InterviewNews

SEKELUMIT SOAL SOSIALISASI JAZZ BERSAMA LULUK PURWANTO

Disela-sela pertunjukan The Stage Bus-nya, Warta Jazz sempat bincang-bincang sejenak masalah sosialisasi musik jazz dengan mbak Luluk Purwanto.

Luluk Purwanto, violis kelahiran Solo 25 Juni 1959 tapi besar di Yogyakarta ini menyatakan bahwa untuk menarik minat masyarakat terhadap musik jazz adalah dengan mendekati mereka (penonton -red). Jangan mengharapkan masyarakat yang datang ke kita, tetapi kita yang harus mengerti apa mau mereka dengan tanpa melepaskan idealisme dalam memainkan musik jazz sesuai dengan karakter dan style permainan kita. Dengan kata lain berkompromi.

Nyonya Rene Van Helsdingen yang sudah bermain di 350 panggung jazz festival dunia ini juga menegaskan bahwa musik jazz bukanlah suatu show yang elit. Jadi tidak harus dimainkan di Hotel, Hall, maupun tempat tertutup lainnya, tapi bisa juga disajikan secara out door. Seperti yang telah dilakukan bersama Rene yang menyajikan pentas jazz dengan Stage Bus-nya. Secara gratis dan apresiatif itu salah satu cara dalam sosialisasi musik jazz yang bisa dilakukan.

Kemudian cara penyajian yang cukup kompromis, misalnya setelah dijejali dengan irama yang dianggap agak aneh, kemudian diselingi dengan sajian yang akrab dengan penonton misalnya disisipi dengan lagu Ilir-ilir dan Selayang Pandang tanpa meninggalkan idiom jazz. Sehingga secara tidak langsung menggiring penonton untuk mempunyai rasa memiliki terhadap musik jazz. Bahwa musik jazz bisa didekatkan dengan keseharian penonton. Dan seandainya penonton tidak suka dengan apa yang Luluk Purwanto & The Helsdingen Trio sajikan, mereka bisa pergi.

Karena pada dasarnya jazz adalah musik yang demokratis. Dan Luluk sendiri tidak gelo seandainya sebelum pertunjukkan selesai sudah ada yang pulang. Karena yang dipentingkan buat Luluk dan suaminya adalah main dan terus main. Salah satu cara sosialisasi adalah harus dipancing.

Seperti yang dilakukan Luluk pada tahun 1993 di Jakarta ada sebuah restoran The Stage di Ratu Plaza dimana ditengah-tengahnya ada panggung bundar disitu siapa saja bebas berekspresi. Baca puisi, nari atau apapun boleh. Kemudian Luluk buat program jazz disitu. Penonton nggak boleh minta lagu. Pokoknya musisi maen sesuai apa yang mereka latih di rumah. Terserah penonton mau denger apa enggak dengan tujuan biar tahu sejauh mana minat penonton dengan musik jazz. Dan itu bisa bertahan sampai 6 bulan.

Kemudian Luluk yang selalu tampil dengan perfomance unik ini berangkat ke Belanda. Di sana dengan Rene Van Helsdingen menyusun konsep pertunjukan The Stage Bus yang merupakan satu-satunya di dunia untuk tour hingga sampai ke Indonesia.

The Stage Bus akan di sumbangkan ke Gedung Kesenian Jakarta dengan tujuan akan bisa dipergunakan para seniman untuk mengeluarkan kebolehannya. Paling tidak sedikit membantu sebagai sarana dalam proses sosialisasi seni pada umumnya dan jazz pada khususnya. Rene sendiri dalam setiap kesempatan bermain jazz dimanapun selalu berusaha untuk mengajak penonton bersikap kritis terhadap jazz.

Rene berpendapat bahwa memang menyukai jazz adalah masalah selera tetapi selera bisa dibentuk kalau kita mau sering-sering mendengarkan. Luluk sendiri saat ditanya bagaimana cara mensosialisasikan musik ini dengan tegas mengatakan ” perbanyak pertunjukan jazz !”.

Dan itu bisa dilakukan lewat media panggung maupun televisi. Dan orang yang mau mementaskan hanya segelintir. Justru disitu tantangan yang harus dihadapi kalau mau mensosialisasikan musik jazz. (Arko)

* Artikel ini pernah dimuat di Warta Jazz Cetak Edisi 2(1997)

Related Articles

One Comment

  1. “Perbanyak pertunjukan Jazz !” atau siarkan musik Jazz via media elektronik sebanyak2nya. Saya sangat setuju. Sukur-sukur gratis atau setidaknya ticketnya “murah”. Sederhana saja. Kalau ingin Jazz merakyat, disukai banyak orang, “promosinya” digedein. Jika masih mikir cari makan dari bermusik Jazz, atau pengin kaya dari bermusik Jazz, JANGAN BERMIMPI BUNG ! Musik Jazz belum bisa diterima di masyarakat Indonesia. Kalau suruh bayar mahal, masuk hotel hanya “sekedar” denger musik Jazz, nanti dulu. Indonesia bukan Jakarta, Surabaya, atau kota2 besar yang lain yang orang2nya banyak duit. Ada ratusan kota lain dan jutaan warga masyarakat yang juga ingin tahu, dengar, dan nonton musik Jazz. Motto lama mengatakan : “Real Jazz for the folks who feel Jazz”. Salam Jazz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker