News

SUGUHAN GILANG RAMADHAN BERSAMA TIGA KAWAN LAMANYA

Layaknya melihat sebuah jam session dari empat musisi kawakan yang sudah berkawan sejak lama dan baru bertemu pada malam itu. Gilang Ramadhan (drums), Agam Hamzah (guitar), Adi Dharmawan (bas) dan Riza Arshad (piano) malam itu (16/8) tampil di Cafe AuLait Menteng. Kurang lebih selama dua jam mereka tampil membawakan beberapa komposisi freejazz, fusion, bebop dan blues. Ketika ditanya tentang konsep, Gilang menjawab “bebas, mengalir saja, tapi tetap fokus”. Karena mereka sudah berkawan sejak lama, tentunya tau kemana arah permainannya mengalir.

Dua komposisi freejazz pada awal permainan mereka terasa menghentak, seperti membangkitkan adrenalin. Permainan drum Gilang terasa begitu dominan, walaupun dengan set drum yang terbatas. Tidak seperti biasanya memang, dimana ia selalu menyertai alat-alat pukul tradisional seperti gendang, tifa, ceng-ceng dll diluar drum set standar. Pada malam itu ia cukup menggunakan hi-hat, snare drum, tom-tom, floor tom, bas drum, symbal ditambah dengan kecrek dan ceng-ceng. Dua benda terakhir seperti sudah menjadi ciri khasnya ketika tampil diluar drum set standar. Walau dengan drum set yang terbatas, tetap tidak mengurangi pola aksentuasi yang dibawakan. Ketika disinggung tentang hal tersebut, Gilang membenarkan kalau sekarang ini ia memang sedang ingin mengurangi set drumnya yang begitu banyak, tetapi dengan tidak mengurangi pola aksentuasinya. “suaranya tetap dapet”, jawabnya.

Sebagai pembanding, diluar kita juga mengenal banyak drumer yang menggunakan alat musik pukul/perkusi tradisional diluar drum set standar. Sebut saja Stewart Copeland, mantan drumer The Police pada albumnya “The Rythmatist”, ia menggunakan unsur perkusi Afrika dalam membentuk suatu rhythm pada fusion yang ia mainkan.

Anda tentu juga membayangkan, bagaimana jadinya bermain freejazz dan fusion dengan hentakan drum Gilang yang upbeat dan kaya aksen pada kafe dengan space yang terbatas. Awalnya memang agak mengejutkan, tapi justru malah membangkitkan semangat dan ikut larut mengikuti pola beat yang dimainkan diakhir weekdays tersebut. Tapi tunggu, pada komposisi selanjutnya permainan berangsur pelan, dengan dominasi permainan gitar blues ala Agam Hamzah dan sound bas yang kadang teselip pola ala Jaco Pastorius.

Ketika ditanya bagaimana kesannya bermain diCafe AuLait, Gilang mengaku senang. Tidak harus tampil diTV, karena dengan keberadaan tempat semacam ini juga maraknya komunitas-komunitas jazz yang muncul, itu manandakan kalau musik jazz, musisi dan penikmatnya tetap eksis.

Mungkin itulah salah satu hal yang membedakan jazz dengan budaya pop yang tidak bisa hidup tanpa TV, yang harus didukung oleh promosi, video klip ataupun isu diluar materi musiknya yang sifatnya “tidak nyambung” dan artifisial. Proses rekaman yang penuh polesan, hingga ciri khas pribadinya tersamarkan dan lemah pada live performancenya.

Sepertinya kiprah kafe AuLait harus diacungkan jempol dalam mendukung eksistensi jazz. Karena sudah hampir satu tahun ini rajin menghadirkan sederet musisi jazz dari berbagai generasi dalam agendanya. Jangan membayangkan kalau live jazz yang disuguhkan hanya sebagai kawan makanan dan minuman yang disajikan, atau sekedar hiasan malam. Melainkan yang terjadi adalah sebaliknya. Makanan dan minumanlah yang menjadi kawan live jazz yang disuguhkan.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker