FestivalNews

Imaginari Festival, Jazz & Photography

Beberapa potongan iklan pertunjukan seni menghiasi dinding pengumuman Rumah Darmint, di Tebet Utara, yang tidak jauh dari Redaksi Wartajazz.com. Tapi banyak dari pengumuman itu tidak jelas, bahkan agak aneh. Bahkan Koran The Daily IF yang dibagikan gratis juga banyak memuat sindiran yang akan membuat kita tersenyum selain fakta-fakta aneh yang disajikan.

Ya, Imaginary Festival adalah semacam konsep tentang konsep kegiatan atau festival yang diselenggarakan ditempat yang imaginer. Mengambil tema “Forbidden, Forgotten, Forsaken”, Jakart@2008 – seperti tahun-tahun sebelumnya – mengadakan sejumlah kegiatan diberbagai tempat, mengisi ruang-pertunjukan maupun ruang publik.

Adalah pameran Foto mengenai Nias yang dibuka dengan penampilan Trio Jazz, Renee van Helsdingen (piano), Rudi ‘Aru’ Zulkarnaen (acoustic bass) dan Benny Mustafa van Diest (drums) yang hadir di Rumah Darmint, Kamis (14/08) malam.

Sejumlah nomor standard bercorak swing dan bebop disajikan memenuhi ruangan yang diiisi sketsel-sketsel pameran dengan koleksi foto hitam-putih yang menarik. Beberapa nomor yang disajikan antara lain “Born Free”, yang diambil dari album Luluk Purwanto dan “Minority”.

Sesaat intermission, Rudi Aru yang juga aktif dalam komunitas Klab Jazz Bandung ini menjelaskan. “Saya baru tahu lagunya tadi. Wah gila juga nih”, ujarnya menjelaskan bahwa ia harus membaca dan mempelajari lagu yang akan dimainkan sesaat sebelum pertunjukan dimulai.

Ery, salah satu undangan yang hadir – bekerja di pusat kebudayaan Italia, sempat bergumam disebelah Wartajazz.com dan mengatakan, ‘Jago juga nih orang!’, memuji penampilan Rudi yang selain aktif menjadi anggota Imam Pras Quartet juga memiliki grup bernama 4Peniti.

Renee sendiri yang tampil memukau, dengan santai memainkan jari-jemarinya pada bilah-bilah piano. Sesekali ia menjelaskan kegiatan Festival, bahkan sempat mengundang performer contemporary dance – yang menggunakan musik Bobby McFerrin – untuk tampil. Jazz disini dikemas sangat cair, jauh dari kesan kaku, meskipun pada lagu ‘Minority’ terdengar seperti sebuah sindiran.

Pukulan khas brush stick milik sang maestro Benny Mustafa, tentu sebuah catatan tersendiri. Cool, barangkali kata yang tepat untuk menggambarkan gaya permainan sang Oom. Ingatan penulis langsung beranjak pada rekaman Djanger Bali saat ia tampil bersama Jopie Chen (alm), Bubi Chen, Jack Lesmana (alm) dan Maryono (alm). A truly living legend!.

Bagaimana dengan pamerannya? Sangat menarik. Ia menjadi latar dari musik jazz yang dimainkan. Seolah ada pesan bagaimana seharusnya kita mengapresiasi dulu dan kekinian. Foto-foto yang dipamerkan, dari beberapa fotografer, merupakan koleksi Museum der Kulturen di Basel, Swiss dari periode 1893 hingga 1985. Sebuah foto berukuran sangat besar yang menjadi latar seperti terlihat di foto ini menggambarkan pasangan Suami istri dalam pakaian Biasa di Nias Tengah. Pameran foto akan berlangsung hingga 28 Agustus mendatang.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker