News

KONSER PENUTUP TAHUN 2005: TRISUM – DIALOG TIGA GITAR

Photo© Agus Setiawan Basuni/WartaJazz.com

Secara visual panggung depan yang terbagi tiga seksi bagaikan ruang pajang aneka gitar. Mungkin visualisasi yang sama bisa kita ingat dari sampul album solo Budjana: Nusa Damai. Tiap seksi tersebut berturut-turut diisi oleh I Dewa Gede Budjana, I Wayan Balawan, dan Tohpati Ario Hutomo. Bicara soal album solo juga bukan hanya monopoli Budjana; baik Balawan dan Tohpati juga tergolong prolifik dalam merekam karyanya. Terakhir ini, album solo masing-masing digaet oleh label Sony BMG Indonesia. Jika bicara soal gaya, masing-masing gitaris ini sudah punya identitas suaranya sendiri: idiom pribadinya. Maka, dijumlah tiga jadilah Trisum.

Loop drum machine segera mengawali pertunjukan di GBB TIM (29/12/05) dengan permainan “Cublak-cublak Suweng”. Suasananya adalah dolanan (permainan) para bocah. Turut bermain di belakang adalah Indro Hardjodikoro (bass) dan Sandy Winarta (drum). Titian tradisional lagu ini hanya diambil sebagai tema pembuka, selebihnya diciptakan reff-bridge yang sama sekali berbeda. Aransemen ini juga dipakai sebagai pembuka konser kedua mereka di JJF lalu (konser sekarang adalah pertemuan ke tiga Trisum). Dalam tempo yang sama cepatnya, “Kromatik Lagi” (Budjana: Nusa Damai) menyusul kemudian. Tohpati memblok perputaran harmoni reff-nya yang nge-swing mengiringi duet Balawan-Budjana. Sesi pembuka ‘permainan bocah’ ditutup dengan “European Dreams” (Balawan), lullaby pengantar tidur dalam waltz.

Sementara dua gitaris lainnya istirahat, Tohpati memainkan gitar akustik steel-string untuk nomer barunya (belum direkam) “Cendrawasih” dibantu oleh Eugene (clarinet). Penampilan (yang sekaligus perdana) ini condong ke fitur komposisional, dengan sedikit seri solo clarinet-gitar di penutupnya hingga fade out. Indro & Sandy masih mengiringi. Sebagai sideman, permainan ride-cymbal Sandy yang rapat mungkin dapat menjadi cirinya di kemudian hari. Kesan mengambang muncul berkat variasi aksen yang nyata di tengah rangkaian yang rapat  tersebut di area bel cymbal. Nomer country rancak, “Gembala”, menyusul berikutnya. Walaupun belum ada di album solonya, Tohpati-Indro-Eugene sudah beberapa kali membawakannya.

Bang Saat yang berasal dari Kalimantan mengawali sesi Budjana. Ia meniup sejumlah suling kreasinya sendiri untuk komposisi “Lonely” (Budjana: Samsara) dan “Dancing Tears” (Budjana: Home). Kehadiran Saat dengan nuansa musik milik native kita sendiri semakin diperkuat Jalu (kendang). Versi Bang Saat sendiri soal apa itu musik yang yang mengharu-biru (blues), juga dapat kita nikmati lewat rekamannya dengan Idang R. Duet Saat-Budjana pada rekaman “Lonely” direproduksi lagi di panggung membawa pesan: a peaceful sanctuary. Komposisi ini memperdengarkan kualitas unik Budjana. Secara teknis, ia memilih untuk menggunakan chord voicing yang memberikan big sound, dengan sejumlah dawai dibiarkan melayang-terbuka, dan perluasan harmoni yang saling berdekatan larasnya; cocok dengan konsep kontemplatif yang dilakukan dengan bermain penuh seorang diri. Lagu “Dancing Tears” menggambarkan pengalaman Budjana melihat bencana: menari tidak selalu mencerminkan gembira dan bahagia. Pada nomer ini baru Jalu dan Sandy tampil penuh dengan Saat turut mengisi voice.

Balawan naik berikutnya dengan bersolo terlebih dahulu di atas Stephallon Custom bersenar 13. Tangan kirinya mengetuk dawai-dawai pada leher bass sementara tangan kanannya mengetuk dawai-dawai pada leher gitar. Maka dapat kita dengar penampilan lengkap walking bass, kord, dan melodi oleh satu gitaris saja. Ia kemudian membawakan “Brazilian Rumba” yang disambung dengan menggandakan tempo pada “Latin Groove”. Sandy mengisi drum di belakang. Sesi ini diakhiri dengan duet perkusi sintetis dari suara MIDI gitar dan drum.

Ketiga gitaris kemudian naik lagi dalam meadley “Çaka 1922” (Budjana: Gitarku) dan “Lukisan Pagi” (Tohpati). Di bagian “Lukisan Pagi”, Budjana menggantikan isian vokal lagu tersebut dengan permainan sitar elektriknya. Tentu saja sitar ini hanya meng-emulasi suara sember khas instrumen sesungguhnya. Sebagai gitar, ia berleher ganda: satu leher pendek berdawai seperti kecapi dan satu leher persis seperti wajarnya gitar. Dawai-dawai kecapi bersifat simpatetik: ikut bergetar ketika dawai gitar dimainkan. Ini mungkin bisa menggambarkan interaksi para penampil malam itu yang bergantian menjadi simpatisan satu sama lain.

Menyambung sesi trio gitar adalah Sandy yang naik sendiri ke atas pentas untuk bersolo. Penutup konser adalah “Turkish March” (Mozart), “Mahabarata” (Tohpati: Serampang Samba), dan “Lalu Lintas” (Budjana: Nusa Damai). Tentu saja konser jazz penutup tahun 2005 ini tidak lengkap tanpa endcore. Jadilah semua pengisi naik lagi ke pentas menutup konser dalam sebuah mars ala orkes mariachi dan pesta gitar flamenco.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker