News

DHAFER YOUSSEF: A MAN FROM TUNISIA

Ibaratnya, Miles Davis bertemu dengan Karlheinz Stockhausen sehingga akhirnya melahirkan sebuah sintesis baru dalam genre musik jazz yaitu fusion, di akhir dekade 1960an. Demikian juga dengan musisi kelahiran Tunisia pada tahun 1967 ini yang seolah membuat kita membayangkan pertemuan antara Karlheinz Stockhausen, Miles Davis dan Jalaluddin Rumi, seorang sufi legendaris dari Turki. Sebuah presentasi musik menantang dengan gabungan warna musik elektronik, improvisasi musik jazz serta tradisi musik Timur Tengah dengan nuansa mistik spiritual.

Saat ini sebenarnya sudah cukup banyak musisi asal kawasan Timur Tengah yang berhasil go international. Sebagian besar menawarkan eksotisme musikal dari kawasan tersebut dengan berbagai inovasi dan modernisasi seperti membuat kanal komunikasi antara tradisi musik dari kawasan tersebut dengan tradisi musik Barat.  Katakanlah musisi – musisi seperti Rabih Abou Khalil, Anouar Brahem atau Dede e’Nar dan masih banyak lagi.

Sebagian besar juga merepresentasikan dengan instrument tradisional setempat atau dari sisi komposional yang memuat nada – nada dan harmoni khas kesenian dari kawasan Timur Tengah. Termasuk Dhafer Youssef sendiri yang bermain dengan instrument lute khas dari Timur Tengah atau sering disebut dengan Oud. Barangkali kalau di Indonesia instrument tersebut kurang lebih mirip dengan gitar gambus yang sering dipakai dalam kesenian Melayu.

Sebuah sisi lain menarik apa yang dilakukan Dhafer Youssef dibandingkan dengan musisi lainnya yang berasal dari di wilayah musikal yang sama adalah keterbukaannya dengan pengaruh jenis musik lainnya. Dari musik klasik, jazz, rock atau pun malah musik elektronis yang saat ini menjadi salah satu trend menonjol di beberapa negara Eropa beberapa tahun terakhir ini.

****

Lahir di sebuah kota kecil pinggir pantai, Teboulba, Dhafer kecil sudah tertarik dengan dunia kesenian ketika baru berusia lima tahun. Pada awalnya, Dhafer sengan bernyanyi. Di saat yang bersamaan, Dhafer juga berkeinginan menjadi seorang musisi yang hebat. Terutama dengan menggunakan instrument musik tradisional dari lingkungan kulturalnya yaitu oud. Karena berangkat dari sebuah keluarga menengah ke bawah di mana ayahnya tidak mampu untuk membelikan sebuah oud, Dhafer mencoba membuat oud dengan bahan material seadanya yang dapat ia temui. Untuk membeli sebuah oud, dapat dibilang memerlukan uang yang tidak sedikit.

Ketika menginjak usia remaja, Dhafer sekolah di semacam pesantren sembari banyak mendengarkan musik dari radio, satu – satunya sarana hiburan di kotanya kala itu. Banyak jenis musik yang disajikan, meskipun Dhafer belum mengetahuinya apakah itu musik klasik, jazz atau jenis musik yang lain. Dengan oud buatannya sendiri tersebut, Dhafer mulai melatih pendengarannya untuk bisa bermain.

Pada suatu saat, seorang temannya meminjamkan gitar kepada Dhafer sampai mampu menguasainya dengan baik. Dhafer belajar sampai berhari – hari. Seiring dengan kesibukannya sebagai penyanyi di pesta – pesta perkawinan, akhirnya Dhafer mampu membeli oud asli untuk pertama kalinya.

Di usia 19 tahun, Dhafer mendapat kesempatan untuk belajar musik di Wina, Austria. Meskipun pada saat itu Dhafer masih belum mampu membaca partitur musik. Di sana, dia pernah bekerja sebagai pencuci piring, pembersih jendela dan waiter untuk mencukupi kehidupannya sehari – hari sambil banyak mendengarkan musik jazz, klasik dan jenis musik lain. Hingga pada suatu saat dia bertemu dengan seorang pemain biola, Tony Burger, yang dengan sabar mengajarinya membaca dan menuliskan sebuah partitur musik. Selain itu, Dhafer juga bertemu dengan seorang pemain tabla Jatinder Thakur yang membawanya belajar musik India. Itulah saat – saat yang besar artinya dalam kehidupannya. “Saya mulai mencintai musiknya, seolah dekat dengan jiwa saya”, ujar Dhafer.

Kemudian tiba saatnya ketika Dhafer mendapat kesempatan untuk tampil di sebuah klab jazz terkenal di Wina yaitu Porgy And Bess. Dia mendapat tempat untuk tampil satu malam dalam setiap bulannya. Tiap – tiap bulan Dhafer menampilkan proyek yang berbeda. Di sana dia memperoleh kebebasan untuk memilih musisi siapa pun yang dia suka untuk diajak bermain bersama. Di tempat itu juga dia bertemu dengan berbagai musisi yang dia puji seperti Iva Bittova, Peter Herbert, Renaud Garcia Fons dan Christian Muthspiel.

Ketika Dhafer sudah berhasil mendapat perhatian publik di sana, dia mulai berpikir untuk membuat album sendiri. Kemudian lahirlah album perdananya, “Malak” di bawah label rekaman dari Jerman, Enja. Respon pasar album tersebut cukup baik. Sehingga publik musik jazz internasional mulai mengenalnya. Untuk beberapa waktu, dia tinggal di new York

Enja pun menawarkan untuk membuat album selanjutnya. Dalam album keduanya yang berjudul “Elektric Sufi”, Dhafer mengajak musisi – musisi sekelas Dieter Ilg, Markus Stockhausen dan Doug Wimbish. Namun setelah kejadian 11 September 2001, Dhafer pindah ke Paris.

Di Paris, Dhafer mulai sering bertemu dengan musisi – musisi dari Norwegia seperti trumpeter Nils Petter Molvaer dan vokalis Anneli Drecker yang mengajaknya untuk bermain bersama. Formasi ini akhirnya masuk ke dalam studio untuk merekam album ketiganya yang berjudul “Digital Prophecy” di tahun 2003. Album ini dibantu oleh musisi – musisi terkenal dari Norwegia, Eivind Aarset (gitar), Rune Arnesen (drum), Bugge Wesseltoft (keyboards), Dieter Ilg (bass), dan Jan Bang (sampling). Mereka semua adalah musisi – musisi yang berada di lingkarang pusat trend elektronik nu-jazz. ”Mereka memberikan saya banyak inspirasi, bahkan mereka lebih terasa Afrika dari pada orang Afrika sendiri”, puji Dhafer terhadap musisi – musisi tersebut. Dalam album ini, nyanyian – nyanyian spiritual transendental sufi didendangkan lebih dalam lagi olehnya namun dalam kemasan musik elektronis.

Album keempatnya dikeluarkan pada tahun 2006 dengan judul “Divine Shadow” di bawah label rekaman Jazzland. Album ini lebih mengedepankan posisi instrument oud dengan didukung latar belakang nu-jazz elektronis. Selain itu, Dhafer juga sempat untuk membuat album kolaberasi bersama gitaris dari Israel Amos Hoffman dalam proyek album “Na’ama” dan kolaberasinya bersama gitaris jazz dari Austria Wolfgang Muthspiel dalam album yang baru saja dikeluarkan, “Glow”.  Termasuk sempat juga membuat album dengan beberapa musisi dari Perancis seperti Nguyen Lee.

Beberapa dekade terakhir ini, instrument lute dari Timur Tengah ini mulai dikenal oleh segenap masyarakat internasional. Dalam hal ini didukung fakta dengan adanya para musisi jazz internasional yang berkolaberasi dengan musisi – musisi dari Timur Tengah, terutama para pemain oud. Sebut saja Rabih Abou Khalil dari Lebanon atau pun sesama musisi dari Tunisia Anouar Brahem. Kita dapat menjumpai mereka bermain bersama Steve Swallow, Jean Luc Godard, John Surman, Sonny Fortune, Charlie Mariano, Dave Holland, Ellery Eskelin dan lain – lain. Fakta ini sedikit banyak juga membantu membuka cakrawala baru dan peran instrument oud di masa mendatang.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker