Jazz di PekalonganKomunitasNews

JAZZ LOVER PEKALONGAN GELAR WORKSHOP JAZZ MY SOUL

Komunitas Jazz berkembang sedemikian pesat diberbagai daerah di tanah air. Salah satunya Jazz Lover Pekalongan yang awalnya dimotori oleh Benny, demikian nama udara Eko Adji, penyiar Radio BSP Pekalongan yang kini bermukim di Palembang dan merintis Palembang Jazz Community disana. Berikut ini adalah catatan kontributor kami Saiful Falah dari Pekalongan tentang kegiatan yang digelar di Dupan Convention Centre, tanggal 20 Desember 2007 lalu.

Kedatangan Idang Rasjidi agaknya hari paling bersejarah bagi kalangan musisi Pekalongan. Pasalnya kedatangan musisi kenamaan seperti Idang Rasjidi ini terbilang jarang sekali, apalagi emang sudah sebutan Kota Pekalongan selain Kota Batik yaitu Kota Lewatan para orang terkenal. Itulah yang Om Idang, begitu Idang Rasjidi menyebut dirinya, ucapkan sembari mengobarkan jiwa para pemuda Pekalongan ketika melihat suasana penonton workshop yang ramainya bukan main.

Setibanya Om Idang di Stasiun Pekalongan ia disambut oleh suasana lengang, sepi dan sejuknya Kota Pesisir ini kala pagi sekitar pukul 03.00 WIB. Lantas ia diajak makan di sebuah cafe di sini. Ia kagum dan terkejut bercampur kaget ketika mendengar ada makanan yang namanya nasi megono. Katanya sambil bercanda dengan peserta workshop, “Nasi megono itu jazzy banget, apalagi sama tempe anget plus minumnya kopi tahlil. Wah itu sih bukan enak, tapi uenak!” “Emang, Pekalongan emang jazzy banget dech!!!” Lanjutnya sambil berceloteh berkenalan dengan peserta dengan iringan melodi yang jazzy dari Sadhu (Bass) dan BJ (Perkusi).

Om Idang tidak datang sendiri untuk mengisi workshop ini, ia ditemani oleh 2 (dua) orang putranya, yaitu Sadhu (Bassis) dan Sakhu (Perkusi). Juga ada musisi jazz lainnya, seperti BJ (Perkusi), Josias, Fandi (2nd Piano), musisi-musisi jazz binaan Om Idang dari Yogyakarta, dan seorang perkusionis kecil bernama Mahesa Kele.

Banyak sekali yang Om Idang bagikan untuk kami, mulai dari ilmu musik sampai yang disebut ilmu kehidupan, langka tuh. Om Idang bercerita panjang lebar tentang musik dunia ini, tentang dia sendiri, bahkan tentang Indonesia yang kecolongan oleh tetangganya sendiri. Om Idang bercerita kalau musik itu adalah sesuatu yang mulia, sesuatu yang terpuji dan sama sekali bukan sesuatu yang merusak. Pada awal munculnya manusia lewat kelahiran dari rahim ibu, manusia menangis dan tangisan itu adalah musik pertama yang paling alami (human nature voices). Ia juga menyatakan bahwa Tuhan, Allah SWT, juga musisi banget. Buktinya Ia menutup dunia ini, kiamat, dengan musik lewat terompet sangkakala dari malaikat-Nya. Betapa mulianya musik.

Bahkan Om Idang bercerita tentang awal adanya musik jazz itu dari ritual keagamaan orang Afrika yang saat itu hanya bisa memukul-mukul kayu dan apa saja yang bersuara kalau dipukul. Dewasa ini alat musik pukul itu disebut perkusi, oleh karenanya perkusi disebut sebagai the mother of music. Begitulah Om Idang bercerita tentang awal terjadinya musik hingga timbulah musik blues, yang muncul akibat perbudakan, sehingga musik blues ini disebut-sebut sebagai the human nature voices karena memang nada-nadanya keluar dari lubuk hati yang paling dalam, daririntihan kesedihan para budak. Hingga akhirnya berkembang menjadi gospel, swing, funk, rock, sampailah pada jazz.

Menurut Om Idang, musik jazz itu adalah wujud apresiasi kebebasan berekspresi lewat not, musik yang menyiratkan apresiasi keikhlasan, musik penuh improvisasi, dan bukan musik yang glamor. Om Idang bercerita tentang mengapa musisi jazz di mancanegara sana kalau bermusik jazz selalu memakai jazz dan setelan rapi ala pendeta dan pengkhotbah, ia bercerita kalau pada zamannya yang berpakaian seperti itu adalah orang yang sangat dihormati di kalangannya, sedangkan para musisi jazz saat itu hanya para budak maka agar mereka sedikit dihormati mereka memakai setelan ala mereka. Nah mengapa musisi sekarang condong seperti itu, karena itu sudah tradisi. “Tapi tidak semua musisi jazz seperti itu, buktinya saya.” Tukas Om Idang melucu.

Bagi Idang Rasjidi, musik jazz itu adalah musik yang jujur. Karena dalam jazz dituntut melahirkan improvisasi-improvisasi yang dinamis, dan segi kejujurannya adalah ketika kita berimprovisasi maka kita tak akan pernah memainkan sesuatu yang sama dari wujud improvisasi itu, oleh karenannyalah musik jazz itu jujur. Paparnya kalau improvisasi bisa diulang-ulang, namanya bukan improvisasi karena sudah diatur, maka namanya teknik atau teori. Improvisasi itu banyak wujudnya mulai dari suara alami mulut manusia atau yang disebut scatting atau blues scating (karena beradaptasi dari musik blues) hingga dari instrumen musik jenis apapun. Bahkan improvisasi yang paling mendasar bagi Om Idang yang ia aplikasikan pada keyboardnya dipelajari di Amerika sana dengan nama Idang Rasjidi’s Chord.

Menurut Om Idang pula, jazz itu keluar dari irama hati pemainnya. “Jazz yang ngikuti pemainnya, bukan pemain yang ngikutin jazz.” Tegas Om Idang. Bagi Om Idang jazz itu emang my soul banget, sampai-sampai jazz itu seakan merasuk di setiap pembuluh darahnya.
“Emang berbakat banget.” Tukas seorang peserta workshop, ya betapa tidak, hampir semua instrumen musik yang jazzy bisa ia mainkan. Memang pada akhir acara dia membuka kelas musik apa saja yang dikelompokan dalam beberapa kelompok instrumen, perkusi, bass, piano dan gitar.

Memang acara kemarin bermanfaat banget, kita bisa mendapat bermacam ilmu gratis dari seorang guru besar. Mengapa tidak, memang nyatanya Idang Rasjidi ini merupakan guru hampir seluruh musisi jazz di Indonesia bahkan muridnya dari luar negeripun ada. Sebut saja Tompi, Dewa Budjana, Syaharani, dan siapa aja deh.

Dia juga bercerita, kalau orang awam mau belajar musik, apalagi yang jazz itu mudah banget. “Yang pertama harus kita lakukan adalah menjiwai dulu apa itu jazz. Ketika kita suka musiknya, kita dalami, kita resapi bagaimana musiknya, ketika kita sudah bisa mendalami kita coba goyang, ketika kita sudah bisa goyang ngikuti beat –nya kita coba pukul-pukul tangan, meja, hentakkan kaki atau apalah yang bersuara. Baru coba kita pegang alat. Itu kalau emang pingin cepet main jazz.” Cerita Om Idang sambil berpolah jenaka.

Memang musisi ini suka melawak, tak jarang penonton dibuat tertawa dengan tingkahnya yang lucu atau mimik mukanya yag jenaka, tak jarang juga ia memainkan nada-nada yang nakal sehingga mengocok perut penontonnya.

Di akhir acara penonton seperti mendapat durian runtuh, penonton bebas belajar alat musik apa saja yang ia mau sepuasnya dan gratis pula. “Padahal dengan seorang musisi ternama lho, apa ga untung banget tuh?” jelas MC yang mengoceh pada akhir acara. “Memang kami merasa seperti disambar petir awalnya, melihat Om Idang yang ganas gitu. Tapi sebenarnya ia begitu karena ia kecewa dengan Indonesia, dan Om Idang pingin kalau nantinya kita sebagai generasi muda bisa memperbaiki ini semua, walaupun lewat musik.” Tutur seorang pemain perkusi dari Yogyakarta yag bercerita awal karirnya belajar dengan Idang Rasjidi.

Memang, menurut saya Idang Rasjidi tak hanya seorang musisi saja. Tapi juga seorang pahlawan bagi negeri ini, karena jasanya membangun bangsa lewat musik.Terima kasih Om Idang…

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker