FestivalJak Jazz FestivalNews

Boi Akih

Beberapa tahun lalu, ada kabar kalau seorang penyanyi di Belanda namanya mulai dikenal oleh para pecinta musik jazz internasional yang membawakan beberapa lagu rakyat dari Indonesia. Sedikit demi sedikit kabar tersebut mulai terungkap. Ada sebuah album dengan judul “Lagu – Lagu”, yang di dalamnya ada tembang ‘Naik – Naik Ke Puncak Gunung’, ‘Tanase’, ‘Hitam Manis’, ‘Lembe – Lembe’ dan tujuh lagu Indonesia lainnya’.

Ada sesuatu yang berbeda dalam aransemennya, something else. Sudah barang tentu, lagu – lagu yang sudah sering kita dendangkan sejak kecil tersebut terasa aneh karena melodi lagu – lagu tersebut sudah dimodifikasi dalam improvisasi yang unik. Boi Akih, nama band tersebut. Dalam album tersebut para pemainnya adalah Monica Akihary (vokal & voice), Niels Brouwer (gitar), Sean Bergin (penny wistle saxophone), Ernst Reijseger (cello), Eric Calmes (bass) dan Victor De Boo (drum).

Akihary, nama yang cukup populer di kawasan Maluku. Benar saja, ternyata Monika adalah seorang keturunan dari Maluku. Dalam album “Lagu – Lagu” tersebut, Monica memang ingin kembali mengenang masa kecilnya sebagaimana dia sudah akrab dengan beberapa lagu daerah Maluku dan daerah nusantara yang lain, meskipun dia sendiri lahir dan besar di Belanda. Dalam penggarapan album tersebut, Monica begitu menjiwai suasana secara umum perkampungan di Ambon. Canda tawa, kehangatan, tradisi berbalas pantun masyarakat Indonesia bergaung dalam benak Monica. Musik, lirik dan suasana merupakan sumber inspirasi album yang dikeluarka tahun 2005 ini.

Apakah dia hanya dikenal melalui album “Lagu – Lagu” saja? Ternyata tidak. Setahun sebelumnya, dia sudah membuat album “Uwa I”. Sebuah album dengan kombinasi tradisi musik dari Indonesia, India dan Eropa di satu sisi dan musik jazz di sisi lain. Album tersebut direlease oleh sebuah label jazz terkemuka dari Jerman, Enja, pada tahun 2004.

Sebenarnya, Boi Akih sudah mengeluarkan album pertamanya di tahun 1996 dengan judul “Boi Akih”. Kemudian disusul dengan Album “Above the Clouds, Among The Roots” di tahun 2000. Sementara album terakhirnya adalah “Yalelol”. Dalam album keluaran Enja Records ini Monica hanya didampingi oleh Niels Brouwer (gitar, siul).

Boi Akih, kurang lebih artinya Puteri Akih, mempunyai karakter yang cukup khas. Nuansa pekat, pengombinasian elemen dari beberapa tradisi musik, bahasa dalam liriknya, permainan warna musik yang bisa menggambarkan suasana emosional dan improvisasi yang unik menjadi salah satu kelebihan dari kelompok ini.

Satu hal lagi yang mengagetkan adalah bahwa Monica pernah mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta pada tahun 1989 – 1990 dengan mengambil studi Seni Rupa jurusan Patung.

Boi AKih akan tampil dalam dua kali pertunjukan di Jak Jazz Festival 2008.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker