News

17an di Sabuga Bandung

Ketika penulis memasuki pusat kota Bandung sekitar pukul 9.30 pagi, beberapa instansi pemerintah terlihat sedang menggelar upacara bendera dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-63. Sama halnya ketika memasuki komplek Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB Bandung. Lapangan di sebelah timur gedung juga terlihat masih dipakai untuk upacara.

Ketika memasuki gedung, suasana dan aktivitasnya kelihatan berbeda. Ada beberapa titik kesibukan. Di bagian koridor dalam gedung, terlihat beberapa stan merchandise sedang mempersiapkan produk – produknya yang akan dipajang serta booth informasi panitia. Di bagian dalam gedung, panitia beserta anggota dari beberapa band yang akan tampil pagi itu terlihat lalu lalang di antara panggung dan ruang kontrol. Mereka semua pada pagi itu tengah melakukan persiapan akhir penyelenggaraan Sabuga Jazzfest for Freedom 2008 yang sesaat lagi siap digelar.

Kru Wartajazz.com sesaat setelah mempersiapkan stan yang menjual CD Jazz dan Merchandise

Programnya sendiri terdiri dari 2 sesi festival. Pertama pada pukul 10.00 – 14.00: Sabuga Jazzfest Part I menampilkan Blue Note, David Manuhutu & Friends, 4AM, saratuspersen, Jendela Ide Percussion, Papat Gulipat. Dalam sesi ini juga digelar pementasan sekaligus kompetisi beberapa band jazz yang terdiri dari siswa – siswa SMA. Sesi keduanya digelar pada pukul 19.00 – 22.00: Sabuga Jazzfest Part II menampilkan Agung Prasetyo & Friends ( Yogya ), Adi Darmawan & Agam Hamzah ( Jakarta ), Koko Harsoe ( Bali ), Riza Arshad & Friends ( Jakarta ), Karinding Collaborative Project ( Bandung ), Irwansyah ( Medan ) feat Slamet Gundono ( Solo ). Di antara sesi – sesi tersebut, pada pukul 15.30 – 17.30 juga digelar pementasan Modjembe Stomps The Ground – Jendela Ide Percussion in Concert 2008.

Acara dibuka sekitar pukul 10.30 dengan menampilkan Blue Note yang semua anggotanya terdiri dari siswa – siswa SMP. Satu kesempatan langka kalau anak – anak tersebut sudah mulai mengenal musik jazz dan dengan percaya diri yang tinggi tampil di atas panggung. Memang masih terlihat sedikit kaku, namun mereka sudah berupaya untuk memamerkan karya mereka sendiri dengan cukup baik. Mereka terdiri dari Janus (saxophone), Satria (Keyboard), Rudi (bass) dan seorang drummer. Salut untuk Blue Note. Semoga di waktu mendatang, mereka bertambah solid dan berkembang.

Contrast (Bandung)

Dihadapan “juri” Imel Rosalin (pianis), Dwi Cahya Yuniman (Klab Jazz) dan Venche Manuhutu (gitaris) tampil 4 band SMA. Mereka antara lain adalah Stereotitude, Contrast, Inspiration dan Mahesa. Sebenarnya kalau dibilang band competition kurang pas mungkin, karena pesertanya hanya 4 kelompok. Namun kesempatan ini juga masih bisa terbilang langka. Di Indonesia, tidak banyak siswa – siswi SMA yang tampil dengan musik jazz. Malah kalau penulis amati, penampilan mereka tidak kalah dengan para seniornya. Bahkan ada yang tampil dengan format akusik, nge-swing dan cukup baik dalam berimprovisasi (Contrast).

Penampilan berikutnya adalah kelompok Saratuspersen. Sebelas orang tampil di atas panggung dengan membawa seperangkat instrumen musik tradisional dan modern. Seperti yang diduga sebelumnya, mereka tampil dengan gaya world beat. Campuran antara musik jazz, klasik, soul maupun musik etnis, baik Sunda dan Bali. Setelah itu, tampil pula David Manuhutu Trio, Jendela Ide Percussion, Papat Gulipat dan sesi pertama tersebut ditutup oleh penampilan 4AM, kelompok jazz muda yang mulai digemari oleh pecinta musik jazz di Bandung. Penampilan mereka sendiri mengingatkan penulis kepada Medeski, Martin & Wood.

Di sesi malam hari, penonton sedikit dikejutkan dengan penampilan Sekda Jawa Barat Lex Laksamana yang setelah tampil pidato membuka event ini langsung dilanjutkan duet vokal – piano bersama Imel Rosalin dengan melantunkan ‘When I Fall In Love’. Duet dadakan tersebut kemudian disusul dengan penampilan duet yang lain, yaitu Agam Hamzah (gitar) dan Adi Darmawan (elektrik bass). Meskipun hanya tampil berdua saja, intensitas permainan mereka terasa padat, kental dan cukup ekspresif. Di sana sini muncul nada – nada harmoni yang saling bersahutan. Penulis melihat penampilan Agam, mungkin termasuk sampai gaya pakaiannya, sedikit banyak mencerminkan gaya gitaris jazz legendaris John McLaughlin.

Adi Darmawan & Agam Hamzah

Agung Prasetyo Quartet

Dari Yogyakarta diwakili oleh Agung Prasetyo Quartet. Di Yogyakarta, nama bassis ini bisa dikatakan telah menjadi salah satu tulang punggung bagi para pemain jazz muda dari Yogyakarta. Agung dalam kesempatan ini didukung oleh Dona (saxophone), Deo (gitar) dan Ajip (drum). Mereka menampilkan beberapa koleksi standard seperti ‘Turnaround’, ‘Naima’ dan ‘Cherokee’. Sayang, penampilan mereka kali ini kurang berani dalam hal eksplorasi materi lagunya. Masih banyak didominasi dengan gaya bebopnya.

Koko Harsoe

Selanjutnya masih ada gitaris dari Bali yang sudah mengeluarkan 2 album, Koko Harsoe. Tampil bertiga, Koko dibantu oleh Helmi (bass) dan Ivan (drum). Sebagai komposisi pembuka Koko memainkan salah satu komposisinya yang diambi dari album pertamanya ‘Mainan’ dan dilanjutkan dengan ‘Stella By Starlight’ yang aransemen dan improvisasinya dibuat dengan cantik. ‘Morning Dance’ menutup penampilan mereka yang segar pada malam itu.

Karinding Collaborative Project

Karinding Collaborative Project menyusul Koko Harsoe dan teman – temannya dengan mengusung warna musik yang sedikit berbeda. Mereka terdiri dari lima musisi muda dari Bandung yang sejak awal sudah didukung dan difasilitasi oleh penyelenggara event ini sendiri, Jendela Ide. Bintang (perkusi), Jalu (bass), Tesla (gitar) dan Awenk (perkusi, suling) dan Yudi (kecapi). Ada semangat segar tercurahkan di antara mereka terhadap kebutuhan untuk belajar, bereksplorasi dan berkreasi. Rata – rata, masing – masing anggota kelompok ini mempunyai kemampuan skill penguasaan instrumen yang cukup memukau apalagi dikaitkan dengan usianya yang masih fresh.

W/H/A/T Quartet

Salah satu kelompok yang ditunggu panulis adalah pentolan dari simakDialog, Riza Arshad. Kali ini Ija, begitu sapaan akrabnya, tidak membawa band yang sudah go internasional tersebut. Sepertinya dalam kesempatan ini tersirat Ija memperkenalkan salah satu proyeknya. Bisa jadi namanya adalah W/H/A/T Quartet. Personilnya antara lain adalah Sandy Winata (drum), Sri Hanuraga (piano, keyboard), Indrawan Tjhin (bass) dan Ija sendiri bermain synthesizer. Karakter musiknya juga terlihat sedikit berbeda dengan simakDialog maupun Trioscapes. Kesempatan berimprovisasi, skill dan penjiwaan setiap personil dalam formasi ini lebih dikedepankan. Yang terlihat agak ganjal adalah kalau ada dua pemain keyboard dalam kelompok ini. Namun sepertinya ada pembagian tugas. Hanuraga sepertinya lebih terfokus dalam bermain piano (meskipun malam ini dia bermain synthesizer juga) dan Ija lebih menonjolkan warna elektriknya.

Sebagai penutup seluruh rangkaian event ini adalah penampilan Irwansyah bersama Ki Slamet Gundolo, seniman serba bisa dari Solo. Kolaborasi spontan menarik ini sayangnya diberi waktu dipenghujung acara yang waktunya sudah mendekati tengah malam.

Kembali ke awal cerita di depan tadi, barangkali generasi muda saat ini mulai memaknai kemerdekaan dalam arti yang luas. Sebagian besar peserta atau pun panitia Sabuga Jazzfest for Freedom 2008 bisa jadi pada pagi harinya tidak mengikuti upacara bendera. Namun lebih menekankan nilai dan esensi kemerdekaan itu sendiri. Dalam hal ini adalah bebas berekspresi melalui sarana musik. Musik jazz sendiri sarat akan muatan nilai kebebasan, anti penindasan, kemerdekaan dan tentunya juga diikuti dengan tanggungjawab. MERDEKA!!

Related Articles

One Comment

  1. Menurut saya, Karinding Collaborative Project paling berkesan.

    Musik & performancenya sangat unik,
    disertai canda tawa dari playernya sendiri,
    hal itu mungkin menunjukan mereka sangat menikmati performancenya,
    mereka mampu memberikan aura segar & bersemangat kepada penonton,

    Salut 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker