News

Laporan pandangan mata konser Salamander Big Band di Bandung

Semakin mendekati waktu dimulainya pagelaran perayaan tahun ke dua atas keberadaan Salamander Bigband, semakin penuh pengunjung yang hadir di BP Bumi Sangkuriang muda-dewasa-tua sebanyak lebih dari 400 orang, dan tidak terasa tiba-tiba Devy Ferdianto muncul di pentas lalu membuka sambutan diantaranya mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung atas keberadaan Salamander Bigband selama ini juga ucapan terima kasih atas kehadiran perwakilan Goethe Institut DR. Marla Stukenberg – saat ini menjabat Director of Goethe-Institut Mumbay, dan Mr. Kitirat Panupong the First Secretary of Royal Thai Embassy, tidak lama segera Devy Ferdianto membalikkan badan menghadap kepada para pemain bigband untuk memimpin, lalu repertoire Take The “A” Train pun membuka pagelaran, ya pada saat yang bersamaan mengalir perasaan rasa bangga karena saat itu kita sedang menyaksikan sebuah pagelaran bigband jazz dengan setting memang benar-benar format bigband terdiri atas 5 saxophone, 5 trombone, 5 trumpet, 1 piano, 1 gitar, 1 bass, 1 drum namun terlebih kita bangga karena dimainkan oleh anak bangsa Indonesia khususnya bigband orang Bandung.

Penonton pun terus berdatangan sampai menjelang penyajian akhir bagian ke satu sampai-sampai banyak yang tidak kebagian tempat duduk, hadir pula malam itu Syaharani sebagai penonton. Saking padatnya penonton pada malam itu, diantara jeda Devy Ferdianto berucap: “terimakasih atas kehadiran pada acara ini…luar biasa penuh dan ramainya hadirin malam ini …semoga event-event jazz yang lain akan lebih ramai lagi”.

Penampilan Salamander Bigband pada malam itu pada umumnya terlihat lebih memiliki rasa percaya diri, pada umumnya musisi tampil lebih baik, lebih kompak dan cukup menjiwai arti dari citra rasa sebuah bigband, repertoire 2-3 “Hello” karya Lionel Richie dan “Jump”, dengan vokal Gail Satiawaki, diteruskan repertoire 4-5 “Comes Love” dan “To Close to Comfort” vokal Nenden Syintawati, repertoire “Hard Sock Dance”, dan “Honeysuckle Rose”, Imelda Rosalin piano dan vokal, Spain dimainkan secara irama latin dengan Icha pada percussion dan Brury Effendy Trumpet, repertoire 8 It Had Better be Tonight, penyajian akhir bagian ke satu adalah lagu yang terpilih terbanyak pada poling request di www.klcbs.net dari 5 judul yang ditawarkan (Techno Pop, One Note Samba, Travelin’ Light, Birdland, My Foolish Heart) ternyata pilihan jatuh kepada karya Bob Mintzer “Techno Pop”, pengunjung sangat puas atas sajian ini.

Walau pada akhir-akhir bagian pertama menjelang “break” penyajian lagu demi lagu agak membosankan kemungkinan salah satunya dikarenakan kurangnya ruang solois istrumentalis dan pada bagian lagu dengan vokalis sesekali menjadi sangat menjemukan.

Setelah break, pertunjukan kembali dibuka dengan “Hunting Wabbits”, penampilan intro sangat memukau dan menyenangkan, sebuah pilihan yang tepat sebagai pembuka bagian ke-2. diteruskan dengan penampilan solois Billy pada saxophone membawakan karya Chrisye – “Cintaku” diaransemen Jim Martin untuk bigband. Repertoire ke-3 “Don’t Know Why” dinyanyikan Baby Astheria. Dilanjutkan dengan menampilkan vokalis Nenden Syintawati pada All of Me, dilanjutkan Repertoire ke-5 pada bagian ke-2, That’s Life . Repertoire selanjutnya menampilkan bintang tamu Trisno pada Tenor saxophone, My One and Only Love dengan piano dan vokal Imel Rosalin , Moonlight in Vermont, selanjutnya Trisno memainkan clarinet pada Ain’t Misbehavin’. Tiga Repertoire terakhir They Can’t Take That Away From Me ..duet vokal Gail-Nenden, Mack The Knife vokal Gail Satiawaki, dan ditutup, Crazy Little Things Called Love dengan vokal Gail Satiawaki.

Penampilan bagian ke-2 ini, secara umum terlihat mereka mencoba tampil lebih semarak,… sayang penampilannya seperti sebuah band besar memainkan lagu-lagu ‘easy listening’ terutama pada bagian vokal, namun juga pada kebanyakan lagu-lagu instrumental, ya seperti penyajian untuk acara “dinner” atau “wedding”, lalu apa yang harus mereka perbuat… kiranya harus diperhatikan pada moment2 apa mereka tampil, kiranya mereka harus lebih cermat menampilkan pemilihan repertoire – repertoire termasuk gaya dan irama yang mendukung elemen2 kreatif agar pada malam itu Salamander Bigband dapat mempertontonkan kebolehannya lebih prima dan bernilai apresiatif pada sebuah performing ‘jazz event’.

Namun demikian, disini kita tetap harus bersyukur dan patut menghargai betapapun mereka memiliki komitmen dalam pengembangban musik jazz khususnya bigband dimana setiap hari Senin malam atau Rabu siang mereka melakukan latihan rutin secara intensif.

Kontribusi: Nazar AT Noeman, pengelola dan pemilik Radio KLCBS 100.4 FM Bandung

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker