NewsProfile

PHIL PERRY

Nama penyanyi “besar” ini di Indonesia sudah tidak asing lagi. Pernah populer ketika menampilkan kembali tembang terkenal ciptaan David Foster ‘After The Love Has Gone’. Beberapa tahun yang lalu, banyak radio memutar koleksi-koleksi dari penyanyi kelahiran Saint Louis ini sehingga banyak pendengar mengenalnya sebagai salah satu penyanyi jazz terkenal. Meskipun dalam beberapa referensi yang ada, lebih banyak lebih banyak menyebutnya sebagai penyanyi r&b. Namun di era 1990an, dia memang sering terlibat dalam berbagai proyek smooth jazz seperti dengan Lee Ritenour atau pun The Rippingtons.

Gaya vokalnya yang jernih, mampu menembus beberapa oktav dan tidak jarang dia menggunakan falsetto, Phil Perry juga pernah membantu Anita Baker, Boz Scaggs, Rod Stewart, Peabo Bryson dan George Duke. Memang ketika Phil mulai membangun kariernya, namanya lebih dikenal sebagai background vokal yang sibuk. Meskipun pernah menjadi penyanyi utama dari kelompok musik soul Montclair pada tahun 1972.

Album solonya dikeluarkan pada tahun 1991 dengan judul “The Heart Of Man”. Dalam album ini keluar hit yang dulu pernah terkenal dibawakan oleh Aretha Franklin ‘Call Me’. Namun kesuksesan lebih besar lagi dicapainya ketika album “Pure Pleasure” keluar pada tahun 1994. Dalam album ini, beberapa hit unggulan keluar seperti ‘After The Love Has Gone’, ‘If Only You Knew’ atau ‘Love Don’t Love Nobody’.

Pada tahun 1997, Phil Perry menandatangani kontrak barunya bersama label rekaman Private Music, anak cabang dari label Windhall Hill. Di mana beberapa artis seperti Peabo Bryson dan Barry White juga ditangani oleh label tersebut. Private Music mengeluarkan dua albumnya: “One Heart, One Love” (1998) dan “My Book Of Love” (2000). Kedua album tersebut ternyata mendapat respon pasar yang baik. Dari dua album itu, Phil Perry masuk ke dalam posisi puncak nomor 2 dan 3 versi Top Contemporary Jazz Albums dari Billboard Charts.

Dari pengalaman ini juga, Phil Perry mendapat kesempatan tambahan untuk memanfaatkan bakatnya dalam hal penulisan lagu dan memproduksi sebuah proyek musik. Albumnya di tahun 2001 yang berjudul “Magic”, mencoba untuk merepresentasikan karya-karyanya sendiri yang sebelumnya belum pernah dilakukan.

Setelah sementara waktu namanya tidak muncul dalam dunia industri musik, di awal tahun 2006 ini Phil Perry kembali mengeluarkan album barunya dengan judul “The Classic Love Songs” yang dikeluarkan di bawah label Shanachie. Kelembutan suara penampilannya dalam album ini serasa menyatu dengan pilihan tembang-tembang cinta abadi seperti ‘Just My Imagination’ (The Temptations), ‘Hello’ (Lionel Richie), ‘All This Love” (El Debarge) dan masih banyak lagi.

Saat ini, namanya bisa disejajarkan dengan para pelantun tembang-tembang cinta terkemuka lainnya sekelas Luther Vandross atau Peabo Bryson. Di samping itu, dia memiliki suara yang elastis. Di mana mampu meloncat dengan mudah dan mengesankan dari bariton ke tenor falsetto, yang mengingatkan kita kepada vokalis Earth Wind And Fire Philip Bailey. Olah vokalnya cenderung akrobatik namun dengan artikulasi yang jelas dan terkendali.

Untuk tampil di Indonesia, bagi pecinta musik jazz dan Phil Perry sendiri bukan merupakan hal asing lagi. Di era 1990an, rasa-rasanya Phil Perry sering kali tampil di sebuah klab jazz di Jakarta dan JakJazz. Untuk mengobati rasa kangen para penggemarnya di Indonesia, Phil Perry akan tampil kembali DJI SAM SOE SUPER PREMIUM JAK JAZZ 2006 “JAZZ IN THE PARK” yang akan digelar pada tanggal 24 – 26 November 2006 mendatang di Istora Senayan Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker