FestivalNews

Hitam Putih International 2008: World Music for the Earth

Menciptakan sesuatu terkadang sulit, namun pasti lebih sulit menjaga sesuatu yang sudah diciptakan. Menjaga agar kegiatan bermusik dapat secara konsisten diselenggarakan hingga kali ke-6 bagi Hitam Putih International 2008 yang tahun ini mengambil tema World Music for the Earth atau World Music untuk bumi, merupakan sebuah prestasi.

Festival yang dibuka pada hari Kamis (25/10) menghadirkan sejumlah penampil dari dalam dan luar negeri. Tengok saja sejumlah anak-anak muda berpakaian bak penyanyi rap atau r&b mengisi panggung. Mereka menamakan diri Urban Rhythm. Didepannya berdiri seorang pria berkacamata Reno Deza Paty sedang memainkan alat musik gambus yang sangat populer dalam khasanah musik melayu. Mereka menyajikan 3 buah lagu yaitu “Pamuko Adat” yang oleh Reno dijelaskan sebagai Pasukan Musik Konyol Anak Daratan yang bertutur tentang tentang perbedaan paradigma antara generasi tua dan muda.

dsc_0024.jpg

Sementara lagu kedua berjudul “Buluh cina”, sebuah desa wisata yang mendunia. Yang menarik pada lagu ini, Reno dkk membuatkan dengan irama samba. Irwansyah Harahap – pentolan grup Suarasama yang hadir saat itu bahkan memberi komentar bahwa karya ini layak disebut “Riau Samba”.

Konsep Kebangkitan Melayu yang menjadi motto dari kelompok musik yang beraliran World Music dan kontemporer ini mereka coba aktualisasikan dengan menghadirkan “Zapin Gaul”. Sentuhan musik modern menyeruak disana-sini, sehingga nomor yang sangat akrab ditelinga ini – meminjam istilah Irwansyah – bertransformasi menjadi sesuatu yang baru. Urban Rhythm pun diyakini sebagai salah satu kelompok musik pendobrak musik melayu di Riau khususnya Pekanbaru.

dsc_0008.jpg

Tema keseluruhan dari penampilan mereka adalah “kenapa yang muda kurang ajar, karena yang tua kurang tunjuk ajar”. Menyimak penampilan mereka, rasanya perlu diberikan waktu yang lebih bagi Reno dan kawan-kawan diwaktu mendatang.

Natural Rhythm Ensemble

Kelompok Natural Rhythm Ensemble yang merupakan persembahan SMA 1 Negeri Riau menyusul setelahnya. Kelompok yang baru berdiri 8 Agustus 2008 ini dibidani oleh Eka Saputra, seorang musisi kenamaan Riau. Prestasi kelompok ini juga terbilang lumayan, selain menjuarai lomba kolaborasi musik melayu tingkat SMA dengan karya ‘Neo Soleram’, terlihat dari permainan individu mereka ada yang mencoba mengarah pada corak permainan jazz, meskipun diakui oleh Jimmy Wijaya (violin) dan Ari Syahputra L (bass) hal tersebut bukan hal yang mudah buat mereka. Namun keberanian untuk mencoba mengawinkan musik melayu dengan musik modern layak diacungi jempol.

Natural Rhythm Ensemble

Natural Rhythm Ensemble membawa cukup banyak instrumen keatas panggung. Selain peralatan modern seperti Bass, Gitar, Drum dan Keyboard adapula gambus, talempong, Kolintang, mangkok tembaga, panci dan genggong. Perkusi afrika seperti conga dan jembe juga mereka mainkan. Hanya sayang, suara seksi gesek disebelah kanan panggung tidak terlalu jelas terdengar dipengeras suara.

Klasik Gong Kampar

Berikutnya, Klasik Gong asal Kampar. Karya-karya mereka berangkat dari kesadaran dan kerisauan akan lingkungan. Kelompok yang penuh dengan peralatan perkusif ini memukau penonton tatkala memukul alu nan bersahut-sahutan dengan instrumen kendang dan drum, bak call-and-response dalam jazz. Disela-sela permainan mereka sering terdengar pula gurauan dalam bahasa daerah.

Klasik Gong Kampar

Usai penampilan mereka ada kelompok SMA Plus dengan “New Age barisan Plus”-nya. Dengan kostum kuning-kuning, 4 orang duduk ditengah panggung dan memegang marawis. Dibelakangnya ada seorang yang memainkan gambus, seorang vokalis dan 2 pemain perkusi plus seorang pemarin akordeon.

New Age barisan Plus

Kelompok ini lahir dari kegiatan ekstrakurikuler yang inisiatif dan gagasannya datang dari Khairul Asrar, pendidik yang juga seorang pemain gambus. Kreativitas kelompok ini adalah mengedepankan khasanah musik tradisional melayu Riau baik yang di pesisir maupun daratan, sambil berupaya berkreasi dengan penggarapan masih berada dalam ranah tradisi.

Lalu berturut-turut Rajabhat Nud Bunleng group asal Thailand dan Sanggar Tasik Bengkalis yang menutup hari pertama festival yang berlangsung selama tiga hari mulai 23-25 Oktober 2008 ini.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

One Comment

  1. terima kasih utk warta jazz yg telah mempublikasikan kami, Natural Rhythm Ensemble. Semoga kita dpt bersua kembali dalam event2 musik lain yang diselenggarakan di ranah negeri ini.
    amin.
    salam hangat dari kami

    NATURAL RHYTHM ENSEMBLE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker