FestivalJazz Goes to CampusNews

30 TAHUN TRADISI PESTA DAN APRESIASI INSAN KAMPUS PADA MUSIK JAZZ

Dari Three Decades of Jazz Goes To Campus

Jazz Goes To Campus seadanya telah menjadi bagian penting dalam catatan perjalanan musik jazz di Indonesia. Tradisi yang genap dilaksanakan tiga dekade ini bak tongkat estafet antar angkatan di  Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Image telah terbentuk dan lepas dari segala kelebihan dan kekurangannya,  nama JGTC telah tercatat sebagai festival terutin dan tertua yang diselenggarakan oleh lingkungan kampus di negeri ini.

Semangat dan kebanggaan ini puncaknya dirayakan bersama pada hari minggu 18 November 2007 lalu. Pentas JGTC yang kali ini bertema “Celebration of Inspiration” disebutkan oleh ketua panitia JGTC 2007, Christa Sabathaly, adalah ingin memberikan penghargaan kepada mereka yang telah menginspirasi perkembangan jazz di Indonesia dan menopang eksistensi JGTC selama ini. Ia sebutkan juga bahwa penghargaan ini bukanlah sebagai ajang kompetisi, tapi merupakan ucapan terimakasih yang levelnya dinaikkan dalam bentuk trophy serta rasa apresiasi tertinggi dari dalam lubuk hati. Maka dari itu selain acara rutin one-day festival dan jazz exhibition berupa klinik dan kompetisi. Implementasi langsung dari perwujudan tema JGTC tadi adalah pemberian penghargaan kepada beberapa insan jazz negeri. JGTC Award yang baru pertama kali diadakan ini mencatat nama; Nial Djuliarso pada kategori Promising Jazz Musician, Balawan (Jazz Rising Star), Benny Likumahuwa (Dedication in Jazz), Benny Mustafa (Lifetime Achievement Award), dan Chandra Darusman (Inspiration of JGTC).

Hal yang berbeda juga pada tahun ini dalam deretan pra eventnya adalah dengan mengangkat isu peduli lingkungan bertemakan “30 Going Green” yang bekerja sama dengan Glow-Alliance (sebuah gerakan sosial untuk menyadarkan kaum muda untuk melakukan sesuatu untuk memperlambat efek pemanasan global) disponsori oleh Volkswagen Indonesia dan didukung oleh Departemen Kehutanan RI dengan membagikan 500 bibit pohon Akasia sebagai bentuk kampanye antisipasi Global Warming di Bundaran HI dan Patung Kuda, Medan Merdeka Jakarta. Juga sebanyak 1500 bibit pohon jenis penghijauan yang juga diberikan kepada Rektorat Universitas Indonesia dan Pemda Depok. Hal ini juga disinggung Gumilar Soemantri selaku rektor Universitas Indonesia dalam sambutannya mengenai festival ini di Inspiration Stage, selain kegembiraannya atas keberadaan JGTC yg sudah ke-30.

Bagi musisi apresiasi pada JGTC antara lain dapat berupa inspirasi tertulisnya sebuah lagu yang kemudian dimainkan diatas panggung. Itu yang ditampilkan oleh gitaris Donny Suhendra dan pianis Nial Djuliarso pada masing-masing pementasannya. Donny Suhendra yang di JGTC kali ini hadir dalam format trio bersama bassis Christian Darma dan drummer Demas Narawangsa. Di salah satu repetoar orisinilnya, Donny memainkan sebuah lagu yang diberi judul “JGTC”. Lagu ini diakui Donny dibikin pada saat main di  JGTC tahun lalu dan dengan sahaja ia beri judul nama festival tersebut. Lalu ada Nial Djuliarso yang tampil solo piano jazz. Lulusan Berklee College dan Julliard ini membuktikan ia mampu menguasai panggung Celebration (panggung terbesar di acara festival kali ini) meski hanya tampil seorang diri dengan permainan pianonya. Pianis yang mendapat pengaruh musik dari musisi jazz terkenal Red Garland, Wynton Kelly, and Oscar Peterson ini juga menulis sebuah lagu untuk JGTC yang diberi judul “Tune From JGTC”. Tepuk tangan penonton menyambut permainan Nial di lagu itu. Beberapa repertoar lain yang ia bawakan diantaranya “Dibawah Sinar Bulan Purnama”, juga ‘All I am” dengan iringan vocalnya. Selain Nial dan Donny Suhendra, apresiasi pada JGTC juga dinyatakan oleh Rieka Roslan dari atas panggung di akhir pertunjukannya, “… Kalo JGTC setiap tahun ada, saya akan terus nulis lagu…”

Kemeriahan pesta JGTC juga dimanfaatkan oleh beberapa musisi sebagai wadah untuk mempresentasikan karya baru dan menimba input dari apresiasi penontonnya. Sebut Canzo di panggung Celebration yang segera merilis album baru pasca grup ini menyingkat nama mereka. Band yang digawangi gitaris Totong dan keybordis Derry ini, mengajak musisi-musisi muda seperti Dennis Junio (alto-tenor saxophone) yang baru berusia 14 tahun, Naya (Bass), Ria Juwita(Drum) tampil pada Celebration Stage dan membawakan lagu-lagu berbau fusion era 80-an yang diambil dari album Canzo bertitel ‘Song for You’ beberapa diantaranya adalah “Have a nice day” & “Over night”. Album Canzo sedianya rilis di bulan November ini. Modus operandi ini juga dapat disimak pada penampilan beberapa grup di pangung Inspiration. Soulvibe, kelompok teluran komunitas Jl. Kamboja – Menteng – Jakarta, segera merilis album dalam dua bulan kedepan. Sister Duke yang tampil berikut malah telah menjual albumnya, “Highlight of The Day” di arena JGTC.  Belum lagi ada Sol Project yang merilis ulang album perdananya agar terdistribusi lebih luas dan Rafi drummer muda dengan rekaman diproduksi oleh drummer Fourplay Harvey Mason. Panggung Inspiration juga menampilkan eks personil Sova, Andezzz yang albumnya Andezzz [Departure:people] sedang naik daun di tengah simpang-siurnya istilah cross-over jazz dan nu-jazz di negeri ini. Di panggung celebration bisa ditonton biang pengusung aliran musik baru, Sore, yang akan meluncurkan kreasi terbaru mereka – “Ports of Lima” – di akhir November ini. Di panggung besar itu juga kita dapat menemui Kulkul. Grup fusion yang menyandingkan musiknya dengan instrumentasi etnis Bali ini menghadirkan sebagian lagu dari album perdana mereka “Welcome to Bali” , ditambah beberapa lagu lain, “Bermain” dan kover karya Guruh Soekarno Putra, “Zamrud Khatulistiwa” yang dinyanyikan oleh Paul T-Five. Album Kulkul itu dapat dibeli di arena JGTC beserta aksesioris kaus dan stiker.  Rieka Roslan yang hadir berikut juga berusaha mempopulerkan lagu-lagu dari album gresnya. Rieka yang ditemani kolektif Troubadour memainkan karyanya dari bakal album “Triangle of Life”.  Penampilan Rieka bisa disebutkan sebagai satu puncak acara JGTC hari itu. Penonton oleh Rieka berhasil diajak berdiri dan ikut berputar mengoyangkan badan mengikuti lirik persuasifnya, “… Kuberputar / Kiri kanan / Tangan di awang / Tepukkan / (Tepuk tangan bersama) / Hilang sudah / Sedih rasa / Patahkan Tumbang / Berganti / (Tepuk tangan bersama) / …” Salut Rieka dengan “pola Indonesia”-nya !

Juga kehadiran Idang Rasjidi, yang hampir tidak pernah absen dalam festival ini tiap tahunnya, dengan syndicate selalu tampil membawa bibit baru dalam dunia musik, kali ini ia membawa Shadu (Bass), Alsa (Drum), Shaku (Percusi), dan lima orang vocalis yang berasal dari Universitas Negeri Jakarta bernama Sound of Varietals. Beberapa lagu yang dibawakan diantaranya “Matras” dan “Finally I know”. Diakhir penampilannya, ia mengajak seorang vokalis wanita bernama Dissa. Disusul setelah itu Ireng Maulana & friends pada awal penampilannya bercerita utk 3th pertama sejak kelahiran JGTC, ia selalu bermain disana. Kali ini ia tampil bersama Hari Toledo (Bass), Rudi Subekti (drum), Didik SSS (Saksofon), pada lagu kedua  mengajak Andien menyanyikan 3 lagu salah satunya lagu milik negeri sendiri “Tentang Aku” milik Jingga. Setelah itu ia mengajak grup vocal Warna menyanyikan 3 lagu dari The New York Voices.

Apresiasi pada inspirasi sejarah JGTC diwakili dengan kembalinya Chaseiro. Reuni tidak lengkap kelompok ini, tanpa Chandra Darusman dan Rizali Indrakesuma, merupakan penampilan kelima mereka setelah berturut-turut hadir di pagelaran pertama sampai ketiga dan festival ke-26.  Kali ini Chaserio dikawal oleh drummer tetap mereka, Uce Hariyono, bassis Ade Hamzah, keybordis Ocom, dan gitaris muda Ahmad Ananda. Meski terasa antiklimaks karena panggung telah dipanaskan oleh Rieka Roslan, Chaseiro dengan simpatik berturut-turut melantunkan “Kulama Menanti”, “Dara”, “Sapa Pra Bencana”, dan “Peringai Diri.” Nostalgia dengan Chaseiro terputus ketika Vonny Sumlang hadir dikonsep tidak membawakan lagu Chaseiro atau berkolaborasi dengan kelompok itu. Vonny malah mempromosikan lagu barunya, “Nirwana”, dan menciptakan suasana hiburan café ke atas panggung. Lepas dari dua lagu Vonny,  Chaseiro kembali dengan “Mari Wong” dan menutup porsi mereka melalui hits “Pemuda”. Kharisma lagu terakhir ini berhasil menyelamatkan penampilan Chaseiro dan kembali mengundang tepuk tangan penonton.

Porsi Vonny Sumlang tadi mungkin akan lebih masuk di barisan penampil berikutnya. Panitia JGTC menghadirkan tiga generasi jazz divas, terdiri dari Iga Mawarni, Andien, dan Rieka Roslan. Koloborasi Vonny Sumlang dengan ketiga penyanyi tersebut – yang notabene lebih muda dalam hal titian karir – sedianya akan membuat konsep “generasi jazz divas” menjadi lebih cantik. Setuju? Apapun jawabnya, penampilan tiga “jazz diva” di panggung Celebration dan satu-satunya artis impor hasil mix dari USA dan Vietnam, Curtis King, di panggung Inspiration menutup kemeriahan pesta malam itu. Bravo JGTC, Happy Three Decades, dan mudah-mudahan usul Benny Likumahuwa di malam penganugrahan award, “…JGTC dikembangkan lagi sayapnya dengan mengundang (pemain-pemain jazz, red) dari kampus-kampus di sekitar asean, atau kalau bisa asia bahkan mendunia…” dapat terlaksana. Semoga!

Untuk Anda yang melewatkan pesta ini, dapat menunggu tayangan tundanya di satu tv lokal Jakarta tanggal 16 Desember 2007. Atau jika dapat lebih sabar, untuk pertama kalinya penyelenggara JGTC akan merilis sebuah album kompilasi live performances beberapa musisi yang tampil, termasuk band pemenang Jazz Competition. Sedianya rekaman ini baru akan edar di bulan Januari 2008 yang akan datang. Tunggu saja.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker