News

YUNI, SOSOKNYA JUGA TENTANG JAZZ DAN KESENIAN DI CAFE AU LAIT

Salah satu kegiatan di Au Lait. Dewa Budjana, Arief Setiadi, Riza Arshad tampil bareng.

Jika akhir-akhir ini kita sering membaca info dimilis-milis tentang Café Au Lait yang pada hari-hari tertentu menghadirkan musisi-musisi jazz yang tidak tanggung-tanggung, seperti Riza Arshad, Tohpati, Benny Likumahua, Nikita Dompas, Sri Hanuraga, Rayendra, Indra Aziz dan sederet nama beken lainnya. Kali ini, coba simak profil pemilik dari kafé ini, Yuni, begitu ia akrab disapa dan apa yang ada dibenaknya tentang Café Au Lait.

Café Au Lait (baca : Aule) yang dalam bahasa Perancis artinya adalah Kopi Susu. Jadi kalau diartikan kedalam bahasa Indonesia, Café Au Lait ini adalah Warung Kopi Susu.

Terletak di Jl. Cikini Raya No. 17 Menteng.  Sebelum dijadikan kafé pada bulan Mei 2006, dulunya bangunan ini adalah gudang. Dengan tidak merubah keaslian dari bangunan, Ia membuat kafé dengan suasana kolonial tempoe doeloe yang menyediakan makanan dan minuman khas Eropa dan Asia dengan jam operasional 8 pagi hingga jam 12 malam setiap harinya.

Ditengah membanjirnya tren kafé-kafé yang menghadirkan musik Top 40 sebagai suatu hiburan, Ia melirik Jazz sebagai musik yang pas merangkul segala generasi, selain juga karena ia penikmat jazz dari awal. Ia tidak menentukan musik jazz apa yang harus dibawakan musisi, melainkan membebaskan musisi untuk membawakan lagu apa saja yang mereka inginkan bahkan hingga melakukan jam session. Tentunya hal ini disambut baik oleh para pengunjung, terbukti semakin malam, musisi biasanya hanya berjam session dan malah semakin ramai suasananya. Mungkin musisi juga sudah kehabisan repertoir lagu, tapi tidak bisa berhenti melayani pengunjung yang terus menerus meneriakan kata “more-more”.

Ia menggandeng Riza Arshad yang merupakan temannya sejak lama, sebagai partner dalam menghadirkan musisi di café Au Lait ini. Terbukti, deretan musisi yang hadir adalah nama-nama yang tidak asing dalam dunia jazz baik generasi baru ataupun lama. Sering juga tempat ini dijadikan ajang bagi mereka untuk kumpul, berjam session ataupun sekedar ngobrol. Jangan terkejut, bila kita mendapati musisi dengan jam terbang tinggi dideretan pegunjung dengan santainya. Sekedar melepas penat, mencari tempat yang asik dan nyaman, ataupun ingin melihat temannya tampil. Kamis lalu (12/07) terlihat Dewa Budjana dengan santainya menyimak penampilan Tohpati Ario Hutomo yang malam itu tampil bersama Indro Hardjodikoro-Bass, Sandy Winarta-Drum dan Eugene Bounty-Clarinet.

Selain Jazz, kafe ini sering dijadikan sebagai tempat kumpul suatu komunitas seni tertentu. Seperti pada minggu ini (15/07) terlihat Komunitas Puisi Bunga Matahari sedang kumpul diselingi live band yang sedang membawakan Pop Alternatif seperti lagu-lagu White Shoes and the Couples Company. Dan sekarang, kafe ini juga dijadikan sebagai salah satu tempat Jakarta International Video Festival yang diselenggarakan oleh Militia OK Video tanggal 11-27 Juli 2007 ini.

Wanita kelahiran tahun 1973 dengan latar belakang pendidikan Tarakanita ini mengaku sebagai penikmat musik Indonesia sejak kecil, beranjak dewasa ia lebih jeli dalam melihat musik dan lebih menyukai jazz. Sebenarnya ia menyukai segala jenis musik, tapi tidak yang biasa-biasa saja -begitu ia menyebutnya-. Untuk kedepannya, ia mengharapkan agar tempat ini selain bisa menghadirkan live musik, berkumpulnya komunitas kesenian, juga bisa sebagai tempat pameran photo.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker