekam “Grand Style” di Helsinki, Finlandia bersama musisi kenamaan Finlandia Jarmo Savolainen. Vloeimans dan Savolainen kemudian menyajikan rekaman ini dalam konser diberbagai negara Europa seperti Spanyol, Irlandia Jerman, Belgia dan Belanda, tentu saja. Sebuah tur ekstensif di Finland kemudian mengikuti pada bulan September 2001.

Dibulan April 2000 ini pula Vloeimans diundang untuk bergabung dengan sejumlah musisi Eropa dalam sebuah penampilan karya komposer Erik Lars Gudim dan Bugge Wesseltoft (sebuah proyek European Broadcasting Union) di Bergen, Norwegia.

Sebuah komisi yang dibentuk oleh NPS ditahun 2000 membuahkan penampilan pada sebuah festival De Klap op de Vuurpijl. Disini Vloeimans bergabung dengan gitaris berdarah Perancis/Vietnam Nguyên Lê, bassist/cellist Lars Danielsson dari Swedia dan drummer/percussionist Markku Ounaskari asal Finlandia. Quartet yang sama kemudian juga sempat melakukan tur di Belanda bulan Februari 2003 dan kemudian album “Brutto Gusto” dirilis bulan Mei 2002.

Sebagai anggota dari bassist berkebangsaan Italia Furio Di Castri lewat band Outline, Vloeimans sempat menjadi bintang tamu selama seminggu disebuah klub jazz baru di Pompoen, Amsterdam.

Pada January 2002 Vloeimans berkeliling Eropa, tur bersama Jasper van ‘t Hof Pili Pili dalam rangka mempromosikan album “Ballads of Timbuktu” yang direkam bulan Juli tahun sebelumnya.

Menyusul Februari Februari ia mendapat penghargaan paling penting di Belanda yakni Boy Edgar Prize. Dalam penghargaan ini ia sempat bermain duo bersamaJohn Taylor, lalu dengan quartet nya yakni bersama Nguyên Lê, Markku Ounaskari and Anders Jormin dan sempat pula bersama The Michiel Borstlap/Jimmy Haslip Band “Liveline”dengan Hans Eijkenaar, Jeroen de Rijk dan tamu spesial Anton Goudsmit.

Bersama dengan pianist italia Rita Marcotuli, Vloeimans telah membentuk sebuah quartet baru dan tur pada April 2002, dan sempat pula merekam CD. Rhythm section yang kuat dari didukung Palle Danielsson (bass) dan Roberto Gatto (drum) yang berasal dari Italia.

Bersama trio FUGIMUNDI, Eric Vloeimans bersama Ernst Reijseger (cello) dan Anton Goudsmit (gitar) plus Harmen Fraanje(piano), ia merekam “Boompetit” dan kelompok ini sempat tampil di North Sea Jazz Festival 2004.

Eric bersama dua rekannya di Fugimundi, rencananya akan tampil di Jakarta, tepatnya tanggal 17 Juni 2005 di Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. S-3 Kuningan Jakarta 12950 Indonesia telepon +62 21 524 1069 atau fax +62 21 527 5978 dan email info@erasmushuis.or.id.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker