News

MAGIC MUSIC AT THE TEMPLE : FILM & JAZZ DI CANDI BOROBUDUR & PRAMBANAN

Libatkan Sutradara Garin Nugroho dan Mazzola, Geisser, Maya Hasan dan lain-lain

Mazzola dan Garin sedang berdiskusi
Mazzola dan Garin Nugroho sedang berdiskusi di Candi Borobudur saat mereka meninjau lokasi pembuatan film April 2006 lalu. Turut mendampingi Mr. Toni Hauswirth dari Trimax Enterprises Swiss. Photo: Agus Setiawan Basuni/WartaJazz.com

Telah hadir kembali, setelah penampilan mereka yang menakjubkan para penonton dua tahun yang lalu di panggung Teater Ramayana Prambanan Yogyakarta. Mereka adalah Guerino Mazzola dan Heinz Geisser. Dua musisi jazz pemain piano dan drum asal Swiss tersebut tampil dengan semangat dan ketelitian komunikasi musikal yang tinggi sembari mengambil aura nuansa latar belakang kemegahan Candi Prambanan Yogyakarta.

Bulan Agustus 2006 mendatang, mereka hadir kembali ke Indonesia untuk melakukan proyek musikal mereka yang lebih menantang. Selain akan tampil kembali di Candi Prambanan Yogyakarta, mereka menambah agendanya dengan pengambilan gambar untuk pembuatan sebuah film dokumentasi di pelataran salah satu dari tujuh keajaiban dunia, Candi Borobudur Magelang Jawa Tengah.

“Ini merupakan kesejajaran fantastis dari dua kultur yang berbeda,” tutur Mazzola dalam sebuah kesempatan wawancara. Di mana konsep dan ide dasarnya adalah sama dengan sejarah pembuatan Candi Borobudur itu sendiri, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu.  Pada tataran paling tinggi (Arupadhatu) manusia telah mampu meninggalkan dunia kemateriaan. Bagi para musisi, tingkatan tertinggi tersebut seolah-olah sedang berada dalam ruang “kosong”, lepas dari masalah segala belenggu teknis musik yang ada dan nisbi. Termasuk juga dalam aplikasi waktu yang menjadi relatif. “Jika bermain, kami seperti tidak mendengar lagi apa yang kami mainkan. Ketika saya bermain semakin cepat, saya justru merasa semakin melamban,” kata Mazzola

Demikian juga dalam kesempatan tersebut, mereka juga akan didukung dengan pembuatan film dokumenter yang akan disutradarai oleh sutradara kenamaan dari Indonesia Garin Nugroho. Kerangka dasar dan konsep pembuatan film dokumenter ini adalah sama dengan konsep waktu tersebut. Di mana dijabarkan dalam bahasa tubuh dan manifestasi kehidupan sehari-hari masyarakat di kawasan Candi Borobudur Magelang Jawa Tengah khususnya dan Jawa pada umumnya. Baik pementasan maupun respon/interaksi Mazzola terhadap lingkungan tersebut akan menjadi bagian dari skenario pembuatan film ini.

Ditambah lagi, kehadiran di Indonesia mereka kali ini juga dibantu oleh seorang pemain bass free jazz veteran terkenal dari Amerika Serikat Norris Jones atau yang lebih dikenal dengan nama Sirone. Ungkapan “the right man in the right place” sepertinya sesuai untuk formasi dan momen seperti ini. Dedikasi dan prestasi dalam blantika musik jazz internasionalnya sudah tidak diragukan lagi. Kariernya musiknya sudah dia awali sejak akhir dekade 1950an dan semakin menanjak ketika pada pertengahan 1960an dia pindah ke New York dan pada era 1970an dengan menjadi salah satu anggota formasi free jazz terkenal Revolutionary Ensemble Trio. Berbagai tokoh musisi dari salah satu style musik jazz yang paling menantang tersebut pernah diajaknya tampil bersama. Seperti dengan Dave Burrell. He did sessions with Marion Brown, Gato Barbieri, Pharoah Sanders, Noah Howard, Sonny Sharrock, Sunny Murray, Albert Ayler, Cecil Taylor, Archie Shepp, Sun Ra, Clifford Thornton, Roswell Rudd, Dewey Redman dan masih banyak lagi. Musisi kelahiran 28 September 1940 ini juga membuat album dengan judul simpel “Live”. Album tersebut dibuat pada tahun 1981 namun baru dikeluarkan pada tahun 2005 yang lalu.

***

Guerino Mazzola sendiri adalah seorang ahli matematika dan komposer. Dia tertarik hubungan antara kedua hal tersebut. Pianis kelahiran 1947 ini belajar musik piano klasik sejak usia enam tahun dan pada tahun 1961 sampai 1964 namanya tercatat sebagai siswa dari Zurich Jazz School. Kemudian pada tahun 1966 sampai 1971, dia mengambil sebuah Diploma dalam bidang metematika, fisika teori dan kristalografi di Zurich University. Rasa keingintahuan tersebut dia lanjutkan dalam studi penelitian pasca-doktor di sebuah Universitas di Roma dan Paris. Gaya permainan pianonya sarat pengaruh dari musik kontemporer Eropa dan pianis free jazz legendaris dari Amerika Serikat Cecil Taylor. Sampai saat ini, Mazzola sudah menghasilkan 14 album, 13 buku dan puluhan karya tulis dalam bidang matematika, topologi, penelitian otak dan musik komputer/elektronik.

Sementara Heinz Geisser adalah seorang musisi kelahiran 1961 yang pernah belajar gitar dan perkusi musik klasik di Zurich Music Conservatory. Di usia ke-25, Geisser pernah mendapatkan penghargaan sebagai solois gitar klasik. Mulai tertarik dan bermain drum musik jazz ketika berusia 16 tahun. Album pertamanya pun pernah dibantu oleh saxophonis dari Swiss Urs Blöchlinger. Sampai saat ini sudah lebih dari 15 tahun dia lebih mencurahkan perhatiannya dalam permainan perkusi. Ketika berkunjung ke New York pada tahun 1992, Geisser membantuk sebuah formasi The Collective 4tet yang didukung oleh para tokoh pemain free jazz terkenal dari New York seperti Mark Hennen, Jeff Hoyer dan William Parker. Kelompok ini telah menghasilkan 4 album (The Ropedancer, Orca, Live at Crescent dan Synopsis) yang telah menghasilkan pujian dari para kritikus jazz internasional. Di samping itu, dia juga menjaga hubungannya dengna para musisi dari Amerika Serikat, Asia dan Eropa termasuk beberapa sesi untuk Swiss National Radio dan BBC.

*****

Jadwal kegiatan mereka di Indonesia akan tampil di Nine Muses Club, Jalan Wijaya I No. 25 Jakarta pada tanggal 10 Agustus 2006. Penampilan mereka di Jakarta akan didukung oleh para musisi dari terkenal dari Indonesia Maya Hasan (harpa) dan Sally Jo “Sahardja” (biola). Di Teater Ramayana Candi Prambanan pada tanggal 16 Agustus 2006. Di tempat tersebut mereka akan didampingi oleh sebuah kelompok musik etnis fusion dari Indonesia, Sono Seni Ensemble . Sementara mulai tanggal 11 – 18 Agustus 2006, mereka juga menjadi bagian dari pembuatan film dokumenter yang dikomandani oleh sutradara Garin Nugroho, termasuk untuk keperluan pengambilan gambar penampilan mereka di Candi Borobudur Magelang Jawa Tengah pada tanggal 13 Agustus 2006.

Seluruh rangkaian acara ini terselenggara atas Inisiatif dari TRIMAX ENTERPRISE INC, of Zurich, Switzerland, and PT. Eastern Pearl Flour Mills dan diorganisir oleh WartaJazz.com Productions bekerjasama dengan PY. Karya SET Film.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Check Also
Close
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker