News

The Sparrow Quartet: Suara-suara Organik

Oleh Nyak “Ubiet” Ina Raseuki

Beberapa malam berselang, di sebuah gedung teater bersahaja di sebelah Timur kota Madison (Wisconsin) saya menonton, mendengar dan menghayati sebuah kelompok musik dawai berawak empat. Susunan alat musik mereka mungkin kurang lazim, yakni dua banjo, sebuah biolin dan sebuah cello. Salah seorang pemusik, satu-satunya perempuan di antara mereka, berbanjo sekaligus bernyanyi. Mereka adalah kelompok berempat ‘Abigail Washburn & The Sparrow Quartet.’ Kunjungan mereka ke Madison adalah bagian dari tur mereka ke sekujur Amerika Utara.

Panggung mereka berlatar hitam dengan empat kursi kayu bagi pemain. Di atas sejajar kursi-kursi pemain tergantung empat lampion merah. Tanpa aba-aba pengantar, tepat jam delapan, keempat pemusik masuk panggung dan pertunjukan mulai. Berlangsung padat selama dua jam dan dengan jeda lima menit, pertunjukan itu diseling dengan beberapa penjelasan pendek tentang musik, dan seakan tiba-tiba berakhir tanpa saya sadari. Di sebelah saya duduk sepasang penonton muda, yang menghayati pertunjukan sambil sesekali menggoyang-goyangkan anggota tubuhnya.

Dalam ruang teater untuk 900-an orang yang terisi separuh itu, saya memilih tempat duduk di baris ke delapan dari depan panggung, dengan harapan dapat menikmati suara musik akustik mereka dengan baik. Meski alat musik diberi alat-alat penguat suara, namun sang pengatur (insinyur) di belakang papan pengatur suara telah menghasilkan efek akustik yang menyamankan telinga saya. Suara kedua banjo, biolin dan cello, masih mengeluarkan sifat-sifat asli alat-alat tersebut. Selain itu nada-nada yang dihasilkan bersih, jernih. Suara alamiah.

Abigail Washburn & The Sparrow Quartet sudah menghasilkan dua rekaman CD. Mereka terdiri dari Abigail Washburn (banjo dan vokal), Béla Fleck (banjo), Casey Driessen (biolin), dan Ben Sollee (cello); Béla juga bertindak sebagai produser rekaman ini. Musik mereka terpengaruh dari berbagai sumber, terutama old-time dan bluegrass, musik dari jantung Amerika. Dua jenis musik ini, secara umum mempunyai karakteristik petikan banjo cepat dengan ritme yang ajek dan nada berapitan. Begitu juga dengan biola: gesekan nada rapat, cepat, seperti melagukan kalimat tanpa jeda nafas. Dua pemetik banjo menggunakan dua teknik berbeda yakni old-time, clawhammer (petikan ke bawah) dan bluegrass, three-fingered picking atau Scruggs style (petikan ke atas). Selain itu, musik mereka juga mendapat pengaruh dari nyanyian Cina, terutama nyanyian daerah Sichuan. Abigail pernah menetap di Cina. Ketika ia kembali lagi ke Amerika, dan memulai karir musik, ia mulai memasukkan pengaruh musik yang ia alami di sana. Abigail sendiri menyatakan, musik mereka Americana, atau roots music, yakni campuran berbagai musik yang tumbuh di Amerika, dari Appalachian folk, rhythm and blues, Native American, Cajun, bluegrass, gospel, jazz dan seterusnya. Bila didengar secara sepintas, mungkin seseorang akan mengatakan musik mereka esoteris. Namun, tidak demikian bila kita sudah menyimak sungguh-sungguh beberapa gubahan mereka.

Lagu ‘A Fuller Wine,’ misalnya, seperti lagu populer pada umumnya, terdiri dari bait-bait yang diulang-ulang. Ada tiga bait. Di antara bait diberikan jembatan instrumental. Keempat alat musik memainkan bagian gubahan secara bergantian atau bersama-sama. Variasi keempat alat musik dan nyanyian adalah perbandingan intensitas ritme rapat, cepat, seperti rentetan nada yang ‘berlari,’ dengan sahut-menyahut, dan agak senyap. Yang berbunyi hanya banjo Abigail dan nyanyiannya, pada setiap awal sebuah bait. Pada beberapa bagian, biolin atau cello digesek cepat, menghasilkan bunyi perkusif. Kadang-kadang, biolin atau cello juga menciptakan nada bernilai panjang, yang terjalin dengan ritme rapat dan cepat banjo Béla. Seperti sebuah percakapan yang dilakukan melalui alat musik. Dalam lagu ini, dan beberapa lagu yang lain, suara Abigail sangat jernih. Proyeksi suaranya kuat, tajam. Ia terus memindahkan wilayah nada bawah (dada) dan atas secara bergantian, dan sesekali menggunakan yodeling.

Sebenarnya tak ada yang terlalu mengejutkan dari gubahan mereka. Perbendaharaan unsur musikal mereka adalah hal yang biasa digunakan pemusik lain. Namun yang membuat telinga saya tenang adalah, meski mereka memasukkan berbagai unsur dan pengaruh, tak ada kecanggungan gubahan. Maksudnya, bahwa, tak perlu kita mengingat bahwa akar mereka bluegrass, atau old-time, atau nyanyian Sichuan, jazz, atau musik klasik. (Béla, meski memulai karir dengan bluegrass, memiliki kelompok permanen bernama Béla Fleck & The Flecktones, yang dikenal terpengaruh jazz. Adapun Ben menghabiskan waktu lama memainkan repertoar cello klasik). Keempat pemusik ini, sedikit atau banyak, telah bekerjasama dengan berbagai pemusik dari berbagai latar belakang dan jenis musik, baik pemusik Amerika maupun mancanegara, seperti Béla, bekerjasama dengan pemusik India, Afrika, dan seterusnya.

Gubahan ditulis bersama-sama, meski ada beberapa lagu yang ditulis Abigail atau Béla sendiri. Sebuah musik hibrid memang dapat menjadi sangat canggung, apabila percampuran dipaksakan. Namun, mungkin secara kebetulan, bluegrass menggunakan lima nada, demikian juga dengan nyanyian Sichuan yang mereka pilih. Mungkin, keempat pemusik sudah terbiasa bergaul dengan berbagai kultur musik. Mungkin mereka memang menguasai dan memahami musik, baik secara teknis maupun esensi musikal. Buat saya, mungkin mereka sudah tidak canggung dengan bunyi, struktur, bangunan musik mereka sendiri.

Penonton yang duduk di sebelah saya tampak menikmati pertunjukan. Pada waktu jeda, mereka katakan pada saya bahwa mereka tak terlalu mengikuti bluegrass, namun setelah membaca sebuah preview, mereka tertarik untuk menonton. Selain itu mereka mengatakan, bahwa mereka adalah pendengar musik-musik populer pada umumnya. Kini mereka ingin mendengarkan musik Amerika. Saya kembali bertanya, bukankah musik rock, jazz, MTV, pop, adalah musik Amerika. Betul, jawab mereka, namun ini musik Amerika yang belum terpolusi, terutama oleh bunyi elektrik yang hingar. Rupanya, tak hanya makanan organik yang digandrungi penduduk Amerika masa kini, namun juga musik ‘organik.’ Inilah musik yang intim, di mana mereka dapat menghayati unsur-unsur musikal yang terkecil sekalipun.

Sesuai dengan blognya http://www.ubiet.com/

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker