News

SUGUHAN PERJALANAN E.S.T.

Dari kiri-kekan. Esbjrön Svensson (piano), Dan Berglund (bass) & Magnus Öström (drums). Photo Kushindarto © Wartajazz.com

Kalau Keith Jarreth disebut-sebut dalam tulisan mengenai Svensson, dalam konser memang kita dapat mendengar visualisasi ide melodiknya dirapal di mulut, seolah suara samarnya memberi komando bagi apa yang tertuang oleh jemarinya di piano dan menjadi perantara isi kepalanya. Dalam kejap kilat itu, dapat meluncur mulus rangkaian utuh atau kadang frase yang terputus-tertahan. Improvisor sejati ada kalanya merasa masuk ke daerah yang terlalu dikenalnya sehingga kemudian menahan diri; seorang trumpeter misalnya menjauhkan mouthpiece dari bibir untuk menghindari wilayah tabu ini. Dalam konteks lain, ‘menahan’ juga dipraktekkan E.S.T. secara komposisi pada “From Gagarin’ Point of View” yang mengakhiri konser ini (23/01/’07). Seolah merasuki kosmonot Rusia tersebut, semuanya lebih menahan, tidak hambur aksesori demi denyut lagu di orbit ruang hampa.

Namun, piranti manipulasi elektronik plus kerjasama penata suara khusus yang lumayan wah dieksplorasi Esbjrön Svensson Trio pada instrumen akustiknya. Svensson terlihat memutar-mutar besaran delay pada efek gitar populer bentuk palet yang diumpan ke mik piano. Bassis Dan Berglund idem dengan pedal-pedalnya. Ambient total dan warna eletronica juga ditopang drummer Magnus Öström. Selebihnya akustiklah yang sebenarnya berbicara, perangkat-perangkat tersebut hanya memperkuat dengung kotak piano, bel, atau gesekan bass yang menjadi sayat distorsi rock. Bahkan, pada nomer “The Goldhearted Miner” selipat kertas yang ditumpangkan ke senar piano untuk menutup sekitar lima tuts menjadi solusi efektif untuk head pendek lagu itu. Mungkin kasar untuk menyebut efektif, akan tetapi, dengan sesekali meletakkan kertas itu head-nya seolah terdiri dari unison piano, bass, dan mungkin sitar (yang diemulasi piano sember).

Pada “Definition of A Dog”, Öström berimprovisasi dengan lempeng logam yang dilekukkan dan dipukul dengan mallet. Dengan mengendur-kencangkan lekukannya, diperoleh suara plastis yang bernada. Pegangan masing-masing personil tersebut tetap tersaji sebagai permainan grup yang terjaga utuh kendati banyak jeda solo individual. Maka tiga musisi ini tidak pernah kekurangan orang untuk menyampaikan pesan-pesannya; agaknya konser ini disuguhkan seperti travelling. Perjalanan mereka menemukan E.S.T yang sekarang pun terasa transformasinya dari mulai album “When Everyone Has Gone” (1993) hingga kini.

Penonton sempat berpartisipasi pada riangnya “In My Garage” yang entah sengaja atau tidak ada idiom Pelog Sundanya. Keriangan lain ada di ” When God Created The Coffee Break”. Selebihnya tonal gelap dan berat banyak mewarnai seperti pada “Tuesday Wonderland” (album terkini) & “Serenade for Renagade”. Sebagian penonton yang merupakan musisi jazz muda Indonesia sesekali terkaget-kaget atas aransemen maupun solo personil E.S.T sepanjang konser.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker