FestivalJak Jazz FestivalNewsProfile

KAZUMI WATANABE: SANG PENDEKAR GITAR DARI NEGERI MATAHARI TERBIT


Jak Jazz 2006

Setelah mendengar kabar kalau “dewa” gitaris jazz / fusion dari Jepang ini akan tampil kembali di JakJazz 2006 mendatang, penulis kemudian mencoba untuk membongkar beberapa kotak yang berisi kaset “usang”. Mengingat sepertinya masih ada beberapa keleksi yang berkaitan dengan musisi kelahiran Tokyo pada tanggal 14 Oktober 1953 ini. Tidak banyak memang koleksi yang didapatkan ada Kazumi Watanabenya. Meskipun beberapa kondisinya sudah tidak prima lagi, namun yang ditemukan masih cukup bernilai untuk didengar dan dinikmati kembali.

Pertama, penampilan gitaris yang mulai belajar musik jazz tradisional sejak berusia belasan tahun di bawah bimbingan Sadanori Nakamure ini tampil dalam beberapa komposisi bersama Steps (sebagai cikal bakal band fusion terkenal Steps Ahead) dalam album “Smokin’ In The Pit”, sebuah rekaman konser di Jepang pada tahun 1979. Band yang terdiri dari Mike Mainieri (vibraphone), Michael Brecker (saxophone), Don Grolnick (piano), Eddie Gomez (bass) dan Steve Gadd (drum) ini sepertinya sudah tepat kalau mereka semua sepakat untuk mengajak naik panggung bersama musisi dari tuan rumahnya. Meskipun tidak tampil di semua lagu, Kazumi memperlihatkan keahliannya sebagai gitaris jazz yang terdengar cukup garang.

Sebenarnya, kala itu Kazumi juga sudah mempunyai jam terbang yang cukup matang. Terbukti dengan keluarnya album pertama Kazumi di tahun 1971 yang berjudul “Infinite”, banyak orang mengklaim sebagai pemain gitar ajaib yang menjanjikan. Pada tahun 1979 pun, Kazumi bergabung bersama para musisi inovatif seperti Ryuichi Sakamoto, Akiko Yano dan Shuichi Murakami untuk membentuk sebuah band yang bernama Kylyn. Di mana kelompok ini sangat berpengaruh terhadap khasanah musik di Jepang. Pada tahun yang sama, dia ikut berpatisipasi dalam tour keliling dunia Yellow Magic Orchestra, di mana orkes ini sangat membantu Kazumi dalam memperoleh pengakuan internasional.

Kedua, “temua” lain yang menarik adalah album “Tochika”. Album yang dikeluarkan pada tahun 1980 ini pernah menjadi sebuah terobosan besar dalam industri rekaman musik jazz di Jepang dan sekaligus memantapkan posisinya sebagai pioneer jazz rock di negeri Matahari Terbit. Para musisi jazz dari Amerika terkenal pun ikut membantu, antara lain Kenny Kirkland (piano), Marcus Miller (bass), Peter Erskine (drum) dan masih banyak lagi. Sejak itu, penampilannya di Amerika Serikat atau negara-negara Asia telah menjadi agenda rutinnya. Termasuk tampil bersama ratusan musisi terkenal di dunia.

Di awal 1980an, Kazumi juga membentuk sebuah band yang bernama Mobo. Kurang lebih kepanjangan dari modern be bop. Sebuah konsep pendekatan yang pada era 1980an memang masih menjadi perbincangan menarik para pecinta musik jazz atau pun kritikus jazz, yaitu persoalan bagaimana menampilkan gaya be bop dalam kemasan kekinian. Sekarang ada sebagian media menyebutkan sebagai neo-bop.

Sebuah kelompok yang sering menjadi perbincangan di antara teman-teman “kolektor” di Jogja, yaitu album “The Spice Of Life” yang dikeluarkan oleh label Polygram tahun 1986. Melihat musisi pendukungnya pun sudah ingin langsung menyimak. Kazumi tampil dalam formasi trio dengan dibantu oleh mantan anggota Yes dan personil King Crimson (kala itu) Bill Bruford (drum & perkusi) dan Jeff Berlin (bass). Setelah mendengarkan album ini, kalau boleh usul bisa dimasukkan dalam daftar rekomendasi untuk para pembaca sekalian.

Berbicara mengenai rekomendasi dan penghargaan, Kazumi pun telah banyak mengantongi berbagai piala penghargaan. Antara lain pada tahun 1984, dia memperoleh Grand Prix of Jazz Disc. Sementara pada tahun 1991, Nanri Fumio Award pernah disabetnya juga. Pernah terpilih sebagai The Best Jazzman dari sebuah media massa musik jazz terkenal dari Jepang, Swing Journal, selama 24 kali berturut turut. Selain itu, dia juga pernah menyelenggarakan beberapa progam musikal.

Memasuki dekade 1990an, gitaris yang sejak tahun 1996 menjadi professor tamu di Senzoku Gakuen College sebagai pengajar musik jazz ini bereksplorasi dengan gitar akustik dalam idiom musik klasik. Hal ini terbukti dengan berbagai pagelarannya di kota-kota besar Eropa juga sukses.

Koleksi terakhir, album tahun 1992 milik Kazumi  dengan judul “Pandora”. Bersama formasi Resonance Vox dengan bintang tamu master tabla Zakir Hussain. Masih bersemangat dalam menyuarakan ramuan fusion / jazz rock namun dengan sedikit sentuhan musik etnis.

Selain album-album yang disebutkan di atas itu, tentunya masih banyak lagi. Dari tahun 1971 sampai sekarang, sedikitnya Kazumi sudah mengantongi 27 album solo dengan maksud berbagai variasi tantangan dan kemungkinan dalam mendobrak batasan-batasan genre musikal yang selalu menarik bagi para penggemarnya. Beberapa album lain di era 1990an yang barangkali bisa mewakili gaya permainan orisinilnya seperti album “Esprite” (1996), “Dandyism” (1998) sampai “One For All” (1999) yang merupakan album konsernya di New York.

Di luar kemampuannya sebagai improviser, Kazumi ternyata juga mempunyai bakat sebagai komposer dan arranger yang cukup handal dalam berkreasi dengan dunia musiknya.  Pada tahun 2001 ketika dalam rangka memperingati 30 tahun kariernya musiknya, Kazumi mempersembahkan karya dengan judul “Suite For Guitar”. Sebuah komposisi dan penampilan di mana dia tertantang kenyataan akan berbagai kemungkinan dalam menggunakan instrumen gitar. Baik gitar akustik, elektrik maupun semacam instrumen gitar dari berbagai jenis kesenian dunia.

Beberapa dokumentasi audio-visualpun pernah dikeluarkan. Di antaranya adalah sebuah paket multimedia yang dikemas dalam bentuk DVD dengan judul “Les Jeux Interdits” dan sebuah DVD rekaman konser bersama Richard Bona (bass) and Horacio ‘El’ Negro Hernandez (drum & perkusi) yang dikeluarkan pada tahun 2005 lalu.

Dari segi permainannya, Kazumi mempunyai skill yang tinggi. Sering dia tampil dalam formasi trio di mana tidak ada / minim yang berperan sebagai penjaga harmoninya. Secara kasarnya, cukup rumit. Dalam hal kecepatan, beberapa orang bilang kalau permainannya tidak kalah dengan Al DiMeola. Sebuah hal yang jarang atau setidaknya sedikit dilakukannya adalah penjelajahan warna individual musiknya. Kalau kita amati dari awal kemunculannya tidak banyak muatan warna individunya yang berkembang, relatif mandeg dan monoton.

Namun bagaimana pun, penampilan kembalinya di JakJazz 2006 ini menjadi salah satu obat rindu bagi para penggemarnya di Indonesia. Di mana Kazumi juga pernah ikut berpatisipasi beberapa kali dalam penyelenggaraan festival JakJazz di beberapa tahun lalu.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker