News

Suarasama di Hitam Putih World Music Festival 2008

Salah satu syarat untuk dapat mengekplorasi musik etnik kita harus faham benar musik etnik yang ada, demikian salah satu komentar Irwansyah Harahap, musisi sekaligus etnomusikolog dari Medan tatkala diwawancara oleh MC dimalam pertama pagelaran Hitam Putih World Music Festival 2008 di Bandar Serai, Pekanbaru, Riau.

Irwansyah Harahap Suarasama Medan tengah diwawancara MC

Keesokan harinya (24/10), ia membuktikan ucapannya. Berbekal sebuah alat musik gambus Irwansyah Harahap tampil bersama sang istri Rithaony Hutajulu pada vocal dan sejumlah musisi lainnya, memukau penonton yang sebahagian besar anak-anak muda kota Pekanbaru dan sekitarnya.

Ada dua pendekatan konsep musik Suarasama yaitu musik kontemporer dengan pendekatan world music dan yang kedua musik dan tari tradisi sumatera utara.

Irwansyah Harahap & Rithaony Hutajulu - Suarasama Medan

Pembuktian atas teori dan konsep diatas tertuang dalam karya-karya yang mereka sajikan malam itu. Lagu pertama misalnya “Bahtera” merupakan sebuah lagu dedikasi pada Nusrat Fateh Ali Khan dengan mengangkat tradisi Qawwali, sebuah musik yang kerap disebut sebagai musik sufi, yang dalam tingkat tertentu mampu mencapai “spiritual ecstasy” dalam sufisme. Rithaony yang pernah belajar dengan almarhum Nusrat mampu menyihir penonton untuk memberikan applaus yang meriah tatkala lagu ini usai ditampilkan.

suarasama-hitamputih-124.jpg

Selanjutnya mengalir lagu Perang yang disusul oleh-oleh dari Medan, “Selayang Pandang” yang dirangkai dengan “Zapin Rindu”. Tatkala lagu ini baru selesai dimainkan, seoarang anak muda maju kedepan panggung dan membawa sebuah kertas bertuliskan Lebah. Rupanya ia meminta lagu tersebut untuk dibawakan. Sejatinya Suarasama sudah berniat menyelesaikan pertunjukan apalagi kedua MC sudah tiba dipanggung dan bersiap menutup. Rupanya teriakan lagi, lagi dan lagi terdengar cukup keras dan akhirnya mengalirlah “Lebah” sebagai encore pertunjukan Hitam Putih World Music Festival di hari kedua.

***

Menyimak Suarasama, saya seperti diingatkan pada hal serupa tatkala mendengarkan musik Krakatau. Bedanya pijakan Krakatau memang 100% di jazz. Sementara Irwansyah dan kawan-kawan tak melulu mengulik Jazz atau lebih tepatnya, konsentrasinya bukan semata pada jenis musik yang kaya improvisasi tersebut.

suarasama-hitamputih-036.jpg

Hal itu mungkin dipengaruhi oleh kajian dan ketertarikannya pada konsep musik dunia yang dipelajarinya selama di University of Washington di Seattle, Amerika Serikat. Bukan sebuah kebetulan sang istri juga belajar di kampus yang sama tatkala keduanya menyelesaikan studi S2 bidang Etnomusikologi.

Irwansyah Harapan banyak menggali konsep musik dunia seperti kebudayaan musik afrika, Timur Tengah India, Sufi Pakistan, Eropa Timur, dan Asia Tenggara. Itu dinyatakan jelas dengan instrumentasi yang mereka hadirkan diatas panggung malam itu.

suarasama-hitamputih-041.jpg

Inilah personel Suarasama malam itu, Irwansyah Harahap memainkan gambus, gitar akustik elektrik, Rithaony Hutajulu (vokal), Syainul Irwan (vokal, harmonium), Horas Panjaitan (mandolin, jembe Afrika), Muhammad Amin (jembe Afrika, dumbek Timur tengah, perkusi), Andre Farouk (symbal set dan snare drum), Ophiryanto (hasapi Toba, backing vokal).

Suarasama telah merilis tiga album yaitu Fajar diatas Awan (1988), Rites of Passage (2002) dan Lebah (2008). Album pertama mereka masuk dalam album Music of Indonesia 20: Indonesian Guitar yang diterbitkan oleh Smithsonian Folkways Recordings 1999 di Washington DC. Tepat 10 tahun kemudian, album tersebut kini diterbitkan kembali oleh Drag City, Chicago USA dalam bentuk CD dan LP dan dipasarkan kebeberapa dunia. Album pertama dan kedua dianggap sebagian kalangan memiliki nuansa jazz sehingga layak untuk mendapatkan apresiasi.

suarasama-hitamputih-295.jpg

Sejumlah festival telah disambangi oleh kelompok ini, beberapa diantaranya Sharq Taronalari Festival di Uzbekistan (2001), Sufi Soul Festival di Pakistan (2001), Asian Composers Leage di New Zealand (2007), dan Sabuga Jazz Festival (2008) di Bandung. Sepertinya kelompok ini masuk dalam percaturan musik dari Indonesia yang diperhitungkan di kancah internasional.

Anda yang tertarik pada Suarasama tidak berkesempatan menonton Hitam Putih World Music Festival dapat membeli album tersebut dengan menghubungi sales@wartajazz.net

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

6 Comments

  1. SUARASAMA tampil di akhir acara pada malam kedua Pagelaran Hitam Putih World Music Festival 2008, penampilan musik yang sederhana tapi dapat memecahkan suasana. Dan pada hari terakhir mereka tampil kembali pada pagelaran tersebut tepatnya di penampilan ke 3.

    Sepetinya para JAZZ-er harus mendengar musik ini, tidak hanya membaca artikel yang hanya sepenggal. Anda akan tergoda dengan permainan musik yang dilakukan oleh Irwansyah dan Team.

    Jika anda mendengar musik pada album pertama yang berjudul FAJAR DI ATAS AWAN yang berdurasi cukup panjang dengan 9 track, dimana track pertama berjudul fajar di atas awan, kemudian berurutan sang hyang guru, lebah, zapin shirat/ghazal ingatan diri, silang bertaut, playing gambus, zapin rindu, habibullah dan merangkai warna. Anda akan terbawa kedunia tertentu yang dapat membawa anda tertegun mendengarkannya.

    Suara Rithaony yang khas berpadu dengan gambus yang dimainkan oleh Irwansyah di “fajar diatas awan, lebah dan merangkai warna” dan sesekali Irwansyah juga melantunkan suaranya. Suara Syainul Irwan tidak kalah khasnya pada lagu Zapin shirat yang terdengar sangat bagus.
    Kolaborasi Syainul Irwan dan Rithaony pada lagu Zapin Rindu, “wow”, anda harus mendengarnya sendiri dan berikan pendapat anda tentang album ini.

    Belum lagi dengan album-album yang lain seperti RITES OF PASSAGES dan LEBAH yang belum dapat dibahas satu persatu.

    Pesan saya, dengarkan resapi dan anda harus cari dan dengarkan album dari suarasama.

  2. Keberanian suarasama utk terus exist bermusik dijalur world music selama lebih dari satu dekade pantas mendapat appresiasi sendiri; pendekatan sound akustik (dgn memakai instrument2 musik tradisi), kekuatan konsep musikal, dan mampu merangkai kekayaan harmoni tradisi timur ke-dalam karya2 musik nya merupakan prestasi ter-sendiri.

    Saya cuma punya kaset album Fajar diatas Awan; dari waktu saya beli pertama 3 tahun yang lalu sampai sekarang, saya tidak pernah bosan utk mendengarkan-nya.

    Sukses terus,

  3. suarasama adalah satu band jazz lokal yang sangat saya sukai.
    apalagi salah satu dari personilnya adalah abang saya(ophiryanto)…
    a.k.a. epenk………..
    keep jazzy for suarasama and keep in touch in jazz world and if you all can, you all can go international.
    GBU

  4. Album Suarasama sangat layak dikoleksi, tapi sayang sampai sekarang tetap susah kalau cari di negeri asalnya sendiri…kapan ya ada perusahaan rekaman lokal yang fokus produksi genre album seperti ini ???

  5. Perusahaan rekaman ini tidak akan bs bertahan kalau tidak mendapatkan pembeli yang loyal. Banyak produk bagus dari negeri kita yg tidak bs dipertahankan karena pembelinya yang kurang. Jika ada yang tertarik membeli album Suarasama kami menjualnya, tinggal hubungi Redaksi WartaJazz.com di 021-8310769 (Jakarta) atau 0274-512561 (Yogyakarta)

  6. Teruskan shohib, jgn lupa 1/3 mlm memang waktu yg tepat utk Suarasama menuliskan KaryaNya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker