News

LAPORAN KONSER KEMANUSIAAN JAZZ UNTUK JOGJA HARI PERTAMA

Satu dedikasi tinggi kembali dituangkan oleh para musisi Indonesia. Satu event yang diselenggarakan karena hati yang tergerak untuk meringankan beban para korban gempa di Jogja dan di Jawa Tengah.

Acara ini terselenggara berkat kerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta, Lembaga Pendidikan Musik Farabi, WartaJazz.com dan didukung pula Radio Ramako 105.8 FM dan CNJ Jakarta 99.9 FM. Karena bencana tidak mengenal waktu dan tempat, tidak akan terduga, demikian pula acara ini yang terselenggara dengan waktu yang sangat sempit dan koordinasi yang singkat untuk bisa segera meringankan beban para korban yang sekarang status mereka masih di tenda-tenda darurat dan pembangunan kembali cagar budaya yang rusak.

Ratusan artis terdaftar sebagai pengisi acara, tanpa pamrih tanpa komisi dan dengan sepenuh hati menghibur penggemar jazz sekaligus menggalang dana dengan pelbagai cara, dari penjualan tiket, merchandise, sampai lelang barang berharga milik artis.

Sementara persiapan dilakukan di dalam gedung Graha Bakti Budaya, diluar gedung telah disiapkan beberapa artis untuk menghibur para penonton yang menunggu diluar. Terdengar petikan gitar dari trio, sentuhan piano lembut dan suara indah dari musisi muda dan sederet pengisi acara yang bisa memberikan sedikit hiburan sebelum pertunjukan utama. Di dalam gedung sudah terpampang foto-foto dari artis artis pengisi acara Jazz for Aceh tahun lalu yang dijual dan hasilnya akan turut disumbangkan.

Pertunjukan dimulai dengan kata pembuka dari DKJ dilanjutkan dengan pembacaan puisi karangan Taufiq Ismail oleh Jose Riza Manua, dilanjutkan dengan petikan gitar Yeppy Romero yang mampu membawa kita bergoyang ala spanyol. Duo piano cantik dari Shinta dan Febby memainkan satu karya klasik dengan sedikit bubuhan jazzy didalamnya.

Karena begitu antusiasnya artis-artis jazz untuk menggalang dana tapi waktu yang tersedia terbatas, maka dengan terpaksa satu artis/band hanya dikasih jatah satu lagu dan ini adalah kesempatan untuk mereka untuk memberikan kontribusi terbaik. Acara ini di host oleh Izur Muchtar dan Hilbram Dumar. Pasangan yang cocok dalam membawakan acara ini dengan gaya yang menghibur, humoris dan juga cukup kritis.

Berbagai artis yang turut serta dalam acara sosial ini adalah 3 in 1 yang biasa ditemui di Komunitas Jazz Kemayoran, Wicaksono & Derry yang bermain gaya fusion, Aziz Trio yang menghadirkan lagu dengan tema Jogja dimana lagu ini telah ditulis 1 bulan sebelum tragedi ini terjadi, Chlorophyl yang tampil fusion dengan energi anak muda, kemudian Indro Harodikoro Trio featuring Riza Arshad yang kita kenal sebagai salah satu dari Simak Dialog kemudian Mahagenta yang tampil multi-etnik dengan campuran berbagai alat musik mulai dari Sitar dari India, Tek Yan dari China yang sering kita temui di musik Betawi sampai alat musik aborigin yang berupa pipa panjang.

Kita tidak bisa hanya membayangkan bagaimana musik ini disajikan tapi lebih menarik jika disimak langsung. Musisi yang tersebut diatas hanya sebagian, selebihnya masih ada beberapa artis yang tidak kalah menarik, sebut saja Rio Moreno Latin Combo dengan formasi Trio dan khas musik yang biasa dimainkannya Latin cukup memukau, Nial Djuliarso, jawara swing muda dari sekolah musik terkemuka di Amerika berduet dengan senior Oele Pattiselano memberikan satu lagu penuh improvisasi indah, kemudian Oele berkolaborasi dengan Benny Likumahua beserta putranya Barry juga Rayendra Sunito.

Salah satu jalan mengumpulkan dana adalah lelang dan lelang ini bukan melelang suatu barang biasa melainkan satu instrumen yang telah melekat pada sang tuan sebagai satu karya yang pernah ikut mengisi hidup. Oele merelakan satu gitar buatan tahun 60’an yang model klasik bersenar 12 yang laku seharga 15,5jt. Satu benda yang sangat berharga telah terjual dengan harga yang murah yang pernah mengisi sebagian jiwa sang pemilik.

Lian & friends tampil mengisi acara setelah itu dengan komposisi musik orisinal dilanjutkan dengan Groovology featuring Tompi yang sangat sesuai dengan nama yang dimiliki, musik mereka groovy. Satu penyanyi cilik berkolaborasi dengan sang ibunda, Bertha serta diiringi oleh Dwiki menghadirkan tembang klasik “Somewhere Over The Rainbow” yang sangat memikat.

Satu alat musik yang jarang bisa kita temui hadir dalam memeriahkan acara, lagu yang di lead oleh Marusya Nainggolan menyajikan satu nomor yang ceria dipermanis dengan alat musik yang mirip dengan vibraphone yang dimainkan dengan gemulai seakan-akan sedang berdansa.

Ingat lagu Koes Plus yang berjudul “Kolam Susu”? Bayangkan alat musik yang menghdirkannya hanya 3 gitar bass elektrik, dimainkan dengan gaya jazz bercampur rock menjadikannya menawan dan berenergi. Kemudian tampil artis bersuara khas dari Indonesia Timur, Glen Fredly dilanjutkan dengan Purwacaraka dengan Jossy Thomas, Rishanda, Rayendra Sunito menyajikan satu tembang Swing yang jarang kita dengarkan dari komposisi milik Purwacaraka ini.

Beberapa saat setelah itu muncul sang biduanita yang bersolo karir setelah keluar dari the Groove membawakan tembang Manusia dengan gaya NuSoul yang diiringi beberapa musisi diantaranya Agam pada gitar. Penampilan ditutup dengan penampilan Krakatau yang telah melanglang buana kebeberapa bagian dunia ini.

Semuanya dihadirkan tanpa ada satu beban melainkan niat dan hati yang besar dan lapang untuk menyambung kehidupan yang lebih layak bagi saudara kita yang terkena bencana Gempa Bumi. Para musisi yang turut ambil bagian terketuk hatinya untuk melakukan satu penggalangan dana, berapapun dana yang terkumpul akan sangat berharga untuk mereka, apakah anda sudah berpartisipasi?

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker