Jak Jazz FestivalNews

KAYON (PRA BUDI DHARMA, INDRA LESMANA, GILANG RAMADHAN): BE A CROWD-PULLER

KAYON (PRA BUDI DHARMA, INDRA LESMANA, GILANG RAMADHAN): BE A CROWD-PULLER

Bagaimana pun, kehadiran Indra Lesmana sebagai musisi jazz unggulan dari Indonesia ternyata masih ditunggu – tunggu para penggemarnya di berbagai event musik jazz di Indonesia. Lihat saja, sejak pertama kali JakJazz digelar pada tahun 1988 sampai sekarang Indra Lesmana tetap tampil di hadapan ribuan penonton. Atau di ajang lain seperti Java Jazz dan Bali Jazz Festival, tetap saja putra dari Jack Lesmana ini diminati oleh ribuan orang. Belum termasuk berbagai event jazz yang digelar di beberapa kota lain di Indonesia.

Untungnya, hampir dalam setiap pertunjukannya Indra Lesmana sering tampil dengan berbagai formasi maupun proyek musik. Sehingga tidak membosankan penonton dan sering kali para penonton juga malah menduga – duga akan seperti apa penampilan Indra Lesmana kali ini.
Sebenarnya, formasi Pra Budi Dharma (bass), Indra Lesmana (piano, synthesizer, melodika) dan Gilang Ramadhan (drum & perkusi) atau yang lebih dikenal dengan sebutan PIG sudah lama terbentuk kurang lebih 11 tahun lalu. PIG kala itu juga tampil di JakJazz dan sempat mengeluarkan album. Kemudian, lama “bertapa”. Baru ketika di Bali Jazz Festival tahun 2005 lalu, PIG muncul kembali. Dua tahun terakhir ini, PIG memang sering kali tampil di berbagai tempat.

Bulan September lalu mereka juga mengeluarkan album anyarnya yang berjudul “Kayon: Tree Of Life”. Ada perbedaan style dibandingkan dengan album pertamanya. Kali ini mereka tampil lebih terasa nafas bebopnya dan juga memasukkan beberapa elemen musik tradisional Indonesia. Di akhir bulan September 2007 lalu, Indra dan kawan-kawan tampil dalam forum Asia-Pasific Weeks di Berlin Jerman yang diselenggarakan oleh The House of World Cultures. Seperti dilansir oleh The Jakarta Post, pertunjukan mereka di sana sukses. Banyak mengundang pujian dan para penonton memberikan penghargaan dengan standing ovation di akhir pertunjukan.

Bagaimana penampilan PIG di JakJazz 2007 kali ini? Yang jelas juga berbeda dengan penampilan mereka di tahun lalu dalam festival yang sama. Di JakJazz 2006 lalu, mereka menampilkan komposisi – komposisi yang cenderung abstrak atau sebagian orang bilang itu adalah genre free jazz sehingga banyak penonton yang sudah meninggalkan bangkunya sebelum konser usai. Kala itu, Indra hanya menggunakan moog synthesizer dan pianika. Sementara Pra menggunakan bass modifikasinya (slendro fretless) yang khas dan Gilang membawa drum dan seabrek peralatan perkusi tambahan.

Sementara penampilan mereka dalam JakJazz 2007 kali ini lebih fokus kepada album mereka yang terbaru. Semua komposisinya diambil dari album tersebut. Tema melodi atau pun ritmiknya lebih mudah untuk diraba. Dalam kesempatan ketika tampil di Festival Schouwburg VI awal September 2007 lalu, Indra Lesmana memang menyatakan, ”Kami berusaha memainkan bebop sebagai landasan…., Bebop itu sesuatu yang natural bagi saya“. Meskipun rasanya lebih cocok kalau memainkan style yang lebih fresh dari pada sekedar bebop klasik seperti trend di 52nd Street New York 50 tahun yang lalu. Atau barangkali dengan istilah yang lebih modis, neo-bop.

Instrumentasi yang dipakai pada penampilan mereka tahun ini ditambahkan dengan piano minus moog serta dalam beberapa komposisi Gilang memainkan kecrek yang dimainkan dengan pedal (kick) di kaki kiri sementara kenong ditaruhnya di pedal kaki kanan. Ya, sesuai dengan album “Kayon” ini, mereka dengan hati – hati mencoba untuk mempertemukan bebop dengan sebagian elemen musik tradisional dari segenap penjuru Indonesia.

Di satu pihak, mereka telah memasuki trend trio piano jazz dengan nafas yang segar. Banyak sumber ide dan materi musikal yang bisa dilakukan dalam formasi tersebut. Trend tersebut bisa mengambil contoh seperti Esbjorn Svenssen Trio (belum lama ini juga sempat manggung di Jakarta), The Bad Plus, Ronin dan lain – lain. Di lain pihak, sebuah keuntungan yang besar bahwa Indonesia menyimpan kekayaan budaya, terutama dalam hal kesenian tradisional. Bisa dikatakan dari Sabang sampai Merauke menjadi harta yang sangat bernilai.

Salah satu momen yang paling menyenangkan dalam menikmati musik jazz adalah melihat penampilan seorang musisi / sebuah band ketika mereka berada di atas panggung. Ada suasana, semangat, kejutan dan spontanitas yang lain dibandingkan dengan di studio. ‘Kayon Part I’ membuka penampilan mereka dan disusul dengan ‘East Coast Of Java’. Komposisi – komposisi tersebut ditampilkan dengan bersemangat. Seolah menjadi sebuah dialog, tarik menarik antara bebop dan musik tradisional. ‘Panghareupan’ Indra bermain melodika sembari melodinya menirukan suara seruling Sunda. Berturut – turut mereka menampilakan komposisi – komposisi ‘Mumang’, ‘Little Jakarta’, ‘Medemato Kamaki Sawosi’, ‘First Dawn’ dan ‘Makepung’.

Secara umum kalau dibandingkan dengan album studionya sendiri, penampilan konser mereka memang terasa lebih garang dan panas. Masing – masing individu mencoba untuk bereksplorasi dengan instrumentnya secara maksimal. Indra dengan chord – chord yang tipis dan lentur membuat batasan horison musikalnya lebih terbuka. Mengingatkan kita kepada peran McCoy Tyner dalam formasi klasik John Coltrane Quartet. Sementara Gilang sendiri berusaha untuk beradaptasi dengan berbagai ragam perkusi musik tradisional kita. Meski terlihat lebih santai dalam hal stage act-nya dibandingkan dengan rekan – rekannya, ternyata Pra juga melepaskan energi dan kekuatan yang besar dalam perannya sebagai “jembatan” antara piano dan drum. Apalagi permainannya sudah “outside” seperti itu.

Penampilan mereka rupanya masih juga menarik minat para pecinta jazz Indonesia. Terbukti dengan setengah bagian dari Gedung Istora Senayan tersebut dipadati pengunjung. Meskipun masih ada banyak penonton sempat sedikit kecewa atas diajukannya jadwal penampilan Kayon satu jam lebih awal dikarenakan Indra Lesmana harus segera berangkat untuk menjadi juri di acara kontes Asian Idol setelah pertunjukannya usai. Termasuk kritikus musik, etnomusikolog Indonesia terkemuka Franki Raden yang sebenarnya tujuan utama datang ke JakJazz 2007 ini adalah untuk menyaksikan Indra Lesmana dan kawan-kawan.

Namun bagaimana pun, Indra Lesmana bersama Kayon masih menjadi salah satu pilihan unggulan bagi para pecinta musik jazz di Indonesia. Kembali, di akhir pertunjukan mereka mendapat acungan jempol dan kehormatan standing ovation dari segenap penggemarnya. (*/Ceto Mundiarso/Wartajazz.com)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker